Penulis: Dyah Ayu Esce

Hai, aku Dyah. Aku ibu dari empat anak. Tiga bersamaku, sedangkan yang satu telah kembali kepada Sang Maha Kuasa. Aku juga ibu dari empat janin yang gagal bertumbuh. Sebanyak tiga kali aku mengalami keguguran, satu di antaranya adalah kehamilan kembar.

Menjalani proses kehamilan yang tidak mudah, melakukan proses kelahiran melalui bedah cesar sebanyak empat kali, juga abortus spontan yang berakhir kuret, membuatku sering dituding memiliki rahim lemah.

"Kok hamil-hamil terus? Nggak takut keguguran lagi?"

"Nggak takut punya anak cacat lagi?"

"Cesar terus, nggak takut jebol rahimnya?"

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sudah sering aku dapatkan. Kadang, aku bisa menjawabnya dengan senyuman. Namun, kadang juga hatiku bergemuruh menahan amarah kala mendengarnya. Tidakkah kalian mengimani takdir Allah? _Lillah_, aku telah berusaha sebaik mungkin untuk menjalani garis takdir yang tertulis demikian.

Aku baru saja menjalani bedah cesar yang keempat. Anakku laki-laki, Zavier namanya. Sekarang dia sedang diobservasi. Sebenarnya tadi perawat mengatakan akan mengantar Zavier padaku jam sebelas. Namun, hingga lewat tengah malam kini, Zavier belum juga diantar.

"Aku tanya suster lagi, kenapa kok masih belum diantar." Suamiku bergegas ke luar kamar, menuju ruang perawat.

Kuakui, meski dokter kandungan menyatakan bahwa tidak ada kelainan anatomi yang tampak ketika dilakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG), aku tetap saja khawatir. Aku takut jika Zavier mengalami apa yang dialami kakak-kakaknya dahulu.

"Sebentar lagi katanya," ujar suamiku seraya duduk di kursi samping tempat tidurku. Aku mengangguk tanpa menghentikan zikir yang kulantunkan dalam hati.

Selang tiga puluh menit kemudian, perawat datang bersama bayiku. Senyumku merekah menyambut mereka.

"Ayahnya sudah bisa mengganti popok?"

"Bisa, Sus!" jawabku cepat tanpa persetujuan.

"Karena gerak Mama masih terbatas, jadi ayahnya yang harus melakukan. Bisa, ya?"

Bukannya menjawab pertanyaan perawat, suamiku jutru bertanya padaku. "Aku bisa nggak, Nda?"

"Kalau tidak bisa, bayinya saya bawa lagi karena ehm… karena….."

"Kenapa?"

"Bayinya belum buang air besar."

Darahku seolah berhenti mengalir dengan seluruh persendian yang lepas tanpa tenaga. Aku mematung sesaat. Memori tentang Aisha dan Zanky berlompatan secara cepat. Mengapa harus terulang kembali, Allah? Apakah aku belum lulus dengan ujian-Mu yang sebelumnya sehingga Engkau kembali memberikan masalah yang sama?

"Saya ingin menyusuinya," kataku pelan.

Perawat segera mengangkat bayiku ke samping setelah aku mengubah posisi yang semula tidur terlentang menjadi miring. Perawat membantu perlekatan hingga Zavier dapat menyusu dengan baik.

Hatiku bergetar saat bibir mungil itu menyentuh kulitku. Tarikan napasnya begitu tenang. Kupandangi bayi yang baru berusia delapan jam itu. Matanya terpejam. Kuraba bagian perutnya dengan hati teriris. Haruskah stoma kembali menghiasi perut mungil anakku?

"Akan kami laporkan segera jika dia sudah buang air besar, Suster." Aku menjaga nada suaraku agar tidak bergetar, berharap perawat segera meninggalkan Zavier di sini. Biarlah aku sendiri yang akan mengobservasinya, memastikan keadaannya baik-baik saja.

Perawat kemudian beranjak meninggalkan kami setelah Zavier dapat menyusu dengan benar. Sejenak, ada kelegaan dalam hati. Zavier kini ada di sisiku. Aku tidak ingin jauh darinya. Bahkan setelah selesai menyusu pun, aku melarang ayahnya yang akan menaruh Zavier di _infant bed_.

Kudekap Zavier dengan penuh pengharapan. Hatiku berzikir menyebut Asma-Nya, sementara pikiranku melayang, mengenang Aisha.

Aisha adalah anak keduaku yang lahir di kehamilan keempat. Kehamilan pertama dan keduaku mengalami keguguran spontan. Pada kehamilan ketiga, Allah menitipkan Zain yang kini menjadi anak pertamaku.

Masa kehamilan Aisha kulalui tanpa hambatan. Aku sama sekali tidak menemui kendala. Bahkan kebutuhan gizinya sangat tercukupi. Dokter kandungan yang mendampingiku ketika itu sangat perfeksionis. Dia menakar seberapa banyak aku harus mengonsumsi protein, karbohidrat, dan sebagainya. Juga melarang aku mengonsumsi makanan-makanan tertentu, seperti telur setengah matang, lalapan, sate, mie instan, dan makanan-makanan yang tidak terjamin kebersihannya. Bahkan, dia membuatkanku jadwal menu harian dan aku menurutinya dengan penuh syukur. Yang penting bayiku tumbuh sehat, tak apa jika aku harus menahan diri sebentar saja untuk tidak mengonsumsi sate madura kesukaanku. Namun, rupanya Allah memiliki skenario lain yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.

Aisha lahir melalui proses bedah cesar terencana pada terminasi kehamilan di usia 38 minggu. Dia lahir dengan tanpa menangis. Perlu waktu sekian detik, setelah ditepuk-tepuk kecil, barulah menangis. Berat badannya normal, 3,25 kg. Kulitnya bersih dan putih, hidungnya mancung, dan matanya berbinar sangat indah. Tak ada kata lain yang diserukan semua orang, kecuali dia sangat cantik. "Secantik bidadari bermata jeli," begitu pujian spontan dari ayahku saat pertama kali melihat Aisha.

Hingga hari kedua dalam hidupnya, Aisha belum juga buang air besar. Padahal, seharusnya bayi mengeluarkan mekonium dalam rentang 24 jam setelah dilahirkan. Namun, yang terjadi pada putriku justru mengeluarkan muntahan berwarna hijau. Perutnya kembung hingga urat-uratnya tercetak jelas mewarnai kulitnya yang putih.

Perut Aisha kembung…. Tersadar akan hal itu, aku segera meraba bagian perut Zavier. Agar lebih yakin, aku kemudian membuka bedongnya dengan cepat, membuka bajunya, lalu mengecek perut mungilnya. Tidak kembung. Suatu kelegaan memenuhi ruang dadaku. Lalu aku beralih membuka popoknya. Semua kulakukan dengan posisi miring, dibantu suamiku yang seolah tahu apa yang tengah bercokol dalam benakku.

"Belum," ucapnya saat melihat popok Zavier bersih tanpa noda.

Aku membuang napas lelah, terhempas pada masa lalu. Teringat pada sirine ambulans yang meraung membawa Aisha ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) kala aku masih dirawat di RS Melati Husada. Berbekal hasil foto perut yang menunjukkan adanya sumbatan dan bentuk usus yang katanya tidak wajar, Aisha dinyatakan suspek _hirschprung disease_.

Malam itu, ditemani suamiku, Aisha diterima di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSSA. Aisha kembali difoto perutnya dan dilakukan _spooling,_ suatu tindakan memasukkan cairan tertentu melalui anus guna memudahkan feses agar bisa keluar. Sayangnya, _spooling_ yang telah dua kali dilakukan tidak membuahkan hasil. Aisha belum bisa buang air besar. Aisha kemudian ditempatkan di ruang perinatologi RSSA bersama bayi-bayi sakit yang lain. Suamiku tidak diperkenankan untuk masuk mendampingi Aisha. Dia hanya boleh menunggui di luar ruangan dan siaga jika ada panggilan dokter.

Pada hari kelima usianya, Aisha menjalani operasi yang mengiris perutnya secara melintang. Temuan yang didapati kala itu adalah adanya sumbatan pada usus halus Aisha sehingga kelainannya disebut atresia ileum. Lalu seluruh usus besarnya diduga tidak memiliki ganglion sama sekali yang kelainannya disebut _mosture hirschprung_. Dokter membuat iliostomi di atas sumbatan usus halus Aisha dan akan memastikan dugaan anganglion melalui prosedur biopsi.

Aku kembali berjumpa kembali dengan Aisha pada hari kedelapan, saat dokter telah mengizinkan putriku untuk menyusu secara langsung. Pada hari itu juga, aku dijadwalkan untuk rawat stoma sebagai bekal agar aku bisa melakukannya di rumah.

Perawat datang membawa alat-alat medis, mulai dari gunting, kasa, cairan kimia yang entah isinya apa, dan masih banyak lagi. Perawat memintaku berdiri tepat di sisi kanan Aisha, sementara dia berdiri di depannya, dan satu orang perawat lagi di sisi kiri Aisha. Dengan sigap, dia mulai melepas baju Aisha. Aisha menggeliat bangun dari tidurnya.

"Ini stomanya," katanya lagi sambil menunjuk perut Aisha yang sudah tak mulus lagi. Ada kantong plastik menempel di perut kanannya, lalu di bagian atasnya terdapat perban yang dipasang melintang. Perawat kemudian melepas perekat di tepian kantong plastik, lalu tampaklah stoma Aisha. Melalui stoma itu Aishaku buang air besar. Jantungku berdegup kencang memperhatikan usus yang terburai keluar. Stoma yang disebut iliostomi itu telah melubangi perut kanan Aisha dan memotong usus halusnya yang tersumbat, lalu mengeluarkannya melalui dinding perut.

Ternyata, kotoran Aisha tidak semuanya tertampung dalam kantong plastik itu.

"Kalau perban ini terkena kotoran, harus diganti juga ya, Bu," ucap perawat sambil membuka perban yang membalut luka bekas sayatan operasi Aisha.

Aku semakin gemetar. Bukan hanya karena Aisha yang menangis semakin kencang, tetapi juga karena melihat bekas sayatan yang melintang sekitar 10 cm dari perut kanan hingga kiri Aisha. Luka itu jauh lebih panjang dibanding luka bekas bedah cesarku. Mataku nanar, memandang kulit putih perut Aisha dengan jahitan benang berwarna hitam. _Ya Rabb_, kenapa sakit ini kau timpakan pada Aisha putriku? Air mataku menetes tanpa bisa kutahan.

Merawat stoma Aisha bukan perkara mudah bagiku. Aku yang sebelumnya hanya bergelut dengan spidol dan papan tulis, kini harus akrab menggunakan kasa, gunting, cairan kimia, dan alat-alat medis lainnya. Bukan hal yang mudah saat tanganku harus menyentuh usus yang terburai keluar diiringi dengan kencangnya tangisan Aisha. Semakin dia menangis kencang, maka usus itu pun semakin membesar. Lalu ditambah lagi dengan pemandangan jahitan benang hitam di atas perut putihnya. Sehingga tidak jarang, aku pun ikut menangis jika Aishaku menangis kesakitan saat kubersihkan stomanya.

"Nda…," suamiku mengusap lenganku.

Aku tersentak dan kembali pada masa kini. Zavier rupanya menangis kehausan. Aku kembali memposisikan diri untuk menyusuinya. Entah berapa lama pikiranku tadi berkelana.

Hal tersulit yang kurasakan saat merawat iliostomi Aisha adalah adanya iritasi yang mengelilingi stomanya. Ada luka di sekitar stoma yang sudah tidak mempan lagi diobati dengan _stomahesive powder_. Iritasi itu akibat dari kotoran dari iliostomi yang sering tidak tertampung.

Suatu ketika, aku melihat adanya kotoran yang keluar dari lubang lain selain lubang stoma yang seharusnya. Lubang itu letaknya di bawah stoma. Lalu saat Aisha menangis, tiba-tiba ada usus lain yang keluar dari lubang itu. Aku gemetar mendapati pemandangan yang bagiku itu sangat menakutkan. Segera kuhubungi dokter bedah anak yang menangani Aisha, kufoto stomanya, lalu beliau meminta kami untuk segera membawa Aisha ke IGD RSSA.

Hernia parastomal, itulah nama medis yang terjadi pada Aisha. Dia harus kembali menjalani operasi. Usianya satu setengah bulan ketika itu. Berbeda dengan operasi pertama dulu yang hanya ditunggu oleh suamiku, kali ini aku sendirilah yang menyerahkan Aisha ke tim dokter di ruang operasi. Dengan mata kepalaku, aku menyaksikan Aisha dibius, lalu dibawa masuk ke ruang operasi.

Sakit membawa hikmah, begitu pikirku dulu. Operasi itu menghasilkan _santulli procedure_, usus halus Aisha yang mengarah pada usus besar dan anus telah disambung karena hasil biopsi menyatakan bahwa ganglion pada usus besar Aisha ada dan seluruhnya aktif. Aisha kemudian memiliki dua lubang pembuangan untuk buang air besar, yaitu iliostomi dan anus seperti manusia normal lainnya. _Santulli procedure_ akan membiasakan usus halus Aisha yang kecil dan berantakan itu bekerja dan segera membesar.

Suara kentut yang terdengar lantang kembali membuatku tersadar dari lamunan mengenang masa lalu. Suamiku terkekeh-kekeh sambil mengusap lesung pipi Zavier.

"Kenapa?" tanyaku tak mengerti pada binar bahagianya.

"Dia kentut."

"Oh," ucapku masam. Lalu kutarik napas panjang guna mengusir seluruh pikiran buruk yang menghantui. Jangan lagi ya Allah, jangan lagi…. Hamba tidak ingin mengurusi stoma lagi, Allah.

"Kalau dia bisa kentut, artinya kan salurannya ada. Ususnya nggak ada yang tersumbat kan, berarti?"

Senyumku merekah mendengar suara riang suamiku. Seolah ada angin surga yang bertiup di sini. Bebanku lepas beberapa. Kukecup kening Zavier dengan penuh sayang, "Sehat-sehat ya, Nak."

Aku lalu kembali berzikir, menyebut asma-Nya. Menumpahkan seluruh pengharapan agar bayiku tumbuh sehat. Menit berlalu berganti jam. Tepat pukul empat pagi, pada usia 12 jam kelahirannya, Zavier mengejan.

Aku benar-benar melihat dia mengejan. Dia mengerutkan keningnya, bibirnya melengkung indah, dan terciumlah wangi yang kunanti. Dengan mata berkaca-kaca, aku membuka bedong Zavier, lalu membuka popoknya dibantu suamiku. Biarlah meski sebelumnya aku telah berjanji bahwa ayahnya yang akan melakukan ini, tapi kini aku ingin memastikan sendiri. Aku ingin melihat dengan kedua mataku sendiri mutiara-mutiara hitam itu di popok Zavier.

Alhamdulillah nyata. Aku tidak sedang berhalusinasi. Zavier benar-benar buang air besar.

"Nda, Zavier buang air besar, Nda…. Dia buang air besar."

Aku langsung merangkul suamiku dan kami menangis haru. Mungkin bagi orang lain hal ini biasa saja, tapi bagi kami ini sungguh bermakna. Kami bahagia…. Kami bahagia…. Kuciumi kotoran itu dengan tangis dan tawa, sama persis seperti yang aku lakukan saat mendapati Aisha pertama kali buang air besar dulu.

Jika kalian masih bertanya-tanya, mengapa kami selebay itu mendapati anak buang air besar? Bukankah itu perkara lumrah? Biasa saja! Sepele! Bukan hal istimewa?! Maka kembali aku sampaikan bahwa aku mendapati Aisha bisa buang air besar melalui anusnya adalah saat dia berusia dua bulan, setelah melewati dua tahapan operasi. Sementara Zanky, anak ketigaku baru buang air besar setelah usianya tujuh hari. Tujuh hari!

Zanky juga?

Iyaaa… Zanky juga!

Zanky yang lahir melalui program kehamilan setelah aku berkonsultasi pada Dokter Spesialis  Obstetri dan Ginekologi (Obgyn) Subspesialis Fetomaternal, terlahir dengan kelainan _Meconium Plug Syndrome_.

"Kakaknya kelainan. Ini juga pasti sama dengan kakaknya," begitu ucap dokter anak yang membantu proses kelahirannya dulu, setelah dua kali dua puluh empat jam Zanky belum juga buang air besar.

"Waktu dalam kandungan, semua dokter bilang dia sehat!" sergahku tidak terima.

"Ini harus dirujuk. Harus dirujuk!"

Aku menangis histeris kala dokter mengatakan demikian.

Dokter lantas melakukan foto _babygram_ sekaligus foto perut_._ Seorang dokter radiologi diminta hadir saat itu juga dengan alasan _cito_. Nyatanya, hasil foto menunjukkan normal. Zanky batal dirujuk. Diagnosis per diagnosis pun bermunculan. Ginjal Zanky dicek. Hatinya pun juga. Semuanya normal. Zanky juga diduga hipotiroid, tapi hasil tes tiroidnya normal.

"Ini yang masalah di mamanya. Mama mau ya, konsul psikolog," kata dokter kandungan.

Aku kembali histeris. "Kenapa saya harus ke psikolog? Saya baik-baik saja!"

Namun, pada akhirnya aku mengalah. Demi Zanky, demi anakku, maka aku kemudian berkonsultasi. Psikolog membawaku kembali ke titik nol. Titik di mana aku berada dalam kondisi pasrah sepasrah-pasrahnya. Pasrah pada apa pun ketetepan Allah. Percaya bahwa apa pun garis takdir yang Allah pilihkan itu adalah yang terbaik untuk kami jalani.

Aku menyerah.

Bukan putus asa.

Aku hanya berserah. Menyerahkan semuanya pada kehendak-Nya.

Hari keenam, Zanky belum juga buang air besar. Dokter tidak bisa membuatkan rujukan karena Zanky tidak dalam kondisi kesakitan. Dia baik-baik saja, tidak kembung, juga tidak muntah dengan warna hijau. Plafon BPJS pun habis. Zanky dipulangkan dengan catatan, besok kembali lagi ke rumah sakit karena dia tampak kuning.

Suamiku yang sebelumnya bernazar akan menyedekahkan sekian rupiah jika Zanky sehat, menjadi batal. Batal karena nasehat seorang ustaz.

"Sedekahkan sekarang saja, Pak. Jangan tunggu nanti. Sedekahkan sekarang dan jangan mengharap imbalan."

Kami menurut. Kami bersedekah saat itu juga.

Tepat keesokan harinya, ternyata Allah telah mengatur sebuah ketetapan yang luar biasa. Saat Zanky sedang asyik menyusu, tiba-tiba dia menggigit. Aku menjerit, lalu diam kala melihat raut wajahnya. Dia sedang mengejan.

Masyaallah.

Belum dalam hitungan detik, terdengarlah bunyi gemuruh dari dalam popok Zanky. Dia buang air besar. Mekonium yang telah tertahan selama tujuh hari itu pun keluar. Keluar dengan sendirinya. Keluar tanpa alat bantu apa pun.

Aku bersujud. Aku menangis haru. Kukabarkan berita luar biasa itu pada seisi rumah, pada suami, orang tua, juga mertua. Kami menangis bahagia. Kami melakukan sujud syukur bersama.

Maha Suci Allah. Sungguh, garis takdir-Mu luar biasa indah.

Masalah Zanky tidak selesai sampai di situ saja. Aku masih punya trauma. Aku masih selalu diliputi oleh ketakutan. Karena berdasarkan apa yang aku baca, sebagian besar _meconium plug syndrom_ akan berlanjut pada _hirschprung disease._

Ketika sehari saja Zanky tidak buang air besar, aku pasti kalang kabut. Aku akan menangis tersedu-sedu di sampingnya.

"Nak, ayo, Nak. Ayo buang air besar."

Aku berdosa. Aku pernah berdosa. Beberapa kali aku pernah mencongkel anus Zanky agar dia buang air besar.

"Nda, sehari saja nggak buang air besar itu nggak apa-apa. Kamu sendiri kan juga pernah nggak buang air besar," begitu suamiku menenangkan.

Tapi ini beda! Kasus Zanky beda! Zanky harus buang air besar setiap hari sebagai tanda bahwa dia tidak mengalami penyakit hisprung! Aku harus memperhatikan setidaknya hingga usianya setahun. Aku harus memastikan bahwa buang air besarnya lancar.

Pernah, aku menginginkan dia melakukan tindakan _colon in loop_ (CIL) guna melihat keadaan ususnya.

"Ma, CIL itu sakit. Saya tidak akan melakukan tindakan itu. Bayi ini sehat. Mama cukup pantau saja apakah dia kesakitan saat buang air besar, apakah fesesnya keras, apakah fesesnya seperti tahi kambing, apakah fesesnya sangat bau, apakah perutnya keras dan sering kembung, apakah dia jarang atau terlalu sering buang air besar. Jika semua itu tidak terjadi, maka Mama tidak perlu khawatir. Waspada boleh, Ma, tapi jangan berlebihan."

Begitulah…. Hingga setahun kemudian, pemantauan Zanky pun selesai. _Meconium plug syndrom_ yang dialaminya cukup berhenti di sana, tidak berlanjut pada _hirschprung disease_. Alhamdulillah.

Lalu, bagaimana tentang Aisha? Apa yang terjadi setelah dia bisa buang air besar melalui anusnya?

Sejak Aisha telah bisa buang air besar melalui anus, aku melihat ada hal buruk yang lain lagi pada Aisha. Kali ini bukan tentang stoma. Kurasakan semakin hari Aisha semakin lemah. Menangisnya semakin pelan. Matanya cekung, menandakan dia sedang dehidrasi. Dan hari itu, tepat dua minggu setelah Aisha keluar dari RS, aku mendapati Aisha menangis tanpa air mata. Tidak hanya matanya saja yang cekung, tetapi ubun-ubun Aisha pun cekung. Aisha mengalami dehidrasi berat.

Malam itu, hingga dua minggu lamanya, aku dan Aisha kembali menginap di RSSA. Kehidupan tidak normal kembali kurasakan. Aku bersama Aisha tidur di RSSA, sementara suamiku dan Zain tidur di rumah. Pagi hingga siang hari, Zain ikut suamiku ke tempat kerja. Sepulang kerja, mereka akan datang menemui kami di RSSA, membawakan keperluan kami, bercengkrama sebentar, lalu kembali pulang membawa setumpuk pakaian kotor. Mengenai pekerjaanku sendiri, alhamdulillah kampus mengizinkanku untuk mengambil izin seluas-luasnya selama aku mendampingi Aisha. Terima kasih IKIP Budi Utomo.

"Seharusnya ada progres. Dengan _santulli procedure_ ini seharusnya keluaran di stoma semakin berkurang dan keluaran di anus semakin banyak," ungkap dokter bedah anak suatu ketika.

Aisha kemudian dialihkan ke dokter spesialis anak subspesialis gastro-hepatologi, seorang dokter yang menangani masalah pencernaan pada anak. Beliau memberikan beberapa resep untuk Aisha, serta memintaku menakar susunya, memastikan bahwa Aisha benar-benar tidak kekurangan asupan. Berat badan Aisha pada usia 2,5 bulan ketika itu adalah 2,8 kg.

Meski aku telah mengikuti saran dokter, aku kembali melihat tanda dehidrasi ada pada Aisha lagi. Mata Aisha kembali cekung dan tangisannya sangat lemah. Berat badan Aisha naik saat dia dibantu dengan infus. Lalu perlahan turun saat infus dilepas. Saat di RSSA dulu, berat badannya bisa mencapai 3,1 kg. Dia seolah ketergantungan pada infus. Aku kembali membawa Aisha ke dokter.

"Rawat inap ya, Bu," kata dokter spesialis anak subspesialis gastro-hepatologi saat memeriksa Aisha dengan gejala dehidrasi. Aku tersenyum getir. Dokter menuliskan surat pengantar agar Aisha dirawat.

Dalam perjalanan menuju RS tempat Aisha akan dirawat, aku menangis, merasakan beban begitu berat, seolah ada batu seberat satu ton menindihku. Aku tak ingin kembali menginap di RS, toh dehidrasi Aisha masih dalam kategori ringan. Kami pun akhirnya memutuskan untuk _second opinion_ dengan menemui Dokter Spesialis Anak Subspesialis Gizi dan Nutrisi. Beruntung saat itu tepat jam praktiknya.

"Dehidrasinya masih ringan. Saya pasangkan NGT saja. Pastikan dia minum sesuai takaran."

Seperti kejatuhan bunga-bunga wangi bermekaran, aku tersenyum lebar. Aisha dibawa ke IGD, lalu dipasanglah selang yang terhubung dari hidung hingga lambungnya. Selang itu disebut NGT, _Naso-Gastric Tube_. Dengan adanya NGT ini aku diminta untuk memasukkan susu melalui NGT. Hanya sesekali saja Aisha minum langsung dengan mulutnya.

Tiga hari setelah Aisha menggunakan NGT dan aku benar-benar telah memberinya susu sesuai takaran, Aisha tampak semakin lemah. Dehidrasinya semakin berat. Sama seperti yang terjadi sebelumnya, dia kembali menangis tanpa suara dengan mata dan ubun-ubun yang cekung. Siang itu, akhirnya aku kembali menghubungi suamiku di tempat kerjanya dan memintanya mengantar kami ke IGD lagi. Kami memilih RS Lavalette untuk rawat inap Aisha kali ini. Tujuannya, agar Aisha ditangani langsung oleh dokter spesialis anak subspesialis gastro-hepatologi.

Setelah memberikan surat pengantar yang dibuatkan dokter tiga hari sebelumnya, lalu menceritakan bahwa aku sempat mencari _second opinion_, dokter IGD segera mempersilakan suamiku untuk mengurus administrasi agar Aisha bisa rawat inap di sana. Aku kembali merasakan hidup tidak normal lagi. Berdua bersama Aisha di RS, sementara suamiku bekerja sambil mengurus Zain.

Seminggu setelah Aisha dirawat di RS Lavalette dan dehidrasinya telah teratasi, aku merasakan lelah dan jenuh yang teramat sangat. Dokter gastro masih belum mengijinkan Aisha pulang karena saat infus dilepas, berat badan Aisha kembali turun, seperti biasanya tentu saja. Beliau masih berusaha mencari jalan keluar untuk keadaan Aisha.

"Aku rasanya udah nggak kuat lagi, aku benar-benar capek." Emosiku meluap diikuti tangis yang semakin kencang. Suamiku memeluk erat. Napasnya memburu. Sepertinya pun ingin menangis.

"Kalau kamu sudah nggak kuat lagi, sekarang doa kita diubah saja. Jangan minta kesembuhan untuk Aisha, tapi kita minta terbaik untuknya, untuk kita, dan untuk semua," kata suamiku setelah terdiam beberapa saat.

Kami lantas menangis barsama. Sebuah keputusan berat yang kemudian kami sepakati untuk dijalani. Mengubah doa.

Tepat pada tanggal 1 Maret 2017 Aisha terlihat sangat sehat. Dokter tersenyum senang saat memeriksa Aisha. Beliau bilang, Aisha bisa pulang besoknya jika hari itu kondisinya terus stabil. Aisha juga terlihat sangat ceria. Matanya yang bulat berbinar sangat indah. Aisha menyusu dengan pintar. Saking lincahnya hari itu, Aisha berhasil menarik NGT serta selang infusnya hingga terlepas.

Namun, sesuatu menegangkanku pada malam harinya. Ada bercak darah di perban yang menutup stoma Aisha. Aku segera menghubungi dokter bedah anak untuk mengkonsultasikan kondisinya. Tapi, karena saat itu Aisha sedang dalam perawatan di RS bersama dokter lain, maka dokter bedah anak akan melakukan tindakan setelah mendapatkan konfirmasi dari dokter spesialis anak subspesialis gastro-hepatologi.

Dini hari keesokannya, aku melihat Aisha mengejan. Awalnya aku senang karena itu berarti dia akan buang air besar melalui anusnya, setelah hampir seminggu nyaris tidak buang air besar melalui anus. Aku memekik girang saat membersihkan pantat Aisha. Namun, selang beberapa menit kemudian, saat popok telah kuganti, aku mendapati Aisha seperti terengah-engah kelelahan. Segera kugendong Aisha, berlari menuju ruang perawat.

"Suster, Aisha ini kenapa?" kataku setengah berteriak.

Perawat segera mengambil Aisha dan membawanya ke ruang tindakan. Dokter jaga pun segera datang.

"Mama tunggu di luar, ya, berdoa. Kami di sini akan berusaha semaksimal mungkin."

Aku keluar ruangan dengan gemetar. Kuhubungi suami untuk ke RS segera. Lalu kuhubungi pula orang tua dan mertua, bahwa Aisha sedang kritis. Sayup-sayup aku mendengar dokter dan perawat yang kebingungan karena selang infus Aisha telah dilepas. Beberapa kali, aku sempat melihat mereka melakukan resusitasi jantung.

Aku menangis, berdoa minta yang terbaik untuk Aisha. Beberapa menit kemudian, dokter datang menemuiku.

"Ma, adik sudah meninggal. Mama yang ikhlas, ya…."

Tangisku pecah kembali, tapi hanya sesaat. Kembali kuhubungi suami yang masih dalam perjalanan menuju RS, lalu kuhubungi juga keluarga dan teman-teman, bahwa Aisha sudah tiada.

_Innalillahi wa inna ilaihi roojiuun._

Pagi itu, 2 Maret 2017 Aisha telah kembali ke pangkuan-Nya.

Allah telah memimpinku melakukan sesuatu yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Dengan kekuatan-Nya, aku mampu berjalan maju untuk berada di tempat yang tepat di mana Allah ingin aku berada. Telah lebih lima tahun kepergian Aisha. Kenangan bersamanya tidak akan pernah pudar.

Rencana Allah sungguh indah. Dia mengantarku untuk mengenal penyakit langka dan anak-anak berkebutuhan khusus melalui Aisha. Lalu Dia mengambil kembali anakku, dan meninggalkan hatiku yang telah terpaut dengan ibu-ibu istimewa. Saat dulu ada Aisha, waktuku terfokus padanya. Jiwaku berpusat pada anakku saja. Namun, kini dengan kepergian Aisha, aku memiliki ruang gerak yang lebih banyak untuk merangkul dan menguatkan mereka.

Bismillah…. Doakan aku agar terus istikamah bersama MORE Community.