Penulis: Hajroon Jameela
“You never know how strong you are, until being strong is your only choice.” – Bob Marley
Namaku Farah. Umurku 32 tahun. Kata orang, aku adalah wanita yang kuat. Menurutku, aku bukan kuat, tapi hanya berusaha terlihat kuat. Aku ini sangat rapuh, serapuh cangkang telur. Meskipun rapuh, cangkang bisa melindungi isi telur. Sama seperti aku yang melindungi Dhifa, putriku.
“Kamu nggak pernah nangis, Far?” tanya seorang teman padaku.
Sebetulnya aku ingin sekali menangis. Namun, air mataku tak mau keluar. Mungkin dia malu. Atau jangan-jangan air mataku memang sudah kering. Entahlah. Meskipun tidak menangis, bukan berarti aku tidak bersedih. Karena yang menangis tak selalu bersedih, dan yang bersedih tak selalu menangis. Betul, bukan?
Aku adalah seorang single parent. Dulu, aku menikah saat masih cukup muda, di usia 20 tahun. Meskipun menikah di usia 20-an awal adalah hal yang sangat wajar di negara kita, kenyataannya tidak semua pasangan yang menikah muda sudah benar-benar siap. Aku dan ayah Dhifa adalah salah satu dari mereka yang belum siap. Pernikahan kami tidak berlangsung lama. Hanya seumur jagung.
Aku mengenal ayah Dhifa saat sedang duduk di bangku kuliah. Kami adalah teman satu kelas dan kebetulan rumah kos kami berhadap-hadapan. Karena ketampanan dan kegagahan ayah Dhifa, aku jadi jatuh cinta kepadanya. Beberapa kali aku curi-curi pandang saat berpapasan dengannya. Pucuk dicinta ulam pun tiba, ternyata dia juga tertarik padaku. Kami pun memutuskan untuk menjalin hubungan.
Kami berpacaran selama lebih dari empat tahun. Meskipun demikian, intensitas pertemuan kami tidak begitu sering. Aku dan dia memilih jurusan yang berbeda sehingga tak lagi berada di kelas yang sama. Kami juga memiliki circle pertemanan yang berbeda.
Meskipun tak banyak bertemu, hubungan kami bisa dibilang sangat langgeng. Aku dan ayah Dhifa sama-sama sudah kenal dengan orang tua masing-masing. Bukan hanya kenal, tapi juga dekat. Beberapa kali aku diajak ke rumah orang tuanya di kota sebelah. Sesekali aku juga mengajaknya ke kota tempat orang tuaku tinggal untuk bersilaturahmi. Kata orang, kami adalah ‘couple goal’.
Saat kuliah semester akhir, kami memutuskan untuk menikah. Alasannya klise, kami sama-sama merasa sudah menemukan orang yang tepat. Saat itu, ayah Dhifa sudah memiliki penghasilan, meskipun tidak begitu banyak. Namun, aku sama sekali tidak mempermasalahkannya. Aku memutuskan untuk menikah karena ingin hidup dengannya dan membangun rumah tangga bersama dari nol.
Tak lama setelah kami menikah, aku hamil. Aku memang tidak menunda kehamilan sama sekali. Saat mengetahui kehamilan itu, aku dan ayah Dhifa sungguh bahagia. Kami tak menyangka begitu cepat Allah menitipkan janin di rahimku. Namun, terbesit kekhawatiran di dalam hatiku. Aku masih kuliah dan sedang menyusun tugas akhir. Hamil sambil menyusun skripsi tentu bukan hal yang mudah untuk dijalani.
Kehamilanku bisa dibilang bukan kehamilan yang membahagiakan. Sejak awal, aku sudah mengalami banyak tekanan. Aku kerap merasa kesepian karena ayah Dhifa sering tidak pulang ke rumah. Katanya ada pekerjaan di luar kota. Kondisi ekonomi kami juga tidak begitu baik. Kami harus menghemat pengeluaran agar bisa bertahan hidup. Kadang kala, aku hanya makan satu kali dalam sehari.
Selain itu, aku harus begadang tiap malam untuk menyelesaikan tugas akhir. Pagi harinya, aku pergi ke kampus, menunggu dosen pembimbing seharian, naik turun tangga, bahkan harus kejar-kejaran dengan petugas administrasi. Belum lagi, dosen pembimbing bolak-balik menyuruhku untuk melakukan revisi. Rasanya aku ingin membuang jauh-jauh skripsiku. Aku ingin tiduran di rumah yang nyaman sambil nonton TV dan makan kudapan favoritku, seperti ibu hamil pada umumnya. Namun, aku bukanlah wanita yang bisa dengan mudah menyerah pada keadaan. Aku adalah wanita tangguh, begitu kata orang-orang.
Syukurlah aku berhasil lulus kuliah saat kehamilanku menginjak usia tujuh bulan. Namun, tak lama setelah diwisuda, aku mendapat kejutan tak terduga. Sebuah kejutan yang sangat menyakitkan. Ayah Dhifa mengkhianatiku!
Semua bermula saat aku mendapati SMS dari seseorang di handphone ayah Dhifa. Jadi telepon nggak nanti malam? Kurang lebih begitu bunyi SMS-nya.
Siapa dia? Kenapa ayah Dhifa harus meneleponnya nanti malam? Apakah urusan pekerjaan? Kenapa harus malam-malam? Apa mungkin ayah Dhifa berselingkuh? Pikirku saat itu.
“Nomor siapa ini?” tanyaku pada ayah Dhifa. Aku mengatur nada bicara agar tidak terdengar emosional. Padahal, jantungku berdegup sangat kencang. Dadaku juga terasa sesak.
“Nggak tahu…,” jawab ayah Dhifa santai. Jawaban aman untuk orang yang tertangkap basah.
Aku tidak menjawabnya lagi. Tapi, diam-diam aku menyimpan nomor tersebut di handphone-ku dan meneleponnya keesokan harinya.
“Halo?” terdengar suara perempuan di seberang telepon.
Jantungku seperti mau copot. “Kamu siapa?” tanyaku singkat.
“Aku? Kamu siapa? Kamu kan yang meneleponku.”
“Aku Farah. Semalam kamu mengirim pesan ke suamiku. Kamu tahu dia sudah berkeluarga?”
“Oh…, iya. Aku sudah tahu.”
“Kamu tahu aku sedang hamil?”
“Iya.”
“Lalu ada hubungan apa kalian?”
“Aku mantan pacar suamimu. Kami hanya berteman dan sesekali saling menelepon serta berkirim pesan. Itu saja.”
Hah? Perempuan macam apa itu? Bisa-bisanya dia menjalin hubungan dengan suami orang. Meskipun tidak mengakui bahwa dia dan ayah Dhifa memiliki hubungan spesial, hal yang dilakukannya itu tidak pantas dilakukan oleh seorang perempuan dengan laki-laki lain yang sudah beristri. Lagi pula aku tidak yakin mereka hanya berhubungan lewat telepon dan SMS. Tapi, aku tidak peduli apa yang mereka lakukan di belakangku. Aku cukup tahu, ayah Dhifa sudah mengkhianatiku.
Aku mengamuk. Segala sumpah serapah aku lontarkan ke muka ayah Dhifa. Bagiku perselingkuhan adalah hal yang tidak bisa dimaafkan, apalagi dalam hubungan pernikahan.
Ayah Dhifa tidak terima. “Kamu jangan mengada-ada!” ujarnya membela diri. Suaranya meninggi. Mukanya memerah. Raut wajahnya sangat menakutkan. Aku seperti sedang berhadapan dengan orang lain, bukan ayah Dhifa. Ayah Dhifa yang kukenal selama ini selalu berkata-kata manis.
Plaak! Ayah Dhifa menampar pipiku. Aku terdiam, tak percaya. Pipiku terasa perih. Namun, hatiku ribuan kali lebih sakit.
Sejak saat itu, hubunganku dengan ayah Dhifa menjadi buruk. Dia menjadi sangat emosional. Beberapa kali dia melakukan kekerasan fisik padaku. Pukulan dan tendangan kerap kali aku dapatkan darinya. Padahal, dia tahu betul aku sedang hamil. Namun, aku berusaha tetap bertahan. Aku menunggu hingga Dhifa lahir. Aku berharap kelahiran Dhifa bisa mengubah tabiat buruknya.
Aku menyimpan kesedihanku sendiri. Kusimpan rapat-rapat hingga tak satu orang pun tahu. Tidak teman-temanku, tidak juga orang tuaku. Selain tidak mau membuat mereka khawatir, aku juga sangat malu. Aku tidak punya muka untuk mengakui bahwa aku telah salah memilih pasangan.
Ya, aku memang sudah salah langkah. Selama berpacaran, aku sudah tertipu dengan persona ayah Dhifa. Setelah menikah dan tinggal satu rumah, semua sifat buruknya mulai nampak. Aku tidak sedang membicarakan tentang menaruh handuk di kasur, atau tidak menutup kembali tutup odol. Ini lebih parah dari itu semua. Ayah Dhifa ternyata adalah seorang laki-laki yang sangat manja. Dia tidak bisa hidup susah, namun tidak mau berusaha agar bisa hidup enak. Dia bukan laki-laki yang bertanggung jawab. Jangankan untuk menjadi suami dan ayah, menjadi orang saja dia tidak bisa menjaga komitmen. Dia tidak mampu menyelesaikan kuliahnya dan di-dropout dari kampus. Dia juga tidak bisa memberiku nafkah yang cukup dan tidak mau mengusahakannya. Aku tidak tahu apakah itu semua karena neneknya begitu memanjakannya atau karena dia memang tidak punya otak.
Hidup di kota orang sendirian, jauh dari keluarga, hamil, harus menyelesaikan skripsi, dan diselingkuhi oleh suami membuat aku sangat stres. Kalau wanita lain menjadi gemuk saat hamil, aku malah semakin kurus. Aku tidak yakin apakah janin di rahimku mendapat nutrisi yang cukup atau tidak. Namun, Dhifa memang anak yang tangguh. Dia mampu bertahan di dalam rahimku meskipun kondisinya sangat tidak ideal.
Hari demi hari berlalu, aku memutuskan untuk tidak lagi mengharap apapun dari ayah Dhifa. Meskipun status kami masih suami istri, kami sudah tidak bersikap layaknya sepasang suami istri. Aku sudah malas dan tidak peduli dengannya. Aku berusaha tetap kuat dan berdiri di atas kakiku sendiri. Kujalani hari-hari dengan sisa kekuatan yang aku miliki.
Sehari sebelum Dhifa lahir, aku merasakan kontraksi terus-menerus. Segera aku pergi ke rumah bidan yang letaknya tidak jauh dari tempat aku tinggal. Bidan lalu mengarahkanku untuk pergi ke puskesmas karena persalinan akan dilakukan di sana.
“Masih pembukaan dua ini, Bu. Saya tinggal pulang dulu, ya. Anak saya sedang sakit di rumah,” ujar bidan. Waktu menunjukkan pukul 2 dini hari.
Tidak lama setelah bidan pulang, aku merasakan mulas yang luar biasa di perut bagian bawah. Saat itu, aku tengah sendirian di kamar bersalin. Perawat sedang istirahat dan ayah Dhifa sedang pulang untuk mengambil barang-barang yang aku butuhkan.
Karena tak tahan, aku mengejan. Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang keluar dari jalan lahir.
“Suster!! Suster!!” Aku berteriak memanggil perawat.
“Ada apa, Bu?”
“Itu apa…?” tanyaku sambil menunjuk ke arah jalan lahir.
“Ya Allah, Bu. Anaknya sudah lahir.”
Jika mengingat kejadian itu, rasanya menggelikan sekali. Bagaimana bisa Dhifa lahir sendiri tanpa dibantu oleh bidan? Tapi, aku bersyukur Allah memudahkan persalinanku. Aku mendengar banyak cerita orang yang mengalami kesulitan saat persalinan. Ada yang tidak mau muncul pembukaan, ada yang pembukaannya berhenti di tengah jalan, ada yang harus bolak-balik mengejan, dan lain sebagainya. Sedangkan aku bisa melahirkan Dhifa hanya dengan satu kali mengejan.
Perawat kemudian membersihkan tubuh Dhifa serta mengukur berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepalanya. Semua normal, meskipun berat badannya tidak begitu besar, hanya 2.700 gram. Dengan kondisi kehamilan yang tidak ideal, itu sudah membuatku sangat bersyukur.
Dhifa lahir pada tanggal 9 November 2011. Aku dan ayahnya memberikan sebuah nama yang sangat indah, ‘Zahra Nadhifah’. Zahra dalam bahasa Arab berarti bunga, sedangkan Nadhifah artinya bersih. Di dalam nama itu terselip doa dan harapan. Semoga kelak dia menjadi wanita yang tak hanya indah dipandang, tetapi juga memiliki hati yang bersih.
Satu hari setelah persalinan, aku dan Dhifa diizinkan untuk pulang ke rumah. Pulang ke rumah artinya aku harus menghadapi tugas baru sebagai seorang ibu. Dari mulai belajar menyusui, memandikan dan mengganti popok, hingga harus begadang setiap malam. Sebagai ibu muda yang tidak memiliki pengalaman, itu semua terasa sangat berat. Jika saat hamil aku sangat stres, tingkat stresku bertambah berkali-kali lipat setelah aku melahirkan. Selain karena masih beradaptasi dengan peran baru dan kondisi hormon yang tidak stabil, ayah Dhifa masih saja tidak mau berubah. Dia masih sangat manja, tidak bertanggung jawab, dan yang paling parah, dia tetap berselingkuh dan melakukan kekerasan padaku. Kuakui, aku memang sangat naif berharap dia akan berubah setelah Dhifa lahir.
Belum genap dua minggu usia Dhifa, aku memutuskaan untuk menceraikan ayah Dhifa setelah mendapati dia masih berhubungan dengan mantan pacarnya dulu.
“Keluar kamu dari rumah ini! Ini rumah dari orang tuaku! Gak pantas kamu tetap di sini!” hardikku kepada ayah Dhifa.
Ayah Dhifa tidak melawan. Dia hanya diam, mengemasi barang-barangnya, dan pergi. Tidak ada penyesalan dalam hatiku saat melihatnya pergi. Meskipun aku pernah mencintainya, aku tidak mau mengorbankan kewarasanku hanya untuk mempertahankannya.
Kegagalanku dalam pernikahan memberikan pelajaran yang sangat berharga. Aku belajar bahwa rumah tangga adalah hal yang tidak simpel. Kita membutuhkan partner yang tepat dalam membangun rumah tangga yang sehat. Berpacaran lama sebelum menikah tidak menjamin rumah tangga akan lama juga. Karena semua orang juga tahu, saat berpacaran, tahi kucing pun terasa seperti cokelat. Hanya indah-indahnya saja yang nampak.
Sejak kami berpisah, ayah Dhifa seperti berlepas tangan dari kami. Dia tidak pernah menafkahi Dhifa. Padahal, status Dhifa adalah anak kandungnya. Namun, aku tidak peduli. Toh selama ini dia memang tidak pernah berusaha mencukupi kebutuhan kami. Ada ataupun tidak ada dia, bagiku sama saja.
Keesokan harinya, aku menelepon orang tuaku untuk memberitahu bahwa aku ingin berpisah dengan ayah Dhifa. Sebenarnya aku khawatir orang tuaku akan sedih mendengar kabar itu. Namun, aku tidak mungkin menyembunyikannya dari mereka.
“Assalamualaikum, Pak.” Aku mengawali pembicaraan.
“Waalaikumsalam, Nduk. Ada apa? Dhifa sedang apa?” jawab Ayahku.
“Dhifa sedang tidur, Pak. Saya.…” Aku menahan kata-kataku.
“Ya, Nduk. Kenapa? Ada apa?”
“Saya mau berpisah dengan ayah Dhifa.”
Seperti dugaanku, orang tuaku sangat kaget saat mendengar kabar dariku. Mereka berulang kali menanyakan ‘kenapa?’, namun aku tidak pernah mengatakan alasan sebenarnya. Aku bukan ingin menjaga nama baik ayah Dhifa. Aku hanya malu.
Ayahku yang paling terluka saat mengetahui aku hendak bercerai dengan ayah Dhifa. Aku adalah anak perempuan pertamanya yang paling disayang. Awalnya beliau sempat tidak setuju aku menikah muda. Beliau berharap aku bisa sekolah tinggi dan meniti karier sebelum menikah. Namun, pada akhirnya beliau yang paling banyak berjasa dalam pernikahanku. Beliau mengontrakkan rumah untuk kami dan menyokong kebutuhanku selama hamil. Tak heran jika dia sangat terpukul.
Setelah bercerai dengan ayah Dhifa, hidupku memang tidak serta merta menjadi baik. Aku masih tetap mengalami stres, bahkan baby blues. Sempat terbesit pikiran untuk mati saja. Namun, Allah masih sayang kepadaku. Aku masih diberi rasa takut.
Ketika Dhifa bayi, teknologi masih belum secanggih hari ini. Mengakses informasi juga tidak mudah. Aku benar-benar clueless. Ditambah lagi, aku harus menjalani peran ganda, sebagai Ayah juga sebagai Ibu. Jika mengingat kembali saat-saat itu, rasanya hatiku seperti ditusuk-tusuk. Sakit.
Namun, Allah memang sangat adil. Ketika Dia memberiku satu kesulitan, aku diberi kemudahan pada hal lainnya. Aku sangat mudah menemukan pengasuh yang baik untuk Dhifa. Meskipun aku belum memiliki rumah tetap dan sering berpindah-pindah rumah kontrakan, selalu saja aku bertemu dengan orang yang tepat. Aku juga mendapat banyak ilmu tentang merawat anak dari pengasuh Dhifa.
Aku bekerja dari hari Senin hingga Jumat, dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore. Saat aku bekerja, Dhifa di rumah bersama pengasuhnya. Sebetulnya aku juga tidak tega harus meninggalkan Dhifa. Seandainya aku bisa, aku juga mau di rumah saja, mengasuh dan bermain bersamanya. Namun, kondisiku sangat tidak memungkinkan. Mau tidak mau, aku harus bekerja untuk menyambung hidup.
Saat pulang kerja, aku tidak bisa langsung leyeh-leyeh. Karena aku tidak mempunyai asisten rumah tangga, tugas rumah tangga tetap menjadi tanggung jawabku. Biasanya aku menyapu dan mengepel rumah saat Dhifa tidur. Di malam hari, aku menyetrika pakaian. Jangan tanya berapa lama aku tidur dalam sehari, karena aku juga tidak pernah menghitungnya.
Sampai di situ, kukira hidupku sudah cukup berat. Ternyata aku salah. Perjuanganku bahkan belum dimulai saat itu. Perjuangan sesungguhnya baru dimulai saat Dhifa berusia 9 bulan. Dia mengalami muntah dan diare beberapa saat setelah memakan sepotong brownies. Tak lama setelah itu, dia demam tinggi. Aku membawanya ke dokter dan dokter memberinya obat penurun demam. Namun, suhu badannya tak kunjung turun. Setelah tiga hari, kubawa dia ke dokter lain, tapi sama saja. Tidak ada perubahan signifikan. Dhifa tetap demam.
Setelah seminggu, aku memutuskan untuk membawanya ke IGD. Kupikir dokter akan menyarankan untuk opname. Namun, lagi-lagi aku disuruh membawa Dhifa pulang, karena menurut dokter kondisinya tidak gawat darurat. Padahal, Dhifa sudah sangat lemas.
Sampai di rumah, Dhifa mengalami kejang. Saat itu, waktu menunjukkan pukul 11 malam. Aku hanya berdua dengan Dhifa dan kebingungan harus bagaimana. Kuberanikan diri untuk menghubungi tetanggaku dan memintanya untuk mengantar kami ke rumah sakit daerah. Syukurlah tetanggaku berbaik hati mengantar kami.
“Tolong diurus administrasinya dulu, ya, Bu,” ujar petugas di rumah sakit.
Aku sangat kecewa dengan pelayanan pihak rumah sakit. Aku datang membawa Dhifa yang masih dalam kondisi kejang. Namun, mereka tidak melakukan penanganan apa-apa sampai aku selesai mengurus administrasi. Tubuh Dhifa sudah membiru saat mereka mulai memberi penanganan padanya. Saat itu sudah pukul 2 dini hari.
Malam itu juga Dhifa dirawat di rumah sakit. Keesokan harinya, dokter anak baru bisa melakukan visite. Entah kenapa dalam kondisi darurat seperti itu pihak rumah sakit sangat lamban dalam melakukan penanganan.
Ternyata Dhifa sudah koma dan harus dirawat di PICU atau pediatric intensive care unit. PICU adalah ruangan yang diperuntukkan bagi pasien anak yang mengalami gangguan kesehatan parah dan membutuhkan perawatan khusus. Saat berada di PICU, tubuh mungil Dhifa disambungkan dengan berbagai alat melalui selang-selang. Dadaku sesak melihat itu semua. Rasanya aku ingin bertukar tempat dengannya.
Tiga hari dirawat di PICU rumah sakit daerah, kondisi Dhifa sama sekali tidak ada perubahan. Aku tidak tahu apa saja yang mereka lakukan pada Dhifa karena pihak rumah sakit sama sekali tidak mengomunikasikannya kepadaku. Aku tidak tahu apa dan berapa banyak obat yang dimasukkan ke tubuh Dhifa dan kenapa dia tetap tidak kunjung sadar.
Kesabaranku habis. Aku mengajukan pulang paksa dan memindahkan Dhifa ke rumah sakit swasta. Di rumah sakit swasta, aku meminta agar Dhifa tidak diberi obat apapun, hanya oksigen saja. Keesokan harinya, Dhifa sadar.
Hingga saat ini, aku tidak pernah tahu kenapa Dhifa tidak kunjung sadar saat di rawat di rumah sakit daerah. Tapi, aku tidak mau ambil pusing. Biarlah itu menjadi misteri.
Setelah dia sadar dari koma, aku melihat ada yang aneh pada Dhifa. Tubuh bagian kirinya terlihat sangat kaku. Namun, aku tidak begitu mengkhawatirkannya. Aku mengira kekakuan tersebut adalah efek samping sementara dari koma yang dialami Dhifa.
Aku mulai khawatir ketika kekakuan itu tak kunjung hilang selama beberapa pekan. Ditambah lagi, Dhifa kehilangan kemampuan motoriknya dan kembali seperti bayi yang belum bisa apa-apa. Padahal, sebelum sakit dia sudah bisa berdiri dan mulai belajar berjalan. Aku menceritakan kekhawatiranku kepada beberapa orang terdekatku. Kakak ayah Dhifa membantuku mencari informasi di internet. Menurut yang dia baca di Google, koma dapat menyebabkan kerusakan pada sistem saraf pusat. Dengan kata lain, Dhifa mengalami strok ringan. Aku memercayainya, meskipun aku tidak memiliki bukti medis tentang hal itu. Belakangan aku baru tahu dari dokter anak bahwa Dhifa mengalami cerebral palsy atau lumpuh otak.
Orang-orang mulai memberiku saran ini dan itu. Aku menuruti semua masukan mereka. Dari mulai terapi pijat, fisioterapi di tempat terapi ABK, sampai terapi hiperbarik. Namun, karena keterbatasan biaya, aku tidak melakukan semua dengan maksimal. Dhifa juga tidak mengalami perubahan yang signifikan.
Saat pertama mengetahui kondisi Dhifa, aku tidak sempat bersedih karena terlalu fokus mencari solusi. Namun, saat aku sudah melakukan semua yang aku bisa, tetapi kondisi Dhifa masih tidak ada perubahan, aku menjadi sangat terpuruk. Aku kecewa terhadap diriku, sedih dengan kondisi Dhifa, dan marah pada takdir. Pikiran untuk bunuh diri kembali hadir.
Namun, tiap kali aku melihat Dhifa, semangatku kembali. Aku pergi ke perpustakaan kota untuk mencari informasi tentang penanganan anak dengan cerebral palsy. Aku juga belajar dari YouTube tentang stimulasi motorik halus dan motorik kasar. Selain itu, aku juga bertanya kepada orang-orang yang memiliki pengalaman serupa denganku.
Tahun pertama adalah masa-masa terberat bagiku. Tahun kedua dan selanjutnya, aku mulai bisa sedikit berdamai dengan keadaan, meskipun masih belum sepenuhnya. Aku masih berekspektasi tinggi dan berharap Dhifa bisa seperti anak-anak seusianya. Menjelang tahun kelima, aku hampir putus asa. Segala cara sudah kulakukan, namun Dhifa masih saja belum bisa berjalan.
“Mi, Dhifa mau sekolah, Mi….” Suatu hari Dhifa mengatakan kalau dia ingin sekolah seperti teman-temannya. Saat itu, Dhifa sudah berusia 5 tahun. Namun, karena dia belum bisa berjalan, aku tidak menyekolahkannya.
“Iya, Nak. Tapi, Dhifa jalan dulu, ya. Nanti Dhifa sekolah seperti teman-teman.” Aku berusaha menyemangati Dhifa.
Dua hari setelah itu, tiba-tiba Dhifa bisa berjalan. Ternyata semangat Dhifa untuk bisa bersekolah sangatlah besar. Sampai-sampai dia berusaha sangat keras agar bisa berjalan. Meskipun cara berjalannya masih kaku seperti anak yang baru belajar berjalan, bagiku itu sudah sangat menggembirakan. Tidak perlu menunggu lama, aku segera menepati janjiku dengan mendaftarkannya di PAUD dekat rumahku.
Semangatku kembali membara setelah Dhifa bersekolah. Aku sangat malu dengannya. Meskipun memiliki keterbatasan, dia tetap semangat dan tidak mudah menyerah. Sejak saat itu, aku mulai serius membawanya terapi di tempat terapi ABK. Dhifa mendapat fisioterapi dan terapi sensori integrasi. Perkembangannya pun jadi semakin membaik. Ternyata selama ini bukan terapinya yang tidak berhasil, aku saja yang kurang sabar dan telaten dalam membersamai Dhifa. Aku juga semakin giat bekerja. Aku mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk biaya sekolah, terapi, dan alat-alat bantu untuk Dhifa.
Setelah lulus PAUD, Dhifa melanjutkan ke TK A lalu TK B. Saat lulus TK B, aku mendaftarkannya di SD swasta dekat rumahku. Namun sayang, Dhifa dikeluarkan secara halus dari sekolah.
“Dia tidak bisa mengikuti teman-temannya yang lain, Bu,” kata perwakilan pihak sekolah saat memintaku untuk menyekolahkan Dhifa di sekolah lain.
Sebetulnya aku kesal dengan pihak sekolah. Kenapa tidak dari awal saja mereka menolak kami. Padahal, saat mendaftarkan Dhifa di sana aku sudah menjelaskan kondisi Dhifa. Namun, tidak ada waktu untuk berdebat. Aku segera mencari sekolah lain untuk Dhifa. Ternyata kami mendapat perlakuan yang tidak jauh berbeda di sekolah kedua.
“Sebaiknya anak ibu disekolahkan di sekolah khusus ABK saja,” ujar kepala sekolah saat itu.
Aku segera mencari informasi tentang sekolah khusus ABK di sekitar rumahku dan mendaftarkan Dhifa di sana. Pihak sekolah melakukan asesmen sebelum menerima Dhifa sebagai siswanya. Asesmen dilakukan oleh seorang psikolog. Hasil asesmen menunjukkan bahwa Dhifa mengalami retardasi mental ringan. Syukurlah pihak sekolah masih mau menerimanya.
Retardasi mental adalah gangguan perkembangan otak yang menyebabkan kecerdasan anak di bawah rata-rata anak seusianya. Meskipun Dhifa sudah duduk di tingkat sekolah dasar, kemampuan intelektualnya masih setara balita. Itulah yang membuat dia kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah-sekolah sebelumnya.
Menyekolahkan Dhifa di sekolah khusus ABK, membuat mataku terbuka lebar. Aku bertemu banyak ABK lain dengan kondisi yang berbeda-beda. Banyak dari mereka yang kondisinya jauh lebih parah dari Dhifa. Namun, orang tua mereka terlihat sangat bahagia dan ikhlas mendampingi mereka. Aku merasa malu. Selama ini, aku masih belum bisa menerima kondisi Dhifa yang berbeda. Aku sering meratapi nasibku yang menurutku menyedihkan ini. Saat itu adalah turning point-ku. Aku akhirnya bisa menerima kenyataan bahwa aku adalah orang tua dari seorang anak berkebutuhan khusus.
Dhifa mengalami banyak perkembangan setelah bersekolah di sekolah khusus. Di sana, murid tidak dituntut untuk bisa baca-tulis seperti di sekolah umum. Guru berusaha membantu masing-masing anak untuk bisa berkembang optimal sesuai dengan potensinya.
Dhifa memiliki minat dan bakat yang cukup besar di bidang linguistik dan musikal. Dia sangat senang menyanyi dan storytelling. Meskipun belum bisa membaca, dia mampu menceritakan gambar dengan sangat baik. Dia juga sangat mudah menghafal lirik dan menyanyikan sebuah lagu dengan nada yang benar. Aku sangat bangga padanya. Bagi anak umur 11 tahun lain, mungkin itu semua hanya hal biasa. Namun, bagi Dhifa itu adalah pencapaian luar biasa.
Meskipun aku sangat bangga dan menyayanginya, aku juga sama seperti ibu-ibu lain. Sesekali aku mengomelinya saat dia berulah, terutama saat dia mengompol.
“Dhifa!! Mami kan sudah bilang. Jangan pipis sembarangan! Pipis itu di kamar mandi, Dhifa!”
Dhifa hanya diam. Raut mukanya terlihat sangat ketakutan. Aku jadi kasihan melihatnya.
“Maafin Mami, ya, Dhifa. Tadi Mami marah sama Dhifa karena Dhifa mengompol.” Aku menghampiri Dhifa yang terdiam di pojokan kamar.
“Iya, Mi…,” jawabnya polos.
“Nanti Mami traktir jajan mau nggak?”
“Mau, Mamiii!!” Tiba-tiba dia menjadi sangat bersemangat. Dhifa memang sangat suka makan. Sepertinya makan adalah hobinya. Bebek goreng, mie, dan segala macam olahan daging adalah makanan favoritnya.
Tak terasa sudah 11 tahun aku dan Dhifa hidup bersama. Banyak sekali kenangan yang telah kami ukir berdua, baik yang indah maupun yang tidak. Aku bersyukur memiliki Dhifa di dalam hidupku. Dia adalah anugerah dari Allah yang menjadi alasan bagiku untuk terus bergerak ke depan. Dia adalah alasanku untuk tetap kuat.
Menulis kisah ini seperti mengorek luka lama yang hampir kering. Setiap kali aku berusaha mengingat masa lalu, hatiku seperti diiris-iris. Namun, aku berharap kisahku ini bisa sedikit memberi percikan semangat bagi yang membacanya.
Setiap manusia memiliki kisah yang berbeda-beda. Tidak ada yang lebih berat atau lebih ringan. Allah sudah menakar semua sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Kita semua kuat. Namun, kita tidak pernah tahu sekuat apa kita, sampai menjadi kuat adalah satu-satunya pilihan yang ada.