Penulis: Nur Khusnah Diah Widowati
Dadaku berdegup kencang. Dengan pikiran yang tak karuan, aku memandang putriku yang berada dalam gendongan. Ia tidur terlalu lelap. Dari kemarin sore, ia hanya tidur dan sama sekali tak mau menyusu. Padahal, usianya baru dua bulan. Aku merasa hal itu bukanlah hal yang wajar.
Subuh tadi, aku membawanya ke instalasi gawat darurat (IGD), tapi dokter jaga mengatakan tak ada masalah pada putriku. Aku tak percaya. Perasaanku terus berkata bahwa putriku sedang tidak baik-baik saja. Dan, di sinilah sekarang aku berada. Mengantre di rumah sakit untuk bertemu dengan dokter anak.
“Karaissa Nabila Nadwa,” perawat memanggil nama putriku. Aku beranjak masuk ke ruangan Dokter Louisa, dokter spesialis anak. Kujelaskan sekilas tentang kondisi Nabila, lalu kuletakkan ia di atas tempat tidur agar dokter bisa memeriksa.
“Bu, ini kejang!” pekik Dokter Louisa seketika saat melihat mata Nabila yang melirik-lirik ke atas. Dokter Louisa meraba ubun-ubun Nabila. “Bu, ini pendarahan otak! Nabila harus dirawat di PICU sekarang juga!”
*
Aku mencubit lengan berulang kali, berharap ini semua hanya mimpi. Hatiku teramat perih melihat Nabila dibawa ke ruang pediatric intensive care unit (PICU), tapi entah kenapa aku tidak bisa menangis.
“Yah, ini hanya mimpi, kan? Ini nggak nyata, kan?” tanyaku pada suami.
Ia langsung memelukku. “Sabar, Ma.... Kita pasti bisa lalui ini semua.”
Seketika, aku tersadar bahwa ini bukanlah mimpi. Aku menangis sejadi-jadinya. Perasaanku campur aduk tak karuan. Aku terus menyalahkan diriku. Namun, aku juga merasa Allah sangat tidak adil. Mengapa harus Nabilaku yang mengalami ini?
“Bapak, Ibu. Berdasarkan hasil CT-scan, Nabila mengalami pendarahan otak yang sangat parah. Seluruh otak kirinya mengalami pendarahan dan hampir menggeser otak kanannya,” jelas Dokter Satra, dokter yang menangani Nabila di PICU. CT-scan adalah prosedur pemeriksaan yang menggunakan teknologi sinar-x dan teknologi komputer untuk menghasilkan gambar organ, tulang, dan jaringan lunak di dalam tubuh. Dokter Satra mengatakan bahwa Nabila memerlukan pemeriksaan lanjutan oleh dokter bedah saraf untuk bisa dioperasi.
"Tapi, Nabila bisa sembuh, kan, Dok?" tanyaku penuh harap.
"Karena pendarahan yang sangat parah, kemungkinan sembuhnya kecil, Bu. Kalaupun Nabila berhasil dioperasi, kemungkinan besar ia akan mengalami kecacatan seumur hidup."
Seketika, aku merasa langit runtuh menimpaku. Dadaku teramat sesak. Aku tak bisa membayangkan jika aku harus kehilangan putriku, tapi aku juga tidak sanggup membayangkannya hidup dalam keterbatasan.
Ya Allah, apa yang harus kulakukan?
*
Aku memandang Nabila yang tengah terbaring lemah. Dua hari Nabila dirawat di PICU, namun tak ada perubahan. Berbagai alat masih menempel di tubuh mungilnya. Matanya berulang kali melirik ke atas, pertanda ia masih sering kejang. Napasnya hanya bergantung pada alat. Ia tak mampu bernapas spontan.
“Nak, kau pasti sangat menderita. Maafkan Mama, Sayang...,” bisikku lirih pada Nabila.
Aku yakin bahwa Nabila pasti merasakan sakit yang luar biasa, namun ia tak dapat mengungkapkannya. Aku tidak bisa menerima. Penderitaan ini terlalu berat untuknya.
Di depan ruang PICU, aku kembali menangis sejadi-jadinya. Aku merasa apa yang dikatakan Dokter Satra kemarin benar adanya. Tidak ada harapan hidup untuk Nabila. Kalaupun bisa bertahan, Nabila akan mengalami kecacatan dan itu artinya ia akan menderita seumur hidup.
Di rumah, aku dan suami berdiskusi panjang tentang kondisi Nabila. Akhirnya, kami memutuskan untuk melepaskan Nabila. Kami tidak ingin Nabila menderita terlalu lama.
Tak ingin mengulur waktu, aku dan suami bergegas kembali ke rumah sakit. Kami jelaskan semua keputusan kami pada Dokter Satra. Aku dan suami meminta Dokter Satra untuk menghentikan semua pengobatan dan melepas semua alat bantu Nabila.
“Baik, kalau itu memang keputusan Bapak dan Ibu. Silakan tandatangani berkas-berkas ini,” jawab Dokter Satra singkat. Beliau tak banyak bicara, pun tidak menentang keputusan kami. Dengan berlinang air mata dan tangan bergetar, kami menandatangani berkas-berkas tersebut.
“Silakan masuk, jika Bapak dan Ibu ingin bertemu Nabila.” Dokter Satra mempersilakanku dan suami untuk masuk ke ruang PICU.
Kupegang tangan mungil Nabila sambil memandang wajahnya yang cantik. Kuciumi tangan Nabila. Dengan derai air mata, aku meminta maaf padanya berulang kali.
“Nabila..., maafkan Mama & Ayah. Maafkan, Nak.... Kami tidak ingin melihatmu sakit terlalu lama. Berbahagialah, Nak.... Bahagialah dengan dunia barumu setelah ini.”
*
Dering telepon memecah lamunanku. Seperti yang kuduga, itu adalah telepon dari rumah sakit. Dokter meminta aku dan suami untuk segera datang.
“Ini keajaiban. Kondisi Nabila membaik. Tidak ada kejang, saturasi membaik. Bahkan, Nabila bisa bernapas mandiri tanpa alat,” jelas Dokter Satra.
Aku tertegun. Apakah ini mimpi? Semalam, aku baru saja melepaskan Nabila. Namun, tiba-tiba kini keadannya jauh berbeda.
Dokter Louisa, dokter anak yang pertama menangani Nabila, datang menghampiri kami. Beliau marah, sangat marah kepada kami.
“Mengapa Bapak dan Ibu menghentikan semua pengobatan?! Mbok yang ada usaha gitu lo, Pak, Bu! Ikhtiar dulu! Nabila ini butuh bapak dan ibunya yang terus berjuang, bukan yang menyerah begitu saja!”
Aku merasa mendapat tamparan yang sangat keras. Sebuah tamparan yang membuatku sadar. Orang tua macam apa aku ini? Begitu mudahnya aku berputus asa, padahal Nabila sendiri masih ingin berjuang!? Ia masih ingin diperjuangkan!
Ya Allah..., ampunilah kami.
Kuciumi tangan Nabila. “Maafkan Mama dan Ayah, Nak.... Maafkan.... Ayo, kita berjuang bersama. Nabila nggak sendirian. Ada Mama dan Ayah yang akan selalu temani Nabila...,” bisikku lirih dengan berderai air mata.
*
Raungan sirine ambulans memecah keheningan malam. Pukul sebelas malam, Nabila dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar untuk dilakukan operasi. Ya, Nabila harus segera dioperasi. Tempurung kepalanya harus dibuka agar otaknya tidak membengkak.
“Kami tidak bisa menjamin keberhasilan tindakan ini, risikonya besar. Kalaupun Nabila sembuh setelah operasi ini, separuh badannya akan lumpuh akibat pendarahan otaknya yang terlalu parah. Tetapi, Ibu jangan khawatir, biasanya bayi lebih cepat pulih dibanding orang dewasa. Ibu berdoa saja agar semua dilancarkan,” jelas Dokter Donny, dokter bedah saraf.
Kuciumi Nabila sebelum kuantar ke ruang operasi. Tepat pukul delapan pagi, operasi dimulai. Aku tak henti merapal doa untuk kesembuhan Nabila.
Setelah delapan jam menanti, akhirnya aku diberi informasi bahwa operasi telah selesai dan berjalan lancar. Namun, Nabila masih dalam kondisi kritis dan koma. Dokter mempersilakanku untuk melihat Nabila di PICU, tapi aku merasa belum sanggup.
Hari berlalu. Tiga hari sudah Nabila berada di PICU usai dioperasi. Biasanya, hanya suamiku yang rutin menjenguknya. Namun, hari ini, aku memberanikan diri untuk melihat Nabila. Aku sangat merindukannya.
Namun, rasa rinduku berubah menjadi kesedihan luar biasa. Aku melihat mata putriku masih saja terpejam. Kepalanya yang kecil tampak tenggelam dalam balutan perban. Selang berisi aliran darah kulihat menancap di kepalanya. Badannya terlihat lebih kurus. Aku tidak bisa menerima, mengapa kondisi Nabila masih saja kritis dan koma?
Ya Allah..., Nabila sudah berjuang sejauh ini. Mengapa Engkau masih membuatnya tidur? Ya Allah, bangunkanlah dia, Ya Allah.... Atau, Engkau ambil saja kembali agar dia tidak merasakan sakit lagi.
*
Enam belas hari sudah Nabila di rawat di ruang PICU setelah operasi. Kukira, semua akan berjalan mudah saat Nabila mulai membuka matanya sepuluh hari yang lalu. Namun, lagi-lagi ia harus berjuang. Kali ini, ia harus bertarung melawan pneumonia, peradangan pada paru-paru yang disebabkan oleh infeksi. Kata dokter, pemakaian ventilator yang lama membuat Nabila mengalami pneumonia. Nabila berkali-kali mengalami gagal napas dan demam tinggi. Wajahnya pucat, badannya lemas, dan matanya selalu melirik ke atas.
Jangan tanya lagi bagaimana perasaanku. Rasa takut, cemas, dan bingung menghantuiku setiap hari hingga ASI-ku tak mau keluar setetes pun. Entah ke mana perginya ASI-ku yang dulunya melimpah ruah. Beruntung, ada teman-temanku yang bersedia mendonorkan ASI untuk Nabila.
*
“Suhu badannya naik lagi, Bu. Ini karena pneumonia. Kami akan lakukan penguapan dengan nebulizer lagi pada Nabila,” jelas dokter yang sedang memeriksa kondisi Nabila di ruang perawatan. Ya, delapan belas hari setelah operasi, Nabila akhirnya keluar dari PICU dan dipindahkan ke ruang perawatan biasa.
Aku hanya mengangguk lemah. Aku sengaja tidak banyak bertanya pada perawat maupun dokter. Aku bahkan tidak tahu apakah pendarahan di otaknya sudah sembuh atau belum. Jujur, aku takut mendengar diagnosis-diagnosis baru Nabila. Aku merasa lebih baik tidak mengetahuinya.
Aku juga tidak banyak menjawab pertanyaan dari keluarga pasien lain ketika menanyakan kondisi Nabila. Aku tidak ingin banyak berbicara. Meskipun hatiku sebetulnya ingin menangis & menjerit, tapi aku memendamnya.
Kupandang Nabila. Ia tampak jauh berbeda dibanding dulu. Badannya kurus. Tatapannya sering kosong, ia juga tak pernah tersenyum padaku. Bahkan, aku harus mengajarinya lagi bagaimana cara menyusu. Ya Allah, apakah dia akan seperti ini selamanya? Apakah aku sanggup merawatnya?
*
Nabila pulang! Hari ini, dua puluh delapan hari setelah operasi. Harusnya, aku merasa senang karena Nabila bisa berkumpul lagi dengan kakak, kakek, dan neneknya di rumah. Tetapi, aku lebih merasa khawatir karena kondisi Nabila yang menurutku belum banyak berubah.
Sesampainya di rumah, apa yang kukhawatirkan terjadi. Suhu badan Nabila tinggi dan ia berulang kali kejang. Matanya sering melirik ke atas. Aku pun kembali membawa Nabila ke IGD.
“Ini hidrosefalus, Bu. Ada penumpukan cairan di otaknya. Kita harus segera mengeluarkan cairan itu agar tidak menekan otak,” jelas dokter setelah membaca hasil CT-scan Nabila.
Apa yang kutakutkan terjadi, yaitu mendengar diagnosis baru Nabila. Hidrosefalus, tak asing aku mendengarnya. Yang kutahu, anak-anak dengan hidrosefalus memiliki ukuran kepala yang besar.
“Apakah kepala Nabila nanti akan membesar, Dok?” Kuberanikan diriku bertanya pada dokter.
“Tidak, Bu. Hidrosefalus Nabila terjadi karena efek pendarahan otak, jadi kepala tidak akan membesar. Apalagi, Nabila sudah ditangani sejak awal. Ibu tidak perlu khawatir.”
Tak menunggu lama, dokter segera menyiapkan ruang operasi untuk Nabila. Dokter akan melakukan tindakan pemasangan External Ventricular Drain (EVD). Tulang tengkorak Nabila akan dilubangi, lalu dimasukkan sebuah alat berbentuk selang menuju tempat di mana cairan otak menumpuk. Lalu, cairan akan dikeluarkan dari dalam kepala melalui alat tersebut.
“Bu, mohon maaf, ruang perawatan kelas satu dan dua sedang penuh. Jadi, nanti setelah tindakan, Nabila akan dirawat di kelas tiga.”
Aku mengangguk lemah. Yang kutahu, ruang perawatan kelas tiga merupakan bangsal besar dengan puluhan tempat tidur berjajar. Apakah aku dan Nabila akan bisa nyaman?
*
“Dulu, aku juga sama sepertimu, Mbak. Aku tidak terima dengan diagnosis anakku. Aku terus menyalahkan diriku. Akhirnya, seiring waktu, aku bisa menerima. Aku yakin, kita dan anak-anak adalah orang-orang pilihan dari Gusti Allah, yang nanti juga akan Gusti Allah mampukan untuk melalui ini semua,” ucap seorang ibu, lalu mengelus punggungku.
Air mataku mengalir begitu saja. Aku sangat lega mendengarnya. Akhirnya, aku merasa ada orang-orang yang bisa memahami perasaanku. Ruang perawatan kelas tiga, yang awalnya aku sangat khawatir akan kenyamanannya, tapi kini aku sangat bersyukur bisa berada di sana. Berkumpul dengan sesama orang tua yang senasib, kami saling berbagi keluh kesah dan mendukung satu sama lain. Para perawat juga sangat baik, mereka terus menyemangati kami. Aku pun mulai semakin terbuka, baik tentang kondisi Nabila maupun tentang perasaanku sendiri.
Aku memandang Nabila yang terbaring di ranjang. Kondisinya terlihat lebih baik, meskipun aku merasa bentuk kepalanya agak aneh. Namun, Nabila tak lagi kejang. Ia juga mulai bisa menatapku lagi, meskipun sesekali matanya masih melirik ke atas.
*
Aku melangkah perlahan menyusuri jalan bersama Nabila yang berada di stroller. Berjalan di sekitar rumah adalah kegiatan rutin kami di sore hari. Aku dan Nabila sangat menikmatinya. Terkadang, aku berjalan sambil mengingat masa-masa perjuangan kami beberapa bulan lalu yang terasa amat berat dan melelahkan. Aku bersyukur, saat ini kami bisa berada di titik ini. Setelah tindakan EVD, kondisi Nabila terus membaik. Di usianya yang enam bulan, Nabila kini tumbuh sehat, berat badannya naik pesat, dan ia sangat ceria.
“Ini anakmu yang kemarin sakit ya, Mbak?”
Pertanyaan itu menghentikan langkahku. Ternyata, ia adalah tetangga jauhku.
“Anakmu nggak jadi idiot, kan?” tanyanya lagi.
Aku terhenyak.
“Kamu melihatnya bagaimana, Bu? Menurutmu, anakku idiot, nggak!? Saya doakan semoga anak dan cucu ibu sehat semua, nggak jadi idiot seperti ibu!” Aku bergegas mendorong stroller Nabila dan pergi meninggalkan ibu itu.
Sesampainya di rumah, aku menangis sejadi-jadinya. Tetangga dekatku sangat sayang kepada Nabila. Namun, tetangga jauh dan orang asing selalu memandang aneh Nabila. Setiap bertemu, mereka selalu berbisik-bisik sambil menatap Nabila. Mereka tidak tahu bahwa sikap mereka sebetulnya sangat menyakiti hatiku. Aku selalu memilih diam. Tetapi, perkataan ibu tadi membuatku tak mampu lagi menahan rasa sakit di hati.
*
Dering telepon menghentikan kegiatanku yang tengah mengajar di kelas.
“Mbak, Nabila sekarang dibawa ibu ke IGD! Tadi dia kejang sampai biru,” jelas tetanggaku di seberang telepon.
Aku bergegas menuju rumah sakit. Di IGD, aku melihat Nabila tergolek di atas ranjang dan dikelilingi oleh beberapa dokter.
“Bu, Nabila saat ini kondisinya kritis dan mengalami gagal napas. Kami sudah melakukan CT-scan dan hasilnya terlihat ada penumpukan cairan lagi di kepala. Nabila harus segera menjalani tindakan EVD, lalu nanti dilanjutkan dengan pemasangan VP-shunt,” jelas dokter.
Dokter menjelaskan padaku bahwa tindakan EVD yang akan dilakukan sekarang sama seperti sebelumnya, yakni membuat sebuah lubang di tulang tengkorak, lalu cairan dari dalam otak dikeluarkan secara langsung menggunakan alat khusus. Setelah itu, Nabila akan menjalani masa pemulihan. Setelah kondisinya stabil, Nabila akan menjalani tindakan operasi bedah untuk memasang Ventriculoperitoneal Shunt (VP-shunt). Kateter kecil akan ditanam secara permanen dari otak menuju rongga perut. Dengan begitu, cairan otak bisa mengalir ke rongga perut sehingga tidak menumpuk dan menekan otak.
Segera kutandatangani berkas-berkas persetujuan tindakan. Meskipun ini bukan operasi pertama yang pernah Nabila lakukan, namun sebenarnya hatiku perih membayangkan kepala anakku akan dilubangi lagi. Namun, mengingat kondisi Nabila yang saat ini kritis, aku tak punya pilihan lain. Nabila harus selamat. Nabila harus hidup.
*
“Panjang umurnya serta mulia. Serta mulia.... Serta mu... li... a....”
Kubantu Nabila meniup lilin kue ulang tahunnya. Air mataku menggenang di pelupuk mata. Rasa haru menyeruak dalam dadaku saat melihat Nabila merayakan ulang tahun pertamanya setelah melalui perjuangan yang sangat panjang.
Aku hanya mengadakan perayaan kecil bersama keluarga karena Nabila baru saja pulang dari rumah sakit. Sepuluh hari setelah tindakan EVD, Nabila langsung menjalani operasi VP-shunt. Saat menjalani pemulihan di ruang PICU, Nabila juga sempat dua kali menjalani tindakan vena seksi di tangan kirinya, yakni tindakan pembedahan untuk memasukkan injeksi obat secara langsung ke pembuluh darah vena. Tindakan ini dilakukan karena seluruh tangan dan kaki Nabila bengkak akibat injeksi obat yang pekat. Tidak ada akses lagi untuk injeksi obat selain melalui seksi vena.
Karena itu, selain luka jahit di kepala, Nabila juga memiliki luka jahit sepanjang sepuluh sentimeter di lengan dan ketiak kiri. Luka-luka itu turut menjadi saksi dari perjuangannya yang luar biasa. Kembali pulih dan sehat menjadi kado terindah Nabila dari Sang Maha Kuasa di ulang tahun pertamanya.
*
Kondisi Nabila sangat baik setelah pemasangan VP-shunt. Ia sangat bersemangat dan ceria. Setelah berbulan-bulan menunggu karena daftar antrian yang teramat panjang, akhirnya aku berhasil membawa Nabila untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis anak sub spesialis tumbuh kembang. Untuk usia satu tahun, tumbuh kembang Nabila memang terlambat. Nabila belum mampu tengkurap ataupun berguling. Dia juga belum bisa duduk secara mandiri. Karena itu, dokter menyarankan Nabila untuk melakukan fisoterapi.
Kini, satu bulan sudah Nabila rutin mengikuti fisioterapi. Ia sangat bersemangat setiap menjalani sesi terapi. Membawa Nabila ke tempat terapi dua kali dalam seminggu telah menjadi sebuah rutinitas baru yang menyenangkan, karena aku bisa bertemu dan berkenalan dengan orang-orang baru yang seperjuangan denganku.
Hari ini, Nabila tidak masuk terapi karena demam. Aku mulai was-was karena suhu badannya amat tinggi meskipun sudah kuberi obat penurun demam.
“Ma, Nabila kejang!” pekik suamiku dari dalam kamar Nabila. Tanpa berpikir panjang, aku dan suami bergegas membawa Nabila ke IGD.
Sesampainya di IGD, dokter-dokter langsung menangani Nabila dengan cepat.
“Nabila mengalami gagal napas, Bu,” kata dokter. Aku merasa deja vu. Situasi ini persis seperti kejang Nabila terakhir kali. Namun, kali ini, hasil pemeriksaan darah Nabila menunjukkan ada infeksi dalam tubuhnya. Nabila akhirnya dirawat di ruang High Care Unit (HCU) dan menggunakan ventilator untuk membantunya bernapas.
“Bu, dari hasil CT-scan Nabila terlihat ada cairan yang menumpuk lagi di otak. Sebaiknya, Nabila dipasang VP-shunt kedua agar cairan bisa mengalir lebih lancar dan tidak menumpuk lagi.”
Aku terhenyak. Ya Allah, belum lama Nabila merasakan keceriaan, namun sekarang kepalanya harus kembali dibedah dan dipasang selang.
Namun, lagi-lagi aku tak punya banyak pilihan. Tumpukan cairan di kepala memang berbahaya. Tumpukan cairan itu dapat menekan otak dan menyebabkan kejang serta gagal napas, seperti yang dialami Nabila saat ini.
Ya Allah, hamba ikhlas Nabila menjalani operasi lagi, karena kehendak-Mu pastilah baik. Hamba mohon lancarkan operasinya. Bantu ia untuk lekas pulih seperti semula.
*
“Ma, Nabila bisa ngesot! Nabila ngesot!” seru suamiku yang girang melihat Nabila mulai ngesot, yakni gerakan seperti merangkak, namun hanya tangan yang digunakan untuk bergerak maju sehingga badannya terseret. Aku, anak pertamaku, serta bapak dan ibuku sontak bersorak sorai untuk menyemangati dan memuji Nabila. Orang lain mungkin terheran melihat kami begitu heboh melihat anak usia tujuh belas bulan ngesot, karena anak-anak lain seusia itu biasanya sudah aktif berlari ke sana kemari.
Tetapi, tak apa. Kami memang orang tua dari anak istimewa. Kami menghadapi perjuangan yang mungkin orang lain tak ketahui. Namun, kami juga punya kebahagiaan tersendiri yang orang lain mungkin tak dapat pahami. Salah satunya adalah kemajuan yang diraih Nabila. Sekecil apapun itu, sangatlah berarti bagi kami.
Begitu juga dengan operasi. Banyak orang mengasihani kami karena harus membawa Nabila ke ruang operasi berulang kali. Namun, kami memilih untuk bersyukur dengan semua yang telah kami alami. Terlebih, operasi VP-shunt kedua Nabila berjalan lancar dan kondisinya semakin baik setelah operasi. Nabila tampak jauh lebih bertenaga dalam terapi. Perkembangannya pun bagiku cukup pesat. Selain bisa ngesot dan berguling, Nabila yang sebelumnya hanya bisa makan bubur halus kini mulai bisa memakan biskuit, kerupuk, dan nasi goreng. Nabila juga sangat cerewet. Meskipun belum lancar berbicara, namun ia sudah bisa menirukan beberapa patah kata seperti mama, papa, kakak, dan ‘aaah’ yang berarti mbah. Oh, Nabila. Di mataku, kau sungguh luar biasa.
*
“Hu... hu... huaa....” Suara tangis Nabila menyambut kedatanganku di rumah sepulang kerja. Aku segera mendatangi Nabila di kamar, terlihat ibuku tengah berusaha menenangkannya. Aku mengamati Nabila yang masih menangis, aku merasa tangisannya berbeda dari biasanya. Ia seperti sedang menahan rasa sakit. Merasa ada yang aneh, aku memutuskan untuk membawa Nabila ke IGD.
“Sepertinya demam berdarah, Bu. Trombositnya turun,” jelas dokter setelah membaca hasil pemeriksaan Nabila.
Dahiku mengernyit. Nabila akhir-akhir ini memang sering demam. Namun, beberapa hari terakhir suhunya normal. Bahkan, saat ini pun suhunya juga normal.
“Apakah tidak dilakukan pemeriksaan CT-scan juga, Dok? Saya khawatir demamnya berasal dari sesuatu yang terjadi di kepalanya,” pintaku pada dokter.
“Saya rasa tidak perlu, Bu. Saya yakin ini demam berdarah, memang sekarang sedang musimnya.”
Aku sedikit kecewa mendengar jawaban dokter. Melihat riwayat Nabila dulu, menurutku wajar jika Nabila melakukan pemeriksaan CT-scan. Namun, aku menyetujui Nabila untuk dirawat di rumah sakit agar mendapat penanganan dan pengawasan dokter. Aku takut terjadi apa-apa bila Nabila dirawat di rumah.
Hari demi hari berlalu. Tak terasa, delapan hari sudah Nabila dirawat di rumah sakit. Sore ini, Nabila diperbolehkan pulang karena kondisinya dinilai dokter sudah stabil. Meskipun begitu, aku menyimpan sedikit tanda tanya. Mengapa Nabila terkadang demamnya masih saja muncul? Mengapa kini trombositnya telah naik, namun hemoglobinnya justru turun dari hari ke hari?
*
Tujuh belas hari sudah Nabila berada di rumah, namun selama tujuh belas hari pula ia demam. Tak tampak ada gejala lain seperti batuk, pilek, ataupun diare. Suhunya turun sesaat setelah minum obat, namun empat jam kemudian suhunya selalu merangkak naik. Meskipun demam, Nabila tetap ceria dan bermain seperti biasa. Namun, aku yakin ada yang tak beres. Malam ini, aku kembali membawa Nabila ke dokter.
“Dok, saya mohon lakukan pemeriksaan CT-scan pada Nabila. Saya khawatir terjadi sesuatu di kepalanya yang membuatnya terus demam.”
Akhirnya, dokter menyetujui permintaanku. Dokter melakukan pemeriksaan darah lengkap dan CT-scan pada Nabila.
“Bu, dari hasil tes darah, hemoglobinnya rendah dan leukosit tinggi, pertanda adanya infeksi. Dari hasil CT-scan, tampak ada abses,” jelas dokter. “Ibu tahu bisul? Benjolan yang berisi nanah. Seperti itulah abses. Namun, bisul ini berada di otak Nabila, tepatnya berada di area VP-shunt sebelah kiri,” lanjut dokter.
“Ya Allah. Lalu bagaimana, Dok? Apa yang harus dilakukan?”
“Operasi, Bu. Kita lepas VP-shunt yang sebelah kiri. Namun, karena hemoglobinnya sangat rendah, Nabila harus transfusi darah dulu sebelumnya.”
Akhirnya, Nabila pun menjalani transfusi darah sebanyak satu setengah kantong. Dokter juga meresepkan antibiotik dosis tinggi selama dua minggu. Setelah itu, baru dokter akan mengoperasi untuk mengambil VP-shunt sebelah kiri bawah, tempat di mana abses terjadi, lalu memasang VP-shunt baru ke kepala sebelah kiri depan.
Kukira, perjuangan panjang Nabila di rumah sakit telah usai. Kukira, aku hanya perlu fokus pada tumbuh kembangnya. Namun, rupanya, perjuanganku dan Nabila masihlah panjang. Allah masih ingin kami terus berjuang.
*
Sore ini, aku mengajak Nabila dan suamiku untuk berjalan-jalan mengendarai sepeda motor untuk mencari hidangan untuk berbuka puasa. Ya, tak terasa, bulan Ramadhan di tahun 2021 telah tiba. Selama pandemi, sebetulnya Nabila sangat jarang kuajak keluar. Setelah kejadian abses otak dan operasi penggantian VP-shunt kemarin, aku semakin berhati-hati menjaga kesehatan Nabila. Namun, sesekali aku mengajaknya berjalan-jalan di sekitar rumah agar tak bosan.
Di atas sepeda motor, aku mengelus-elus kepalanya sambil mengajak bicara. Ia sangat bahagia. Namun, tiba-tiba aku merasakan ada benjolan di kepalanya. Kuraba benjolan itu, ternyata tepat berada di tempurung kepalanya yang terbuka. Bagian tempurung ini memang sengaja dibuka saat Nabila menjalani operasi pertama kali, yakni untuk menangani otaknya yang mengalami pendarahan parah dan membengkak. Benjolan itu sendiri empuk, seperti berisi air.
Aku dan suami memutuskan untuk membawa Nabila periksa ke Dokter Yoyok, dokter spesialis bedah saraf di rumah sakit lain. Kami memutuskan untuk mengganti dokter karena merasa kurang puas dengan dokter sebelumnya. Kami datang ke Dokter Yoyok dengan membawa semua berkas rekam medis Nabila dari awal hingga akhir.
“Wah, masyaallah. Dengan semua riwayat ini, kondisi Nabila saat ini termasuk baik. Ia bisa tumbuh optimal, perkembangannya juga termasuk bagus. Namun, untuk benjolan itu, Nabila harus menjalani pemeriksaan CT-scan dulu untuk memastikan apa isinya,” jelas Dokter Yoyok setelah mendengar semua ceritaku dan membaca berkas-berkas Nabila.
Ternyata, hasil CT-scan menunjukkan bahwa selang VP-shunt sebelah kiri tersumbat sehingga cairan kembali menumpuk dan menimbulkan benjolan pada kepala Nabila. Dokter pun segera menjadwalkan operasi untuk mengganti VP-shunt tersebut. Ini akan menjadi operasi ketujuh yang dijalani Nabila. Aku harap, tak akan ada masalah lagi di kepalanya sehingga operasi ini menjadi yang terakhir kali.
*
Rupanya Allah benar-benar ingin menguji kesabaranku dan Nabila. Kukira, operasi ketujuh sudah cukup menyelesaikan masalah. Namun, di sinilah aku saat ini. Aku berada di rumah sakit untuk mendampingi Nabila yang baru saja selesai menjalani operasi bedah kepala yang kesebelas. Ya, sebelas kali.
Setelah operasi ketujuh, benjolan muncul lagi di kepala Nabila. Dokter kembali melakukan operasi untuk membetulkan VP-shunt. Namun, benjolan itu terus muncul meskipun dokter telah melakukan operasi perbaikan VP-shunt (VP-shunt repair) hingga lima kali. Ya, dalam kurun waktu lima bulan, Nabilaku telah lima kali merelakan kepalanya untuk dibedah. Lagi-lagi, aku berharap tindakan ini adalah yang terakhir untuk Nabila.
*
Operasi VP-shunt repair kelima berjalan lancar. Namun, sayang, setelah itu Nabila justru menunjukkan tanda penurunan kesadaran. Ia tak lagi ceria dan aktif. Nabila lebih banyak tertidur, bahkan makan dan minum pun ia lakukan sambil memejamkan mata.
Dokter Yoyok bingung dengan kondisi Nabila dan terus melakukan observasi. “Bu, sebaiknya kita ganti total saja VP-shunt kiri Nabila, kita ganti dengan VP-shunt dewasa.”
Aku sebetulnya sudah merasa sangat lelah dengan kata operasi. Enam bulan ini, waktuku lebih banyak habis di rumah sakit. Aku merasa waktu berjalan sangat lambat dan aku sangat lelah. Namun, apa daya. Melihat Nabila yang kini seperti putri tidur, aku juga sangat khawatir. Aku takut ia tak bisa bangun lagi.
*
Kutatap jam di dinding ruang tunggu operasi. Lima jam telah berlalu, namun operasi belum juga usai. Aku mulai cemas karena biasanya tak sampai selama ini.
“Keluarga pasien anak Nabila,” panggilan perawat memecah lamunanku. Ternyata, operasi telah usai dan Dokter Yoyok ingin bertemu denganku.
“Ternyata ada abses di otak Nabila, Bu. Saya tidak menduga karena selama ini absesnya tidak terlihat melalui CT-scan. Akhirnya, kami tadi tidak mengganti VP-shunt, tetapi melakukan tindakan EVD untuk mengeluarkan seluruh nanah dan cairan yang ada dalam kepala. Otak Nabila ternyata juga bengkak. Mungkin itulah penyebab Nabila terus tidur.”
Aku terkejut mendengarnya. Kukira, masalah abses tak akan muncul lagi. Namun, ternyata kali ini abses yang terjadi justru lebih parah.
“Lalu, bagaimana, Dok?” tanyaku cemas.
“Sementara akan terus kita observasi, Bu. Kita lihat bagaimana kondisi Nabila setelah tindakan EVD tadi.”
*
Bulan Ramadhan kembali datang. Aku ingin mengajak Nabila berjalan-jalan mencari hidangan berbuka puasa seperti dahulu, tapi apa daya, Nabila masih saja banyak tidur. Lima bulan sudah Nabila seperti ini. Tak ada lagi senyum ceria dan celoteh riangnya. Ia tampak seperti bayi yang hanya makan, minum, dan tidur. Hari ini, dokter akan melakukan operasi lagi.
Sebelumnya, dokter telah berkali-kali melakukan tindakan untuk membersihkan nanah dalam kepala Nabila. Namun, beberapa hari setelah dibersihkan, nanah itu kembali muncul. Bahkan, Nabila pernah menjalani tindakan dua hari berturut-turut untuk mengeluarkan nanah dari dalam kepalanya.
Akhirnya, dokter pun memutuskan untuk melepas VP-shunt sebelah kiri yang selalu bermasalah itu. Aku berharap, operasi ini akan membawa perbaikan kondisi pada Nabila.
*
“Allahuakbar, allahuakbar. Laa ilahailallahu allahuakbar.” Suara takbir berkumandang di mana-mana. Air mataku meleleh. Aku sangat bersyukur karena operasi Nabila berjalan lancar. Nabila juga pulih dengan cepat hingga akhirnya diperbolehkan pulang kemarin, tepat saat malam takbiran. Terimakasih, Ya Allah, akhirnya aku dan Nabila bisa merayakan Lebaran bersama keluarga tercinta.
Kupandang Nabila, ia tersenyum padaku. Ya, Nabila tak lagi menjadi putri tidur. Meskipun belum seaktif biasanya, namun kesadaran Nabila telah kembali. Benjolan dan nanahnya juga tak lagi muncul setelah VP-shunt sebelah kirinya diambil. Empat belas kali sudah Nabila menjalani operasi. Aku berharap Nabila sehat seterusnya hingga tak perlu menjalani operasi lagi.
*
Betapa kagetnya aku melihat ada benda yang keluar dari anus Nabila saat ia buang air besar. Kuamati benda itu. Ya Allah, itu VP-shunt!
Aku segera melarikan Nabila ke IGD. Dokter langsung meminta Nabila untuk berpuasa karena akan segera dilakukan operasi untuk mengeluarkan selang VP-shunt sebelah kanan yang terlepas dan keluar dari anus. Tindakan ini adalah tindakan darurat. Kata dokter, jika VP-shunt sampai keluar dari anus, berarti VP-shunt tersebut telah melubangi usus besar. Ya Allah, ini baru hari kelima Lebaran. Cobaan apa lagi ini?!
“Bu, operasi kali ini kami lakukan bersama dengan dokter bedah umum. Nanti perut Nabila akan disayat agak besar untuk melihat seberapa besar lubang yang terjadi di usus. Jika robeknya besar, ada kemungkinan akan dilakukan tindakan kolostomi,” jelas Dokter Yoyok. Beliau menjelaskan bahwa kolostomi adalah prosedur pembuatan lubang di perut yang berfungsi sebagai saluran pembuangan kotoran.
Penjelasan Dokter Yoyok membuatku sangat takut. Ini akan menjadi salah satu operasi yang paling mengerikan bagi Nabila. Ya Allah, kuatkanlah anakku menjalani semua ini.
Tepat pukul lima sore, Nabila memasuki ruang operasi. Aku tak henti merapal doa, meminta hasil yang terbaik untuk Nabila.
Tiga puluh menit berlalu, tiba-tiba Dokter Yoyok keluar dari ruang operasi. Aku terkejut melihatnya. Apa yang terjadi pada Nabila?
“Operasi sudah selesai, Bu. Alhamdulillah, tidak jadi dilakukan pembedahan perut karena selang VP-shunt nya bisa ditarik kembali lewat atas,” penjelasan Dokter Yoyok melegakan hatiku.
“Ini kasus langka, biasanya VP-shunt yang keluar dari anus tidak bisa kembali ke tempat semula. Namun, pada Nabila, selang VP-shunt bisa kembali ke tempat semula, jadi bisa ditarik dan dikeluarkan dari atas. Mudah-mudahan ususnya hanya lubang sedikit dan bisa menutup sendiri,” lanjut Dokter Yoyok. Seketika, aku merasa sangat lega.
Nabila pulih dengan cepat. Ia juga buang air besar dengan lancar. Perutnya juga tak kembung. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada maslaah pada ususnya. Aku yakin, keajaiban ini adalah hadiah dari Sang Maha Kuasa.
*
Hari-hari Nabila setelah semua VP-shunt nya dilepas berjalan dengan sangat baik. Kemunduran perkembangan yang kutakutkan ternyata tak terjadi. Kini, di usianya yang hampir enam tahun, Nabila semakin cerewet, ceria, dan bersemangat. Ia kembali melakukan hobinya, yaitu menyanyi dengan riang. Nabila juga kembali menjalani fisioterapi.
Hasil pemeriksaan CT-scan terakhir menunjukkan bahwa tidak ada lagi penumpukan cairan di otak Nabila. Sepertinya, otak Nabila sudah mampu menyerap cairannya sendiri dengan baik sehingga tak ada cairan yang menumpuk. Setiap tiga bulan, Nabila wajib menjalani CT-scan untuk melihat kondisi otaknya. Jika hasilnya terus membaik, dokter bilang akan menutup tempurung kepala Nabila.
Aku teringat betapa terpuruk diriku dulu saat mendengar bahwa Nabila akan tumbuh menjadi anak berkebutuhan khusus. Namun, melihat semangat Nabila, aku sangat bersyukur memiliki putri sepertinya. Apa yang ia hadapi bukanlah hal yang mudah. Tak hanya sekali, namun berkali-kali. Tetapi, Nabila tetap tumbuh menjadi gadis berhati lembut. Dengan ikhlas, ia terima dan hadapi semuanya. Dialah guru kecil yang mengajarkanku banyak hal tentang kehidupan. Aku selalu mencintainya, apapun kondisinya.
Aku juga ingin berterimakasih pada diriku. Terimakasih, engkau telah bertahan dan berjuang menghadapi masa-masa yang berat. Terimakasih, engkau telah belajar dari kesalahan dan terus berusaha menjadi lebih baik. Nabila pasti bangga telah memiliki ibu sepertimu.
Apa penyebab pendarahan otak yang dialami Nabila dulu? Begitu banyak orang bertanya tentang hal itu. Sejujurnya, aku juga tidak tahu. Begitu juga dengan dokter, mereka hanya mengatakan bahwa pendarahan tersebut terjadi secara spontan yang mungkin disebabkan oleh pembuluh darah Nabila yang mudah pecah.
. Hidup memang penuh misteri. Banyak hal terjadi dengan tiba-tiba, tanpa kita duga, dan tanpa kita tahu mengapa. Namun, kini aku sadar, tak semua pertanyaan bisa kita dapatkan jawabannya dalam kehidupan. Karena, sesungguhnya manusia memang tak mengetahui apa-apa, kecuali Sang Maha Kuasa mengizinkan kita untuk mengetahuinya. Yang perlu kita lakukan adalah menjalani apa yang Dia gariskan dengan sebaik-baiknya.
***