Penulis: hajroon Jameela
“Dor! Dor! Dor!” Ayda membentuk telapak tangannya seperti sebuah pistol dan menembakiku berulang kali.
“Aaah.…” Aku terkapar di lantai, berpura-pura mati tertembak olehnya.
Ayda terus menembakiku sambil tertawa senang. Aku bangkit lalu menghujaninya dengan pelukan dan ciuman. Kami tertawa bersama hingga kelelahan.
Benar kata orang, memiliki anak perempuan seperti memiliki seorang sahabat untuk selamanya.
**
“Orang anaknya nggak kenapa-kenapa, kok! Kenapa dikasih obat? Ini obatnya pasti yang malah bikin dia sakit!”
Aku hanya bisa terdiam mendengar reaksi ibuku saat kukatakan padanya bahwa Ayda mengalami epilepsi dan harus mengonsumsi obat kejang. Meskipun dadaku sesak, aku berusaha untuk memahami sikapnya. Mungkin ibuku hanya belum paham saja bahwa tidak semua epilepsi menunjukkan kejang kelojotan. Kejang yang dialami Ayda memang sangat samar, seperti orang bengong. Tidak akan ada yang menyangka ia sedang mengalami kejang. Awalnya pun, aku tidak menyangka sama sekali.
Ayda adalah putri pertamaku. Ia terlahir normal dan sehat. Tumbuh kembangnya juga sangat baik. Ia sudah bisa berjalan saat berusia 11 bulan. Beberapa kali aku mengikutkannya dalam lomba bayi sehat. Bahkan ia sempat menjadi pemenang. Jelas saja ia menang. Ayda kecil sangat menggemaskan. Kulitnya putih bersih dan pipinya chubby, sepadan dengan badan gemuknya.
Hari saat Ayda lahir satu setengah tahun yang lalu, adalah hari yang paling membahagiakan bagiku. Aku dan suamiku memberinya nama yang sangat indah, ‘Ayda Nafeeza Yasmin’. Dengan nama itu, kami berharap kelak ia menjadi secantik permata yang penuh dengan keberuntungan dan bisa bermanfaat bagi sesama.
Tidak ada yang pernah menduga kondisi Ayda menjadi buruk seperti ini. Kata dokter ia mengalami epilepsi akibat dehidrasi berat. Ia kehilangan semua kemampuan yang sudah dimiliki sebelumnya.
Satu bulan yang lalu, aku mendapati Ayda mengalami demam tinggi. Ia sangat rewel dan tidak mau menyusu padaku. Sebagai ibu baru, tentu aku sangat khawatir dan kebingungan. Aku menghubungi dokter anak langgananku, tetapi beliau sedang tidak praktik karena saat itu hari libur.
Aku memutuskan untuk membawanya ke IGD rumah sakit terdekat. Di sana, Ayda diperiksa oleh seorang dokter jaga. Ternyata Ayda tertular flu singapura. Mulutnya penuh dengan sariawan. Itulah yang membuat ia rewel dan menolak untuk menyusu padaku. Pada tangan dan kakinya juga terdapat bercak-bercak merah yang tidak aku sadari sebelumnya.
Flu singapura atau yang juga dikenal dengan nama Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus yang umum terjadi pada anak-anak. Penyakit ini mudah sekali menular. Dokter bisa mendiagnosis penyakit ini dengan melihat gejalanya yang khas, yakni sariawan di lidah, gusi, dan bagian dalam pipi, serta ruam merah dan bintil-bintil di telapak tangan dan kaki. Umumnya, penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya setelah 7 hingga 10 hari. Begitu menurut artikel yang aku baca di situs pencari.
Meskipun Ayda mengalami dehidrasi, kondisinya sudah mulai stabil dan tidak rewel seperti saat di rumah. Dokter hanya meresepkan obat untuk menurunkan demamnya dan mengizinkan kami untuk pulang. Aku membawa Ayda pulang dengan harapan demamnya segera turun setelah minum obat dan ia bisa makan dan minum dengan lahap seperti sediakala.
Keesokan harinya, kondisi Ayda tidak membaik sama sekali. Demamnya tidak kunjung turun dan ia masih saja tidak mau makan, minum, ataupun menyusu padaku. Karena khawatir, aku membawanya ke dokter anak langgananku.
“Ini sudah dehidrasi berat, Bu. Harus opname,” ujar dokter saat itu. Wajahnya terlihat panik, tetapi beliau berusaha untuk tidak menunjukkan kepanikannya padaku.
Kukira hanya perlu satu atau dua hari saja. Kukira setelah ia pulang ke rumah, ia akan kembali menjadi Ayda yang ceriwis dan suka bernyanyi. Namun, aku salah.
Ayda baru diizinkan pulang setelah satu minggu dirawat di rumah sakit. Setelah sampai di rumah pun Ayda masih terlihat lemas, tidak seperti Ayda yang sebelumnya. Saat itu kupikir ia hanya masih lemas saja karena baru sembuh dari sakit.
Satu hari..., dua hari..., tiga hari..., hingga satu minggu aku menunggu. Namun, Ayda masih saja terlihat lemas dan tidak bersemangat seperti sebelumnya. Ia lebih banyak diam dengan pandangan kosong. Beberapa kali aku melihat kepalanya terjatuh ke depan saat ia sedang duduk, seperti orang mengantuk. Instingku sebagai seorang ibu mengatakan ada yang tidak beres pada Ayda. Aku kembali membawanya ke dokter anak.
“Lo, ini tanda-tanda epilepsi,” kata dokter sambil mengernyitkan dahi setelah mendengar ceritaku tentang perilaku Ayda selama di rumah dan melihat kondisi fisik Ayda secara langsung.
“Epilepsi itu apa, Dok?” tanyaku polos.
“Epilepsi itu kejang, Bu.”
“Tapi, Ayda nggak kejang, kok,” sanggahku sok tahu. Yang aku lihat Ayda memang tidak mengalami kejang. Badannya tidak kelojotan.
Dokter mengambil kertas dan pulpen di laci mejanya lalu mulai menulis. Aku menunggu jawaban sambil berusaha mengintip apa yang ditulisnya di kertas tersebut. Yah, meskipun usahaku gagal total.
“Ini hanya dugaan saya berdasarkan tanda-tanda yang ada. Tapi, untuk memastikan, sebaiknya Ibu berkonsultasi dengan dokter saraf anak.” Beliau lalu menyerahkan kertas berisi surat pengantar untuk dokter saraf anak. “Sekarang cek darah dulu, ya,” lanjutnya sambil menyerahkan selembar kertas lagi.
Aku masih berusaha positive thinking dan menepis dugaan dokter anak. Bergegas, aku pergi ke laboratorium untuk cek darah Ayda. Pasti hasilnya baik, pasti Ayda tidak apa-apa, ujarku berulang di dalam hati.
“Hasilnya baik.” Kata-kata dokter saraf anak membuatku lega. Menurut hasil cek darah, kondisi kesehatan Ayda baik. Tidak ada masalah sama sekali.
Aku mengucap syukur sambil berulang kali mengecup kening Ayda.
“Ibu sudah tahu kondisi anak Ibu?” tanya dokter ketika membaca kertas dari dokter anak sebelumnya.
“Lo, katanya hasil cek darahnya bagus. Berarti kondisi anak saya baik-baik saja, kan, Dok?” tanyaku. Perasaan lega yang sebelumnya aku rasa berubah menjadi kesal dan khawatir seketika.
“Baik. Kita EEG dan CT-scan dulu, ya. Ibu tidak perlu panik.”
Panik? Aku sama sekali tidak panik. Aku hanya kesal. Kenapa informasi yang diberikan berubah-ubah?
Tanpa berpikir panjang, aku bergegas membawa Ayda untuk tes EEG. EEG atau electroencephalography dilakukan untuk melihat aktivitas listrik di otak. Tes ini berfungsi untuk mendiagnosis gangguan pada otak, terutama epilepsi dan gangguan kejang lainnya.
Namun, sepertinya keberuntungan tidak berpihak padaku hari itu. Aku tidak tahu kalau saat menjalani tes EEG, anak harus dalam kondisi tertidur. Sedangkan saat itu bukan jam tidur Ayda. Terpaksa aku pulang dengan tangan kosong.
Malam harinya aku menahan Ayda agar tetap terjaga. Hal itu bertujuan agar keesokan harinya saat tes EEG dilakukan, ia dalam kondisi mengantuk dan bisa tertidur pulas. Tips itu disarankan oleh salah satu petugas di ruang radiologi dan ternyata berhasil.
Tidak lama kemudian, hasil EEG dan CT-scan sudah aku terima. Segera aku membawanya ke dokter saraf anak. Aku masih berusaha terus positive thinking.
Namun, ketika dokter saraf anak membacakan hasil EEG aku sudah tidak bisa berkelit lagi. Hari itu duniaku seakan runtuh. Hancur.
“Ini gelombang otaknya tidak normal, Bu. Epilepsi.”
“Epilepsi? Kok bisa, Dok?”
“Kalau dari riwayat anak Ibu, kemungkinan karena dehidrasi berat. Ibu fokus saja pada apa yang bisa Ibu lakukan saat ini. Kita lakukan yang terbaik untuk penyembuhan dan pengobatan anak Ibu,” ucap dokter saraf anak.
Aku setuju dengan ucapan dokter. Namun, jauh di dalam lubuk hatiku, ada rasa bersalah yang sangat besar. Aku merasa lalai sebagai seorang ibu. Kondisi Ayda adalah kesalahanku.
“Apa bisa sembuh, Dok?” tanyaku.
“Nanti saya beri Obat Antiepilepsi (OAE). Obatnya harus diminum teratur sesuai dosis dan tidak boleh telat. Insyaallah bisa sembuh jika Ibu telaten,” ucap dokter. “Saya bekali Stesolid juga untuk keadaaan darurat di rumah jika kejangnya berlangsung lama,” lanjutnya.
Air mata membasahi pipiku saat mendengar semua penjelasan dokter. Rasanya seperti mimpi. Semua terdengar sangat menakutkan.
“Mama, jangan sedih. Mama sudah melakukan yang terbaik untuk Ayda. Mama sudah menyelamatkan Ayda.” Suamiku berusaha menenangkan. Dokter menyetujuinya.
“Menyelamatkan Ayda bagaimana?” ucapku sambil terisak.
“Epilepsi bisa berbahaya jika tidak segera ditangani dengan tepat. Ibu sudah menyelamatkan anak Ibu dengan menyadari kondisinya dan segera membawanya ke dokter. Seandainya Ibu tidak peka, bisa jadi kondisi anak Ibu saat ini lebih parah,” jawab dokter saraf anak.
Tangisku semakin tak terbendung mendengar jawaban dokter. Rasanya urat maluku sudah putus saat itu. Aku menangis meraung-raung.
Namun, itu semua tidak lebih menyesakkan hatiku dibanding saat mendengar kata-kata ibuku. Padahal dukungan darinyalah yang paling aku butuhkan saat ini. Mengapa ia tidak memelukku saja? Mengapa ia tidak mendukungku saja?
**
Hari demi hari berlalu. Kejang tak lagi menjadi musuh yang menakutkan bagiku. Aku sudah bisa menerima takdir dan bersahabat dengannya. Tiap kali kejang menyapa, badan Ayda menjadi kaku dan rahangnya mengatup sangat kuat. Biasanya itu terjadi saat ia hendak tidur. Untungnya itu tidak pernah berlangsung lama. Hanya beberapa menit saja.
Namun, tumbuh kembang Ayda yang mengalami kemunduran membuatku sedih. Ia kehilangan kemampuan berjalan dan berbicara. Aku sangat merindukan Ayda yang dulu. Aku ingin sekali bernyanyi Balonku bersamanya lagi.
“Dok, kenapa sekarang anak saya diam saja, ya? Dia juga tidak bisa berjalan sendiri. Padahal sebelumnya sudah bisa.” Aku menceritakan kesedihanku pada dokter.
“Itu karena kejangnya, Bu. Saya sarankan Ibu membawanya fisioterapi dan terapi wicara,” ujar dokter.
Aku menuruti saran dokter. Mengantar Ayda terapi menjadi rutinitas baru bagiku. Aku berusaha menikmatinya, meskipun sedikit melelahkan. Namun, yang lebih melelahkan adalah berusaha tetap kuat tiap kali ibuku menyalahkanku atas kondisi Ayda saat ini.
“Kamu tuh nggak bisa merawat anakmu dengan baik! Makanya anakmu sekarang kayak gini!” hardik ibuku.
Lagi-lagi aku hanya bisa diam. Meskipun terluka, aku tak sampai hati menjawabnya. Orang bilang kasih sayang nenek kepada cucu melebihi kasih sayang ibunya. Mungkin ibuku sangat terpukul dengan kondisi Ayda. Menyalahkan aku adalah caranya untuk menutupi perasaannya yang terluka.
Ketika ibuku selesai dengan semua kata-katanya, aku berlari ke kamar. Kulihat Ayda di atas kasur. Begitu banyak kata yang ingin kusampaikan padanya. Namun, aku hanya bisa memeluknya sambil menangis sejadi-jadinya.
Ayda, mama minta maaf karena mama sudah jadi mama yang gagal. Mama minta maaf karena sudah membuat Ayda menjadi seperti ini. Ayda tidak lagi bisa berjalan dan berbicara. Ayda harus minum obat kejang setiap hari. Ayda harus menahan rasa tidak nyaman saat serangan kejang datang. Dan mungkin Ayda tidak akan bisa seperti anak-anak lain.
Tapi, Ayda harus tahu. Mama sangat menyayangi Ayda. Rasa sayang mama tidak akan berkurang meskipun kondisi Ayda berbeda. Mama akan lakukan semua yang terbaik untuk Ayda. Mama akan selalu ada untuk Ayda.
“Ayda begini bukan salah siapa-siapa, Ma. Ini adalah takdir Allah. Kita pasti bisa melalui ini semua.” Suamiku berusaha menenangkan.
Aku sangat bersyukur memiliki suami yang begitu suportif. Ia selalu ada saat aku sedang terpuruk. Ia selalu menenangkan aku tanpa menyalahkan dan menghakimi. Bukan hanya dirinya, kedua orang tuanya adalah support system terbaik dalam hidupku. Aku tak tahu apa jadinya aku tanpa mereka.
**
“Mama! Mama! Mama harus tahu ini!” teriak suamiku saat masuk ke dalam kamar tempat aku dirawat. Aku baru saja melahirkan sepasang bayi kembar. Ya, Ayda memiliki sepasang adik kembar.
“Ada apa sih, Pa?”
“Kakak Ayda bisa jalan sendiri, Ma!”
“Masyaallah! Benar, Pa?” Aku meneteskan air mata bahagia mendengarnya.
Bukan main senangnya hatiku. Bukan hanya karena Ayda bisa berjalan, namun kabar dari suamiku juga menyadarkan akan satu hal. Bahwa Ayda mampu memahami kata-kataku.
Padahal aku hampir saja putus asa. Ayda sudah menjalani terapi sejak berusia 22 bulan. Namun, ia masih saja belum bisa berjalan hingga berusia 3.5 tahun. Semua usaha terbaik sudah kami lakukan. Terapis memberinya sepatu khusus bernama AFO. Bahkan sampai sepatunya tidak lagi cukup di kaki Ayda, ia masih belum bisa berjalan.
Tidak hanya terapi, beberapa kali keluargaku juga membawanya ke tempat pengobatan alternatif sampai ke orang pintar. Meskipun aku sama sekali tidak mendukung hal-hal semacam itu, tapi aku membiarkan keluargaku melakukannya. Aku hanya menolak jika sudah tidak masuk di akal, seperti mengganti nama dan mandi kembang. Mana bisa mandi kembang menyembuhkan epilepsi? Yang ada, Ayda malah masuk angin.
Ketika kehamilanku semakin besar, Ayda sempat berhenti terapi karena aku harus bed rest dan tidak ada yang bisa menggantikanku mengantarnya ke tempat terapi. Namun, aku sering kali melakukan sounding kepadanya. Aku mengetahui cara ini dari pakar-pakar psikologi dan ilmu parenting. Sounding dilakukan dengan mengucapkan kata-kata positif secara berulang-ulang saat anak dalam kondisi di alam bawah sadarnya.
“Kakak Ayda, nanti kalau adik lahir, kakak Ayda lancar jalannya, ya,” bisikku sambil mengelus kepala Ayda yang tertidur di sampingku.
Bagai keajaiban, hari ini, dua hari setelah adiknya lahir, Ayda benar-benar bisa berjalan sendiri tanpa harus dipegangi. Meskipun masih sempoyongan, ini adalah kemajuan yang sangat pesat. Hal yang sangat aku tunggu-tunggu sejak satu tahun lalu.
**
“Alhamdulillah, gelombang otaknya sudah normal, Bu,” ucap dokter saraf anak.
Saat ini, Ayda sudah berusia 4 tahun, dan ia dinyatakan sembuh dari epilepsi. Tak kusangka aku bisa melewati ini semua. Di awal, ini memang terasa sangat menakutkan. Namun, ternyata aku bisa menaklukkannya.
Selain sudah bebas kejang, Ayda juga semakin lancar berjalan. Betul kata orang, tidak ada hasil yang mengkhianati usaha.
Namun, bukan berarti perjuanganku selesai. Sampai saat ini, Ayda masih belum bisa berbicara. Padahal ia juga sudah menjalani terapi wicara. Dokter menyarankan kami untuk mengecek pendengarannya dengan tes BERA atau Brain Evoked Response Auditory. Tes ini bertujuan untuk melihat ambang dengar pada telinga anak. Hasil tes BERA menunjukkan bahwa pendengarannya normal. Kata dokter, perkembangan bahasa Ayda terlambat karena ia mengalami global developmental delay.
Saat tes BERA, dokter mengatakan bahwa berat badan Ayda kurang.
“Dahaknya banyak, Bu,” ucap dokter ketika memeriksa Ayda. “Kita rontgen dan tes dahak, ya,” lanjutnya.
“Baik, Dok.”
Aku melaksanakan semua yang dokter sarankan. Rontgen berjalan dengan lancar, namun dokter mengalami kesulitan saat tes dahak. Sebagai gantinya, dokter menyarankan untuk tes mantoux.
“Kita pengobatan selama 6 bulan, ya,” ucap dokter setelah melihat hasil rontgen dan tes mantoux. Banyak sekali bercak putih di paru-paru Ayda. Hasil tes mantoux menunjukkan ada sedikit benjolan di bekas suntikannya. Kata dokter, Ayda berpotensi mengalami Tuberkulosis (TB) jika tidak dilakukan pengobatan.
Hah? Apa lagi ini? Baru saja aku bisa bernapas lega karena Ayda sudah tidak perlu minum OAE. Sekarang ia harus minum obat TB selama 6 bulan. Ingin rasanya aku protes kepada Tuhan. Namun, aku tahu, aku tak berhak.
**
“Mam.… Mam….” Ayda menghampiriku sambil memberi isyarat ingin makan.
Ya, kondisi Ayda sekarang sudah jauh lebih baik. Ia sudah mulai babbling dan bisa mengucap beberapa kata sederhana seperti ‘bau’, ‘mam’, dan ‘num’, yang artinya ‘bau’, ‘makan’, dan ‘minum’. Selain itu, ia juga sudah bisa meniup. Saat ulang tahunnya yang ke-8 lalu, ia meniup lilin ulang tahunnya sendiri.
Perkembangan Ayda melaju pesat setelah pengobatan TB selama 6 bulan selesai dilakukan. Paru-parunya sudah bersih dan tubuhnya semakin besar. Aku bisa fokus pada tumbuh kembangnya dengan memberikan nutrisi dan stimulasi yang maksimal, sesuai dengan saran dokter.
Melihat kondisi Ayda yang membaik, Ibuku sedikit demi sedikit mulai bisa melunak. Ia tidak lagi menyalahkan aku soal kondisi Ayda. Beberapa kali ia masih suka membawa Ayda ke orang pintar, meskipun tidak sesering sebelumnya. Aku bisa memakluminya karena memang semua orang butuh waktu. Dan waktu tiap orang untuk bisa ‘sembuh’ tentu tidak sama.
Namun, sepertinya Tuhan masih mau mengujiku. Beberapa kali Ayda mengalami mimisan. Darah yang keluar dari hidungnya sangat banyak.
“Sepertinya karena terlalu keras menggosok hidungnya, Bu.” Begitu penjelasan dokter saat aku menceritakan kondisi Ayda.
Entah kenapa kali ini aku merasa tidak yakin dengan penjelasan dokter. Sepertinya aku terbiasa mendengar diagnosis yang menakutkan, jadi saat dokter bilang ‘tidak apa-apa’ aku malah merasa aneh. Feeling-ku sebagai seorang ibu mengatakan bahwa ada sesuatu pada Ayda. Namun, aku tidak tahu itu apa.
Tiba-tiba Ayda mengalami ruam di tubuhnya. Ruamnya hanya di separuh badan, yakni dari telapak kaki hingga ke pinggang. Sejak ada ruam tersebut, Ayda menangis setiap kali berjalan. Karena khawatir, aku membawanya ke dokter.
“Sepertinya ini gejala autoimun ITP, Idiopatic Thrombocytopenic Purpura,” kata dokter. Beliau kemudian menjelaskan bahwa ITP adalah penyakit yang menyerang pembuluh darah. Selain menyebabkan ruam merah pada kulit, penyakit ini juga menyebabkan nyeri sendi pada penderitanya. Pantas saja, belakangan ini Ayda selalu menangis dan menolak untuk berjalan.
Mendengar perkataan dokter, perasaanku bercampur aduk. Di satu sisi aku lega, akhirnya mendapat jawaban atas feeling-ku selama ini. Di sisi lain aku merasa khawatir. Namun, aku juga merasa tertantang, karena selama ini aku bisa mengalahkan diagnosis demi diagnosis yang Ayda terima. Selain itu, aku juga merasa sedih dan kasihan kepadanya. Aku juga merasa bersalah.
Ayda, maafkan mama, ya. Pasti rasanya sakit sekali, ya? Makanya Ayda selalu menangis tiap kali mama menyuruh Ayda berjalan. Mama malah mengira Ayda malas. Maafkan mama yang tidak tahu apa-apa ini, ya, Sayang….
“Untuk memastikan, saya rujuk ke dokter anak subspesialis alergi dan imunologi ya, Bu.”
“Iya, Dok...,” jawabku pasrah.
Dokter subspesialis alergi dan imunologi menyarankan untuk tes darah. Hasil tes darah menyatakan bahwa dugaannya benar. Ayda mengalami autoimun ITP.
“Tolong dijaga anaknya, ya, Bu. Jangan sampai terlalu lelah. Sebisa mungkin jangan sampai terjatuh atau terbentur,” pesan dokter padaku.
Aku mengangguk setuju.
Ya, hari ini Ayda mendapat diagnosis baru lagi. Seperti yang dokter katakan, ia mengalami autoimun. Autoimun adalah kondisi di mana sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang tubuhnya sendiri. Penyebabnya belum diketahui secara pasti, namun ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya autoimun. Kata dokter, autoimun yang dialami Ayda tidak bisa disembuhkan. Artinya, kami harus berteman dengannya sepanjang hidup Ayda.
**
Mungkin rasanya menyakitkan saat mendapati anak kita terlahir berbeda. Akan tetapi, aku memiliki kesedihan yang tidak sama. Aku pernah melihat anakku ‘normal’ lalu tiba-tiba ia menjadi berbeda. Aku selalu dihantui dengan rasa bersalah dan predikat ibu gagal seakan melekat pada diriku. Namun, jika melihat Ayda hari ini dan mengingat kondisinya dulu saat pertama kali aku tahu ia berbeda, aku menjadi benar-benar bersyukur.
“Bu, saya titip Ayda, ya,” ucapku kepada guru Ayda yang sudah menyambutku dan Ayda di pagar sekolah. Ayda sekarang sudah menginjak kelas 4 SD di Sekolah Khusus. Sekolah Khusus adalah sekolah yang diperuntukkan untuk anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus. Di daerah lain, layanan pendidikan seperti ini lebih dikenal dengan Sekolah Luar Biasa (SLB). Di sekolah ini, Ayda tidak mendapat pelajaran seperti di sekolah reguler. Sekolah ini membantu anak-anak berkebutuhan khusus seperti Ayda untuk bisa mencapai potensi maksimalnya. Target pencapaian tiap anak berbeda-beda, tergantung bagaimana kondisinya.
Ayda mencium tangan gurunya lalu tertawa. Ia terlihat sangat senang.
“Baik, Ibu.” Guru Ayda kemudian menggandeng Ayda ke dalam kelas.
Aku melihat Ayda dari kejauhan. Perasaan haru menyeruak di dada. Sudah empat tahun lebih aku menjalani rutinitas mengantar Ayda ke sekolah, namun rasanya masih tetap sama seperti saat pertama dulu.
Hal yang paling aku syukuri dari begitu banyak hal yang bisa aku syukuri hari ini adalah Ayda bisa mendapat sekolah yang bisa mendukungnya dengan baik. Semua guru di sekolah Ayda begitu memperhatikan setiap muridnya. Kemandirian adalah hal yang paling diperhatikan oleh sekolah. Meskipun murid-murid di sini memiliki hambatan, sekolah tetap memanusiakan mereka. Mereka diajarkan cara melepas dan memakai sepatu sendiri, meletakkan sepatu di raknya, memakai sendok dengan benar, berdoa sebelum dan sesudah melakukan sesuatu, bahkan gerakan salat juga diajarkan.
Sejak Ayda sekolah, banyak sekali kemajuan yang ditunjukkan. Dari mulai naik turun tangga, memakai celana sendiri, memakai kaos kaki dan sepatu sendiri, hingga menggunakan sendok dan gelas dengan baik.
Semua kemajuan Ayda tentu membuktikan bahwa Tuhan memang selalu memberi ujian sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Pertanyaannya, apakah kita mau terus terpuruk dan bersedih, atau bangkit dan memenangkan pertempuran ini? Terpuruk dan bersedih tentu bukan opsi yang aku pilih.
Epilepsi, tuberkulosis, global developmental delay, bahkan autoimun ITP memang membuat hidupku seperti jungkir balik. Rumah sakit dan dokter sudah menjadi teman baikku selama sembilan tahun ini. Namun, itu semua dan apapun nanti yang ada di depan sana, tidak akan mengalahkanku.
**
Hai, Ayda…. Jika suatu saat nanti Ayda membaca tulisan ini, mama ingin Ayda tahu. Tidak apa-apa menjadi berbeda. Karena Tuhan memang menciptakan manusia berbeda-beda.
Di mata mama, papa, serta adik-adik, Ayda tidak kurang sama sekali dari yang lainnya. Ayda adalah ciptaan Tuhan yang sempurna. Dan Ayda adalah anak mama dan papa yang istimewa.
Apapun kondisi Ayda, cinta kami tak bersyarat.
**