Penulis: Dika Husnul Sulistyarini

Perjuangan demi perjuangan telah kulakukan demi mendapatkan seorang buah hati. Setiap bulan, aku rutin kontrol ke dokter kandungan dan selalu diresepkan obat penguat janin karena dikhawatirkan akan terjadi pendarahan seperti kehamilan pertamaku. Akhirnya, tanggal 19 September 2013, buah hatiku lahir melalui operasi cesar karena proses pembukaan yang cukup lama dan pecah ketuban.
“Anaknya laki-laki, Bu. Ganteng sekali. Beratnya 3.4 kg dan panjang 49 cm,” ucap salah satu perawat yang menggendong bayiku.
Betapa senangnya aku menyambut kehadirannya. Dia menjadi pelengkap kebahagiaan keluargaku. Fawwaz Bagasdika Septa Hadi, begitulah aku memberinya nama. Menjadi anak kuat dan tangguh yang memberikan keberuntungan untuk orang tuanya, makna di balik nama tersebut.
Aku sangat bahagia bisa melewati momen bersama Fawwaz. Dia tumbuh menjadi bayi yang sehat. Aku pun sangat senang bisa memberinya ASI walaupun harus kutambahkan dengan susu formula karena ASI-ku tak melimpah. Berat badannya selalu bertambah setiap bulannya. Kala itu, kupikir anak yang tubuhnya gendut pertanda sehat.
Suatu hari, aku mengamati seluruh tubuh Fawwaz dari kepala hingga ujung kaki. Kuperhatikan secara teliti pada kukunya. Warnanya pucat sekali. Tiba-tiba pandanganku beralih ke bibirnya, sepertinya ada yang tak wajar karena kadang warnanya merah muda tapi sesekali berubah menjadi biru. Tak mau menduga-duga, kubawa dia ke bidan terdekat. Menurut bidan, Fawwaz hanya alergi.
Obat yang diberikan bidan sudah habis. Namun, kuku dan bibir Fawwaz masih tetap membiru. Lagi-lagi, bidan mengatakan bahwa yang dialami Fawwaz ini normal dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku cemas. Tak biasanya Fawwaz seperti ini. Aku merasa ada yang aneh dengan keadaan Fawwaz. Keesokan harinya, kami memeriksakan Fawwaz di RSUD Kanjuruhan Kepanjen.
“Bagaimana keadaan anak saya, Dok?”
“Bu, saya beri surat pengantar untuk CT-scan dulu, ya,” kata Dokter Dewi Nurindah, Sp.A. Setelah dilakukan pemeriksaan CT-scan, dokter belum bisa menyimpulkan diagnosis untuk Fawwaz. Dokter Dewi menyarankan untuk melakukan pemeriksaan elektrokardiografi (EKG). Hari itu, aku pulang dengan segudang pertanyaan dan pikiran yang tak tenang. Ada apa dengan Fawwaz, Ya Allah?
Ada sanak famili yang iba melihat kondisi Fawwaz, kemudian dia menyarankan untuk dibawa ke dukun pijat bayi. Aku hanya membawa Fawwaz dua kali ke sana, setelahnya aku memutuskan untuk lebih fokus membawa Fawwaz berobat ke rumah sakit.
Saat usia Fawwaz sekitar 15 bulan, aku kembali membawanya ke Dokter Dewi untuk dilakukan pemeriksaan EKG. Setelahnya, beliau menyarankan agar kami mengkonsultasikan hasil EKG ke poliklinik jantung.
Tanggal 3 Februari 2015, kami membawa Fawwaz ke poliklinik jantung RSUD Kepanjen. Dari hasil EKG diketahui bahwa ada kelainan pada jantung Fawwaz.
“Anak Ibu suspek penyakit jantung bawaan dan penyakitnya tergolong langka. Fawwaz harus dirujuk ke poliklinik jantung yang lebih menunjang yaitu di Rumah Sakit Saiful Anwar,” kata Dokter Ria yang kutemui di poliklinik jantung kala itu.
Angin semilir langsung menembus kulitku membuat bulu kudukku berdiri. Kami tidak menyangka akan diberi ujian sebegitu beratnya. Tapi, aku percaya Allah tidak akan memberi ujian di luar kemampuan hamba-Nya.
Semenjak dokter mendiagnosis Fawwaz dengan suspek penyakit jantung bawaan (PJB), kami semakin sibuk wira-wiri rumah sakit untuk menjemput kesembuhannya. Kami tak peduli berapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk biaya kontrol ke dokter spesialis, menebus obat, dan lain-lain. Belum lagi ketika kami mendengar salah satu jalan kesembuhan Fawwaz adalah dilakukan tindakan bedah. Biaya operasi jantung tidak bisa dikatakan murah, bisa mencapai ratusan juta. Gaji suamiku tidak akan cukup memenuhi itu semua. Syukurlah, kami memiliki keluarga besar yang peduli dan tidak segan membantu kami sehingga kami tidak sampai mencari banyak pinjaman ke sana kemari.
18 Februari 2015, kami menemui dokter anak di RSSA yaitu Dokter Budy. Beliau meminta Fawwaz melakukan foto thorax. Aku menyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja. Diagnosis yang dikatakan sebelumnya pasti salah. Anakku sehat. Anakku tidak sakit, hanya kecapekan saja.
“Anak ibu saya rujuk ke poliklinik jantung anak, ya. Nanti biar dokter jantung saja yang menjelaskan,” saran Dokter Budy ketika hasil foto thorax sudah jadi.
Dengan perasaan campur aduk, kami menyusuri lorong mencari ruangan poliklinik jantung anak. Lalu, kami menemui dokter yang cantik dan berparas anggun yaitu Dokter Dyahris Koentartiwi, Sp.A (K).
“Bapak-Ibu, pakai BPJS, tidak?”
“Baru mau buat, Dok. Ada apa ya?” jawab suamiku.
“Alangkah lebih baik jika Bapak dan Ibu memiliki BPJS, ya. Soalnya anak Ibu harus menjalani tindakan echo dan jika pada saat echo ditemukan kelainan serius akan ada tindakan lagi yang membutuhkan biaya besar,” jelas beliau panjang lebar.
1 Maret 2015, jadwal kontrol Fawwaz berikutnya. Pagi itu begitu dingin, kami mengendarai sepeda motor menuju RSSA. Beberapa kali kuselimutkan selendang panjang untuk menutupi tubuh Fawwaz agar tak kedinginan. Sesampainya di rumah sakit, aku dan Fawwaz langsung ke poliklinik anak untuk istirahat sementara suamiku mengurus pendaftaran rawat jalan. Perjalanan yang cukup jauh dari Desa Segaran ke Kota Malang cukup melelahkan buat kami. Namun, perjuangan ini tak pernah melelahkan jika kita ikhlas menjalaninya, tiada usaha yang mengkhianati hasil.
18 Mei 2015, Fawwaz diminta melakukan echo oleh Dokter Dyahris dan hasilnya memang positif kelainan jantung bawaan jenis tetralogy of fallot (TOF). Saat dokter menceritakan hasil echo Fawwaz lewat gambaran tangannya, aku hanya diam terpaku. Beliau menyebutkan beberapa istilah medis yang tak kumengerti. Hatiku benar-benar shock saat tahu bahwa semua yang dikatakan dokter itu nyata adanya.
“Ini jantung bocor kompleks banget dan harus dioperasi. Tapi, Bapak dan Ibu tenang, operasinya tidak sekarang. Tunggu umur Fawwaz sekitar dua tahun, ya,” jelas beliau.
Sebagai orang tua, aku sangat terkejut saat dokter menyarankan anaknya harus dioperasi. Aku diminta meninggalkan nomor telepon dan kemudian Dokter Dyahris memintaku untuk menyimpan nomor teleponnya. Dari sinilah aku mulai dekat dengan beliau dan bisa cerita tentang apa saja yang berhubungan dengan Fawwaz.
Hari demi hari kujalani dan perlahan aku mulai ikhlas atas kehendak-Nya. Aku siap melanjutkan perjalananku. Beruntung aku memiliki suami dan ibu yang selalu ada untuk Fawwaz. Ibu yang selalu tanggap bahwa kesehatan adalah nomor satu. Suami,di tengah kesibukannya, selalu bersedia meluangkan waktu mengurus segala sesuatu sehingga aku tak kewalahan. Saat bersama, kami pasti bisa melewati semua ujian yang Allah berikan sebagai wujud kasih sayang kepada hamba-Nya.
“Bu, dengar suara grok-grok enggak di dada Fawwaz?” tanyaku sambil meraba dada Fawwaz.
“Iya, ada apa ya dengan Fawwaz?” Ibuku pun mulai cemas.
“Apa mungkin karena pilek, ya? Kan, pilek dan batuknya tak kunjung sembuh,” jawabku dengan khawatir.
Kemudian, kami memeriksakannya ke dokter umum langganan keluarga kami. Dokter tersebut sudah tahu riwayat penyakit Fawwaz dan karena itu beliau memberi saran sebaiknya diperiksakan ke RSSA.
28 Mei 2015 pukul 05.00 WIB, kami berangkat ke RSSA. Sesampainya di sana, kami bergegas mengambil nomor antrean. Biasanya, suamiku yang mengantre di loket pendaftaran tapi, kali ini, aku yang harus sigap mengurus berkas-berkas pendaftaran.
“Anak Fawwaz Bagasdika.” Terdengar perawat memanggil nama anakku.
“Fawwaz kenapa?” tanya perawat dan aku masih ingat namanya, Suster Anisa.
“Napasnya grok-grok, Sus,” jawabku.
Sambil menunggu antrean, salah seorang dokter PPDS mengecek saturasi Fawwaz, dan aku terkejut ketika mengetahui saturasi Fawwaz cukup rendah. Selang beberapa menit kemudian, nama Fawwaz dipanggil untuk masuk ke ruang dokter.
“Hai, Fawwaz, gimana kabarmu? Keluhannya apa hari ini?” sapa Dokter Dyahris dengan ramah. Jarang-jarang aku menemui dokter seramah ini dengan pasien,rata-rata sikapnya terkesan dingin.
Aku menjelaskan mengenai napas Fawwaz yang berbunyi grok-grok. Dokter Dyahris lantas mengernyitkan dahinya sambil mengangguk pelan.
“Bu, Fawwaz ada bising jantung. Bunyi grok-grok ini bukan karena anaknya pilek tapi suara aliran darah yang mengalir melalui jantungnya.”
“Adakah yang bisa dilakukan untuk mencegah bunyi grok-grok itu, Dok?” tanya ibuku.
“Jalan satu-satunya harus operasi, Bu. Kalau obat-obatan itu hanya untuk meringankan gejala saja, bukan menyembuhkan,” jelas Dokter Dyahris.
Usia 20 bulan, Fawwaz masih belum bisa berbicara dengan lancar seperti teman sebayanya. Dia masih seperti bayi yang hanya bisa mengucapkan dua suku kata. Aktivitas mbolang ke rumah sakit kembali kami lakukan. Tentu ini atas saran Dokter Dyahris.
“Wah, Fawwaz ini aktif lo, kuat jalan ke sana kemari padahal jantungnya bocor,” seru Dokter Dyahris.
“Iya, Dok, tapi sayangnya belum bisa bicara dengan lancar, nih,” jawabku.
Dokter Dyahris meminta asistennya untuk mengantar kami ke poliklinik tumbuh kembang. Beruntungnya Fawwaz dipertemukan dengan dokter seperti beliau. Akhirnya setiap minggu, Fawwaz rutin ke poliklinik tumbuh kembang untuk terapi mengejar ketertinggalannya.
Seberat-beratnya cobaan yang Allah berikan kepada kita, ingatlah masih banyak orang yang cobaan hidupnya jauh lebih berat lagi. Dari sinilah kenapa kita harus selalu bersabar dan bersyukur dengan apa yang Allah takdirkan. Maafkan bunda yang masih harus membuatmu terus berjuang, Nak, memperjuangkan kesehatanmu.
Tanggal 3 Juli 2015, aku dan keluarga membawa Fawwaz ke Surabaya. Kami berangkat dini hari. RS Pelindo Husada Citra (PHC) Surabaya adalah tujuan kami. Di sinilah Fawwaz akan melakukan tindakan pemeriksaan kateterisasi jantung. Prosedur ini dilakukan untuk mendeteksi kelainan pada jantung. Kateterisasi dilakukan dengan alat bantu kateter berupa selang tipis dan panjang yang dimasukkan melalui pembuluh darah menuju jantung.
Alhamdulillah tak perlu waktu lama untukku mengantre di RS PHC. Aku bergegas mengikuti arahan petugas yang memanggil nama Fawwaz. Kutelusuri jalan setapak demi setapak hingga akhirnya kami sampai di suatu ruangan dan dilakukan pemeriksaan serta anamnesa (wawancara riwayat penyakit) untuk Fawwaz. Selanjutnya, Fawwaz diarahkan untuk foto thorax. Tidak sampai dua jam, salah satu perawat meminta Fawwaz ke ruang UGD untuk dipasang selang infus. Aku bahagia sekali karena proses yang dilalui Fawwaz ini begitu cepat.
Pagi ini jadwal Fawwaz melakukan tindakan kateterisasi. Namun hingga menjelang siang, aku masih belum bertemu dengan Dokter Alit yang akan melakukan tindakan tersebut. Kupandang tubuh Fawwaz amat biru pagi ini terutama bagian kuku dan bibir, mungkin dia kedinginan karena AC dalam kamar, pikirku. Karena aku tak tega, akhirnya dia kubawa keluar kamar sambil melihat pemandangan dari atas loteng.
Mungkinkah jadwal kateterisasi akan ditunda? Oh, tidak! Anakku sudah puasa sejak tadi malam hingga sekarang, enam jam lamanya. Lamunanku buyar saat ada perawat menghampiriku. Fawwaz disuruh mengganti baju yang disediakan rumah sakit.
“Pagi ini Ananda Fawwaz akan melakukan tindakan kateterisasi ya, Bu. Tim dokter sudah menunggu di ruang operasi,” kata perawat.
“Yeay! Puasamu tak sia-sia, Nak. Akhirnya kamu jadi melakukan tindakan kateterisasi hari ini,” sahutku penuh girang.
Sepanjang jalan menuju ruang operasi aku melamun lagi seakan tak percaya dengan proses yang begitu cepat hingga tanpa sadar kami telah tiba di batas garis kuning masuk ruang operasi.
“Permisi, Bu. Anaknya saya beri obat bius dulu, ya,” kata perawat memecahkan lamunanku.
Perawat memberikan obat bius melalui selang infus. Hanya dalam hitungan detik anakku langsung terkulai lemas dalam dekapanku. Hari itu anakku tengah berjuang menghadapi masa-masa yang berat. Tindakan kateterisasi berlangsung kurang lebih selama dua jam. Setelah itu salah satu perawat keluar ruangan dan meminta agar Fawwaz diambilkan susu karena dia terus menangis.
Aku memberanikan diri memasuki ruangan yang membuat bulu kudukku merinding. Sebelum menemui Fawwaz aku menggunakan scort hijau steril. Sesampainya di ruang pemulihan aku mendengar suara tangis memekik.
“Karena habis dilakukan pemasukan selang tipis lewat selangkangan, tolong kakinya untuk tidak ditekuk dulu, ya,” pesan salah satu perawat di sana.
Betapa sedihnya melihat kondisi Fawwaz saat itu, dengan kedua paha dibalut tensocrepe dan kaki harus lurus selama kurang lebih satu jam. Dia tak berhenti menangis setelah efek obat bius habis.
“Sakit, kah, Nak? Bunda sudah ada di samping Fawwaz sekarang,” sahutku sambil menyusuinya. Kakinya terus diluruskan oleh ibuku. Perlahan, tangisannya mulai reda.
Menjelang sore hari, Fawwaz jauh lebih sehat, tapi masih ada PR lagi untuk tindakan selanjutnya yaitu koreksi jantung total.
“Kita berjuang bersama, ya, Sayang,” bisikku pada Fawwaz. Perlahan, segala kesulitan akan terlewati.
13 Agustus 2015, jadwal kami kontrol di RSSA. Saat menemui Dokter Dyahris, beliau bertanya untuk kesiapan tindakan operasi yang akan dilakukan di RSUD dr. Soetomo Surabaya, sesuai rujukan.
“Dok, kalau aku minta Fawwaz tindakan di RS Harkit, bisa, nggak?” pintaku.
“Kalau mau tindakan di Jakarta saya bisa membantu tapi di RSCM. Jadi, Ibu tidak perlu bolak-balik Malang - Jakarta karena nanti saya yang akan mengurus berkasnya. Kebetulan saya ada kenalan di sana, dosen saya dulu,” jelasnya.
“Oh, di RSCM, ya, Dok,” aku menimpali.
“Dok, maaf sebelumnya, untuk kepastian tempat rumah sakitnya apakah bisa menunggu beberapa hari lagi? Saya akan rundingan dulu dengan keluarga di rumah,” ujar suamiku.
“Baik, tidak apa-apa. Kalau memilih di RSCM insyaallah saya siap membantu. Bapak tinggal siapkan berkas-berkasnya lalu ikuti saja alur dan arahan dari sini, ya.”
“Siap, Dok. Terimakasih banyak atas informasinya.”
Keluargaku dan keluarga suamiku memiliki tipe yang berbeda dalam menyikapi keadaan Fawwaz. Kalau keluargaku sangat siap dengan apa yang dianjurkan oleh dokter. Berbeda dengan keluarga suami yang terlalu santai. Aku memahaminya karena keluarga suamiku lebih mengutamakan pengobatan tradisional daripada medis.
“Besok saat kontrol, kita mantapkan saja bawa Fawwaz ke Jakarta!” kataku kepada suami.
Kondisi Fawwaz yang terlahir berbeda ini memaksaku untuk bergerak cepat. Aku percaya Allah akan menguatkanku.
1 September 2015, aku kembali ke RSSA menemui Dokter Dyahris untuk membahas persiapan kami membawa Fawwaz ke RSCM.
“Ada beberapa pemeriksaan yang harus dilakukan sebelum operasi, ya, Bu,” kata dokter.
“Pemeriksaan apa saja, Dok? Di sini atau nanti di RSCM, Dokter?” tanyaku.
“Pemeriksaan gigi dan THT yang utama. Nanti saat tindakan akan berlangsung, gigi anak tidak boleh ada yang gigis. Maka dari itu jika ada yang gigis bisa ditindaklanjuti di sini sebelum berangkat ke RSCM,” jelas dokter.
Alhamdulillah, Fawwaz belum pernah mengalami caries gigi dan ini sangat menunjang kami untuk berangkat ke RSCM lebih cepat. Mungkin karena mulai MPASI aku tak memberikannya minuman manis dan permen. Aku juga rajin membersihkan giginya setiap habis makan dengan kasa. Rupanya ada hikmahnya di setiap ketelatenanku menjaga pola makan dan kebersihan giginya.
Tibalah saatnya aku, Fawwaz, suami, dan ibu berangkat ke Jakarta. 14 September 2015, jadwal pemberangkatan kami. Ada rasa berat yang kurasakan. Tapi, aku tidak mau terlihat sedih agar semua keluarga yang mengantar keberangkatan kami juga tidak kepikiran saat kami meninggalkan mereka.
"Ya Allah, lancarkanlah operasinya tole…" Begitulah doa yang tak henti mereka ucapkan.
“Jaga dia jangan sampai kelelahan,” ucap mereka lagi.
“Jangan lupa selalu berbaik sangka pada Allah,” tambah keluarga yang lain.
Enam belas jam lebih perjalanan naik kereta api dan akhirnya kami sampai di RSCM pukul 10.00 WIB tepat. Sesampainya di lobi, suami langsung mengurus pendaftaran lalu kami melangkahkan kaki ke gedung Pelayanan Jantung Terpadu (PJT). Di sinilah akhirnya kami bisa melepas lelah sambil menunggu panggilan dari Suster Sri, perawat yang pernah diceritakan Dokter Dyahris akan membantu penanganan Fawwaz selama di RSCM.
Suster Sri memanggil. Beliau berpesan kepada kami agar ponsel harus dalam keadaan aktif agar mudah dihubungi ketika ada panggilan untuk prosedur selanjutnya. Beliau juga menyarankan agar mencari penginapan.
“Yah, kupikir Fawwaz langsung bisa opname,” timpalku.
Kami terdiam sejenak sambil memikirkan soal penginapan. Kubuka ponsel dan mulai googling mencari penginapan terdekat.
“Bagaimana dengan Fawwaz, Mbak?” suara seseorang membuyarkan keteganganku.
Seorang teman menyapa kami, Yuli namanya. Dia juga berasal dari Malang dan anaknya juga pasien Dokter Dyahris. Aku bersyukur tidak sendirian. Setidaknya, aku punya teman yang senasib seperjuangan di sini. Dia berbaik hati menawarkan penginapan untuk kami.
“Di mana, Mbak?” tanyaku.
“Graha Meilia, Jalan Salemba Bluntas, Kecamatan Senen.”
Tanpa pikir panjang, ibuku langsung setuju dengan tawaran Mbak Yuli.
Terselip rasa khawatir di hati, mengingat Fawwaz akan melakukan operasi dan kondisinya harus benar-benar dijaga, jangan sampai sakit saat jadwal operasi tiba. Aku menghembuskan napas panjang sambil melihat Fawwaz yang bermain di lantai kamar ditemani ibu. Orang tua mana yang mau anaknya tertunda operasinya gara-gara sakit?
Selepas zuhur, ibu mengajak suamiku mencari tempat penginapan yang lebih dekat dengan RSCM. Akhirnya mereka pergi, sedangkan aku dan Fawwaz tetap bermalas-malasan di kos. Bahagianya saat melihat tawa lepasnya. Sehat terus ya, Nak. Menjelang sore, suamiku mengabari kalau dia berhasil mendapatkan tempat kos yang dekat dengan rumah sakit.
Sore ini kami pindah ke tempat kos yang berada di Jalan Pengangsaan Timur No. 102 Cikini. Kamar ini sangat kecil, tak ada jendela dan hanya kipas angin yang tersedia untuk mengurangi kegerahan. Tak ada pilihan lain. Jika dibandingkan dengan Graha Meilia kami akan menguras lebih banyak uang karena tarifnya dua ratus ribu rupiah per malam.
Keesokan harinya kami berangkat ke RSCM, hanya sepuluh menit sampai gedung PJT dengan jalan kaki. Selang lima belas menit, Suster Sri memanggil, Fawwaz diarahkan untuk tes darah.
Jarum ditusukkan ke jempol mungil Fawwaz. Aku berdoa hasilnya normal. Aku juga berharap tindakan selanjutnya dapat dilakukan tanpa harus menunggu lama. Aku hanya takut tiba-tiba Fawwaz batuk atau pilek sehingga pemeriksaannya tertunda di tengah jalan.
Sambil menunggu kabar dari Suster Sri mengenai hasil pemeriksaan darah, suamiku mengajak keluar sebentar. Kami jalan-jalan ke rumah singgah RSCM. Di sana, kami berjumpa dengan orang-orang dari segala penjuru Indonesia. Kami mengobrol dengan salah satu pasien yang anaknya mengidap kanker. Beliau tinggal di rumah singgah ini sudah berbulan-bulan. Aku lupa namanya, hanya ingat pejuang tangguh itu berasal dari Papua. Masyaallah dari Papua mbolang ke Jakarta saja mampu, apalah kami yang hanya dari Jawa Timur?
Akhirnya, kuputuskan bahwa aku tak akan mengeluh dan akan selalu menikmati detik-detik penantian tindakan Fawwaz. Perjalanan ke rumah singgah membawa hikmah luar biasa walaupun hanya satu jam saja melepas penat di sana.
16 September 2015, pukul 11.30 WIB, akhirnya Fawwaz masuk ruang rawat inap untuk persiapan operasi. Aku menggantikan baju Fawwaz dengan baju yang disediakan rumah sakit, lucu sekali piyamanya. Baru pertama ini aku merasakan pelayanan luar biasa di rumah sakit. Cuma sayangnya, penunggu pasien hanya diperbolehkan satu orang. Di luar ruangan rawat inap, satpam melakukan penjagaan ketat sehingga orang-orang tak bisa bebas keluar masuk..
Saat itu, Fawwaz masih menyusu sehingga dia harus selalu bersamaku, tak bisa digantikan oleh suami maupun ibuku. Serasa lungkrah tubuh ini saat suami dan ibu pergi meninggalkan kami. Meski sendirian, aku harus tetap melakukannya untuk buah hatiku.
Kulihat jam di dinding menunjukkan pukul 22.00 WIB. Ingin rasanya malam segera berlalu dan pagi cepat datang. Ibu dan suamiku menunggu di ruang lantai satu, mereka takut kalau sewaktu-waktu aku membutuhkan sesuatu atau tak mampu mengurus Fawwaz sendirian. Aku terharu. Biasanya, saat di rumah aku sering bertengkar dengan suami bahkan ibu. Ternyata, disini mereka memikirkanku yang sedang berjuang sendiri. Ah… perjuanganku ini tak seberapa dibanding pejuang tangguh yang kutemui di rumah singgah kemarin.
Pagi hari telah tiba. Tanggal 17 September 2015, anakku didatangi perempuan energik, cantik, dan ramah. Beliau dokter kardiologi anak, namanya Dokter Rubiana. Dokter menjelaskan tentang diagnosis Fawwaz dan prosedur tindakan yang akan dilakukan nanti.
Tiba saatnya jam besuk pasien datang, suami dan ibu bergantian masuk menjenguk Fawwaz. Saat tiba jadwal operasi, akhirnya kami disuruh masuk semua. Jantungku deg-degan sekali rasanya. Fawwaz yang tadinya tenang dan tidak rewel, menjelang jam operasi tiba-tiba menangis dan tak bisa ditenangkan.
Akhirnya, Fawwaz minta untuk menelepon dengan salah satu keluarga tersayangnya yang ada di Malang. Setelah itu, barulah dia bisa ditenangkan. Kamu tak sedang pamitan selama-lamanya, kan, Nak? Pikirku waktu itu yang tak menentu.
Didampingi oleh perawat, kami membawa Fawwaz naik ke lantai lima. Kami menuju ruangan di mana di situ telah berkumpul para dokter dan timnya memakai baju berwarna hijau, masker, dan penutup kepala.
Perasaanku campur aduk, anak sekecil itu harus masuk ruang operasi sendirian? Tak bolehkah aku mendampinginya? Hal yang paling menyedihkan adalah ketika tim dokter menyuruhku mencium keningnya dan berdoa agar operasi berjalan sesuai harapan. Ya Allah, Nak, yang kuat, ya….
Kurang lebih lima jam kami menunggu dengan cemas. Akhirnya, kami mendapat telepon mengabarkan bahwa operasi berjalan dengan lancar.
“Sekarang Fawwaz ada di ruang ICU, nanti keluarga bisa menjenguk saat jam besuk tiba,” kata perawat ICU. Walaupun jam besuk masih lama, tapi ada kabar keadaan Fawwaz setelah operasi itu rasanya melegakan.
Lagi-lagi, rezekimu berlimpah, Nak. Rekan kerja ayah mentransfer sejumlah uang untuk biaya pengobatanmu.
Cek saldo, Dik. Ada sebagian rezeki dari kami tim SMK Nega untuk Fawwaz. Semoga yang jumlahnya tak seberapa ini bisa bermanfaat. Cepat sembuh dan cepat pulang ke Malang, Fawwaz Sayang.
Aku terkejut ada pesan masuk dari salah satu teman suami. Terimakasih semua yang sudah turut menyertakan doa buat Fawwaz selama berjuang di meja operasi.
Fawwaz, nanti saat jam besuk tiba, aku ingin memeluk dan menciummu, Nak. Kami tertahan di balik kaca berlapis tirai hijau muda sambil menunggu jam besuk. Tempat ini yang tidak akan kulupakan hingga kapanpun. Tempat di mana buah hatiku berjuang antara hidup dan mati dengan tajamnya pisau bedah.
Waktu yang kami tunggu pun tiba, selama satu jam aku menunggu tirai hijau muda itu dibuka. Aku tidak tega melihat Fawwaz dikelilingi kabel-kabel dan peralatan medis lainnya. Aku persilakan ibu untuk masuk ruang ICU terlebih dahulu.
Aku hanya mampu melihatnya dari balik jendela sambil menangis. Tapi, sampai kapan kuhabiskan air mataku di sini? Ingat, bukankah kita sama-sama berjuang? Akhirnya, aku berhasil menahan air mataku dan memberanikan masuk ICU.
“Ternyata, aku tak bisa memelukmu, Nak.” Mana mungkin bisa memeluknya saat tubuhnya terpasang alat-alat medis.
Aku beruntung sekali memiliki Fawwaz. Pejuang jantung kecilku begitulah aku menyebutnya. Dia mendapat bingkisan dari perawat dalam rangka hari jadi PJT sekaligus hadiah ulang tahun Fawwaz yang kedua. Tanggal 19 september dia merayakan ulang tahun di ICU.
Memasuki hari ketiga, Fawwaz masih belum sepenuhnya pulih tapi dia sudah mampu merespon jika dipanggil. Saat jam besuk tiba, aku terus berusaha mengajaknya berbicara, aku takut dia tak mengenal kami. Detik-detik jam besuk berakhir, akupun harus meninggalkannya Saat itu dia berusaha melambaikan tangannya seolah tak ingin kami tinggal.
“Dia sudah bisa menggerakkan tangannya, Sus.”
“Horee, anak hebat. Tapi Fawwaz di sini sama saya, ya. Bunda harus pulang. Nanti pasti Bunda ke sini lagi,” sahut perawat yang telaten merawat Fawwaz selama di ICU.
Rasanya, aku tak ingin pergi dari sini. Tak terasa, air mataku mengalir deras saat harus meninggalkan Fawwaz. Aku tak bisa jauh darinya, sedetik aku berpisah dengannya hatiku sudah rindu. Dia separuh jiwaku.
Alhamdulillah, Masyaallah. Kami ditelepon pihak RSCM bahwa Fawwaz sore ini bisa keluar ICU dan dipindah ke ruang intermediate ward. Bahagianya aku mendengar kabar itu. Aku tidak sabar untuk bertemu kamu, sayangku.
Di intermediate ward, Fawwaz masih tak boleh banyak bergerak. Memangkunya saja aku tak berani. Entah sampai kapan kabel-kabel di badan Fawwaz akan dilepas. Seharusnya saat ini waktunya Fawwaz harus disapih, tapi lama-lama aku tak tega. Bila aku di sampingnya dia selalu minta ASI. Aku pun rela menyusuinya sambil berdiri sesuai kenyamanannya.
Hari berganti, akhirnya kabel-kabel di tubuh Fawwaz dilepas dan Fawwaz dipindah ke ruang perawatan biasa. Di sini aku bertemu pasien dari Bangka Belitung dan Sumatera.
Berdasarkan sharing-nya, ternyata dia di sini sudah hampir satu tahun. Keluar masuk RSCM. Mereka bukan tinggal di rumah singgah ataupun pulang pergi Bangka Belitung - Jakarta tetapi mengontrak di daerah dekat sini sambil bekerja. Aku tercengang, pasangan muda yang sungguh luar biasa dan mereka jauh dari orang tuanya. Apalah aku, yang kemana-kemana ibuku harus ikut.
Di ruang perawatan, akhirnya dokter menyatakan kalau Fawwaz bisa keluar rumah sakit dalam beberapa hari. Aku segera mengambil ponsel dan menelepon suamiku. Perasaanku begitu senang akhirnya Fawwaz mampu melewati semua ini. Jika dihitung, kurang lebih dua minggu sudah kami menjadi anak rantau di ibu kota.
Semakin hari, Fawwaz menunjukkan banyak kemajuan. Dia yang sebelumnya berjalan tergopoh-gopoh, kini sudah bisa berlari cepat. Dulu bicaranya belum lancar dan sekarang kosakata yang diucapkan bertambah.
Hari demi hari kulalui sambil menunggu waktu kontrol tiba. Kami menikmati waktu sambil jalan-jalan ke RSCM, setiap hari.
“Jalan-jalan di sini menyenangkan ya, Yah?”
“Iya seperti jalan-jalan ke mal, Nda.”
Kini hari yang kunanti tiba. Pagi buta kami mengantre untuk kontrol ke Dokter Rubiana. Aku berbisik dalam hati semoga hari ini beres dan bisa pulang ke Malang. Panggilan untuk Fawwaz terdengar, kami pun masuk ke ruangan.
“Bu, ini jantungnya sudah bagus tapi saya harus mengobservasinya lagi minggu depan. Gimana?” kata Dokter Rubiana.
“Lo, Dok? Kupikir sekarang sudah boleh pulang. Kami telah mengurus tiket kereta api. Jadwal pemberangkatan ke Malang nanti sore, Dok.” Dadaku berdegup kencang sekali mendengar pernyataan Dokter Rubiana.
“Dok, kalau kontrolnya di Malang bagaimana? Bersama dokter Dyahris Koentartiwi, Fawwaz ini pasiennya di Malang,” jelas suamiku.
“Oh, boleh, nanti saya rujuk balik via telepon ke Dokter Dyahris, ya.”
Alhamdulillah, Allah melancarkan segalanya. Setelah dari poliklinik kardiologi, Dokter Rubiana membuat rujukan ke poliklinik bedah untuk memastikan kondisi jahitan Fawwaz. Aku tak kuasa melihat ‘tato’ alias jahitan di dada Fawwaz. Kemudian dokter bedah mengedukasi kami cara merawat luka saat di rumah nanti.
“Terimakasih atas edukasinya, Dok. Ini sangat bermanfaat bagi kami, kini aku tidak takut lagi melepas dan mengganti perban baru. Kami semua ijin pamit untuk pulang ke Malang, Dok,” ujarku.
“Sama-sama, semoga selamat sampai tujuan, ya. Salam untuk Dokter Dyahris,” ucap dokter yang ramah itu.
Lelahku di sini terganti dengan kebahagiaan yang luar biasa. Sore ini, kami pulang menuju Malang, Jawa Timur. Selamat tinggal ibu kota yang penuh kenangan. Kenangan yang membawa seribu manfaat untuk keluargaku. Aku berdoa, suatu saat kalau aku menginjakkan kaki ke sini lagi bukan dalam rangka berobat, tapi jalan-jalan, itu impianku.
Pesan untuk para orang tua yang sedang berjuang. Teruslah semangat dan jangan menyerah. Semua perjuangan itu pasti ada titik terangnya. Terimakasih MORE Community, komunitas non profit yang berada di kota Malang. Aku bangga bisa bergabung dengan para ibu dari anak-anak dengan penyakit langka. Terimakasih juga Komunitas Pejuang Jantung (KPJ) yang dikelola Dokter Dyahris. MORE Community maupun KPJ adalah keluarga baru bagiku. Kami saling menyemangati dan saling menguatkan satu sama lain dalam merawat anak-anak istimewa kami.