Penulis: Cynthia June Indah Widiyasari
“Penumpang yang kami hormati, sesaat lagi Kereta Api Matarmaja akan tiba di stasiun akhir, Malang.” Suara announcer kereta api membangunkanku yang tengah tidur di bangku penumpang. Setelah tiga tahun aku lulus kuliah dan kembali ke Jakarta, akhirnya, pada awal tahun 2020 aku kembali ke kota yang penuh dengan kenangan, Kota Malang.
Seminggu berada di Malang, tiba-tiba aku mengalami batuk, pilek, meriang, dan demam. Kupikir, aku hanya lelah. Seperti biasa, aku tidak minum obat apapun karena aku paling anti dengan obat, kecuali memang sudah tak berdaya.
Dua minggu berselang, batuk pilekku tak kunjung hilang. Aku sungguh merasa terganggu. Akhirnya, aku memutuskan untuk periksa ke puskesmas.
“Saya lagi progam hamil, Dok. Jadi, obatnya yang aman-aman aja, ya,” pesanku setelah menceritakan keluhan yang kualami.
“Iya, Bu. Saya resepkan yang aman buat orang hamil,” jawabnya. Sekitar lima hari, aku mengonsumsi obat-obatan tersebut sampai habis, sesuai petunjuk dokter.
Beberapa hari berselang, aku kaget karena tak kunjung mendapatkan haid. Padahal, biasanya haidku selalu datang teratur. Dengan malu-malu, aku memberanikan diri untuk membeli test pack.
Keesokan harinya, setelah salat subuh, aku pun tidak sabar mencobanya. Mataku terbelalak melihat hasil yang muncul. Masih antara percaya dan tidak, segera kutunjukkan test pack tersebut pada suamiku.
“Apa ini maksudnya?”
“Dua garis itu artinya hamil!” seruku.
Kufoto test pack tersebut dan mengirimkannya ke grup WhatsApp keluarga. Semua senang dan turut mendoakan kehamilanku.
Dug dug dug dug dug. Rasa haru menyeruak saat aku pertama kali mendengar detak jantung anakku. Kebahagiaan kian bertambah saat aku bisa melihat anakku melalui layar ultrasonografi (USG).
“Alhamdulillah, semuanya normal. Tinggal dijaga aja makannya, yang sehat dan bergizi,” kata dokter kandungan.
Aku menjalani kehamilan dengan nyaman, tidak ada keluhan yang berarti. Saat trimester dua hampir berakhir, aku memutuskan untuk memeriksakan kandungan kembali.
Dokter cukup lama memutar-mutarkan alat USG di perutku tanpa berkata apa-apa. Aku menjadi sedikit khawatir karena tak biasanya dokter sediam ini.
“Ada kista di tali pusat janin. Ini kista allantoic. Cukup besar, sekitar tujuh sentimeter. Kasus seperti ini memang ada dan biasanya baru ketahuan setelah anaknya lahir. Tetapi, karena ini kistanya cukup besar, jadi bisa terlihat melalui USG,” jelas dokter.
Aku memperhatikan layar USG. Tampak ada sebuah bulatan besar yang beradu dengan kepala anakku.
“Kita evaluasi dua minggu lagi. Kalau kistanya semakin besar dan menghambat perkembangan adik, terpaksa kita harus mengeluarkan adik di usia tujuh bulan.” Penjelasan dokter membuatku sangat terkejut.
“Apakah bisa diobati, Dok?” tanyaku.
“Tidak bisa, Bu. Kista ini terbentuk karena hormon kehamilan, berbeda dengan kista yang memang sudah ada sebelum kehamilan. Ibu hanya tinggal menunggu anak ibu lahir.” Rupanya, di hari itu, mentalku mulai diuji untuk lebih kuat menghadapi semua takdir hidup.
Dua minggu kemudian, aku kembali kontrol ke dokter kandungan. Sejujurnya, aku takut menemui dokter lagi. Aku tidak siap menerima apa yang akan dokter temukan lagi pada kandunganku.
“Alhamdulillah kistanya mengecil jadi tiga sentimeter. Insyaallah, Ibu bisa melalui persalinan normal dan cukup bulan,” ucap dokter kandungan.
Aku tak kuasa menahan air mata. Betapa baiknya Allah kepada kami. Aku terus memberikan afirmasi positif pada anakku supaya ia lahir di waktu yang tepat dan saat semua organ tubuhnya sudah sempurna dan siap.
Waktu berlalu dengan cepat, namun anakku yang diperkirakan lahir di akhir bulan September belum memberikan tanda-tanda akan keluar. Aku tetap memberikan afirmasi positif dan melakukan berbagai usaha yang bisa memancingnya untuk segera lahir.
Akhirnya, tanda cinta yang kutunggu-tunggu tiba. Dimulai dengan keluarnya flek darah, lalu disusul kontraksi. Dua hari kemudian, setelah melalui proses induksi persalinan yang rasa sakitnya tak tertahankan, akhirnya anakku lahir ke dunia. Tangisannya yang sangat kencang seketika melegakan hatiku. Hari itu, 4 Oktober 2020, menjadi salah satu hari terbahagia dalam hidupku.
“Pak, Bu, ini bayinya kurang sehat. Setelah dibersihkan, Bapak bisa mengazankan adik. Lalu, adik akan segera kami bawa ke ruang bayi.” Tubuhku yang masih lemas terasa semakin tidak karuan saat mendengar penjelasan dokter.
Beberapa saat kemudian, suamiku mendapat panggilan untuk segera datang ke ruangan bayi. Ia pun bergegas menuju ke sana, sedangkan aku masih menunggu di ruang pemulihan. Pikiranku sangat kalut. Aku berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk pada anakku. Aku bahkan hanya sempat melihatnya selama beberapa detik setelah kulahirkan.
“Anaknya sesak sehingga harus memakai alat bantu oksigen. Kalau tidak salah, namanya CPAP,” jelas suamiku yang baru datang dari ruang bayi.
Mendengar hal itu, aku menjadi sangat risau. Aku tidak bisa membayangkan seperti apa itu CPAP. Tak terpikirkan pula olehku untuk mencari tahu seperti apa bentuknya.
Pagi hari, dokter anak datang mengunjungiku. “Anak Bapak dan Ibu mengalami sesak napas. Sekarang, kami masih terus mengobservasi paru-paru dan jantungnya. Perlahan, nanti kami turunkan oksigennya untuk melihat apakah adik bisa bernapas tanpa bantuan oksigen. Mohon doanya saja dari Bapak dan Ibu,” ujarnya.
Sore hari, waktu membesuk pun tiba. Dengan rasa rindu yang bercampur gugup, aku pergi untuk menemui anakku. Namun, betapa terkejutnya aku melihat anakku di dalam inkubator dengan sebuah alat di hidungnya. Alat tersebut seperti masker oksigen, namun selangnya berbentuk pipa. Ternyata, itulah alat yang bernama Continous Positive Airway Pressure atau CPAP.
Aku berusaha mengendalikan emosi, tapi tak tertahankan. Aku hanya bisa menangis melihat bayiku yang belum bisa kugendong. Tidak berselang lama, seorang perawat menghampiri. Pelan-pelan, aku menghapus air mata.
“Bu, saya ingin memberi tahu bahwa ternyata jempol tangan kiri adik ada dua.”
“Hah?! Dua bagaimana, Bu?!” tanyaku dengan sangat terkejut.
“Yang satu kecil, Bu. Kami juga baru sadar saat mau memasang infus,” jelas perawat sambil memperlihatkan ibu jari tangan kiri anakku.
Seketika, kakiku terasa lemas. Aku tidak kuat menahan air mata dan segera keluar untuk memberi tahu suamiku. Kami bertanya pada dokter anak tentang kondisi jempol itu. Menurut dokter, kami tidak perlu khawatir akan kondisi tersebut.
Keesokan harinya, aku telah diizinkan pulang dari rumah sakit, sedangkan anakku masih harus dirawat di sana. Rasanya, aku ingin tetap tinggal untuk menemaninya. Tak pernah terpikirkan sebelumnya jika aku harus pulang tanpa dia.
Dengan berat hati, aku pun menghampiri anakku untuk berpamitan. Namun, perawat berkata bahwa anakku kuning dan berdasarkan hasil tes bilirubin, ia harus melakukan fototerapi selama 24 jam sehingga tidak dapat dijenguk. Seketika, hatiku terasa hancur.
Di hari keempat setelah melahirkan, ada telepon dari rumah sakit tempat anakku dirawat. Aku sangat takut, bagaimana jika ada kabar yang tidak kuharapkan?
“H… halo?” ucapku gugup.
“Halo, Bu, kami dari ruang bayi Rumah Sakit Melati Husada ingin mengabarkan kalau adik sudah diizinkan pulang oleh dokter hari ini. Silakan dijemput, ya, Bu.” Terdengar suara perawat dari seberang sana.
Betapa senangnya aku, akhirnya anakku boleh pulang. Aku mengabarkannya pada suamiku dan orang-orang seisi rumah. Semua berbahagia karena akan melihat langsung anggota baru di rumah ini.
Aku dan suamiku bergegas menuju rumah sakit. Saat mengurus administrasi rumah sakit, ternyata kami sudah harus menyerahkan nama bayi. Akhirnya, kami memilih nama Zayan Abdul Mateen Ansor yang berarti hamba Allah yang kuat nan kokoh, memiliki keindahan, dan penolong. Kami berharap doa dalam nama Zayan dikabulkan oleh Allah SWT.
Dengan hati berbunga-bunga, aku melangkah ke ruangan bayi untuk menjemput Zayan. Sebelum menyerahkan Zayan, salah satu perawat datang untuk berbicara padaku.
“Bu, saya ingin menyampaikan pesan dari Dokter Haryudi bahwa adik sepertinya ada masalah di jantungnya. Dokter mendengar suara bising di jantung adik. Jadi, untuk memastikannya, dokter merujuk adik ke dokter jantung anak untuk melakukan echo,” ucap perawat tersebut dengan pelan.
Bagaikan disambar petir di siang bolong, aku tidak percaya dengan diagnosis dokter terhadap anakku.
“Saya sewaktu hamil rajin kontrol ke dokter kandungan, setiap bulan juga rutin USG. Tetapi, tidak ditemukan kelainan di jantungnya,” sahutku. Jujur, aku merasa tak terima dengan apa yang disampaikan perawat itu.
“Iya, Bu, memang ada beberapa kasus yang baru ketahuan setelah lahir, bahkan ada juga yang baru ketahuan setelah anaknya besar. Ini adik beruntung bisa segera ketahuan, jadi penanganannya bisa lebih cepat,” lanjutnya. Seketika, aku merasa pikiran dan ragaku rasanya tidak menyatu di satu tempat yang sama.
Sesampai di rumah, aku menceritakan kondisi Zayan kepada keluarga. Semua pun belum bisa menerima takdir ini. Sering aku mendengar kata-kata seperti nggak apa-apa, kok, ini. Sehat, nggak biru. Salah denger kali, dokternya. Tetapi, tak bisa dipungkiri, perasaanku sebagai seorang ibu mengatakan ada sesuatu pada anakku.
Aku mencoba mencari tahu tentang kelainan jantung bawaan pada bayi. Aku juga mencari tahu tentang echo, ternyata cukup mahal biayanya. Aku menelepon temanku yang bekerja di Rumah Sakit Jantung Jakarta, ia bilang bahwa echo bisa ditanggung oleh BPJS. Aku pun segera mengurus rujukan BPJS di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Aku memeriksakan Zayan di Rumah Sakit Mutiara Bunda. Dokter mendiagnosis Zayan mengalami kelainan jantung kompleks Tetrallogy of Fallot (ToF). Namun, untuk memastikannya, dokter merujuk Zayan untuk melakukan echo di rumah sakit yang lebih besar.
Aku pun menurutinya. Segera kubawa Zayan ke rumah sakit terbesar di Kota Malang. Zayan kembali menjalani echo. Hasilnya, ternyata bukan kelainan jantung ToF yang dialami Zayan.
“DORV, VSD, overriding aorta. Ini harus dioperasi, ya, Bu. Nggak bisa pakai alat sajakarena kasusnya kompleks. Operasi nanti bisa di usia enam bulan. Kalau ibunya belum siap, nanti bisa di umur satu tahun,” jelas dokter.
Lagi-lagi, aku merasa bagai disambar petir di siang bolong. Penjelasan dokter membuat perasaanku campur aduk tak karuan. Keluar dari ruangan dokter, aku segera mencari ruang menyusui. Di sana, aku hanya bisa menangis sambil menatap wajah Zayan yang mungil.
Aku mencari tahu tentang diagnosis anakku. Ternyata, DORV adalah singkatan dari Double Outlet Right Ventricle yang artinya kelainan jantung bawaan di mana pembuluh aorta terhubung ke jantung di tempat yang salah. Seharusnya, aorta melekat pada bilik kiri dan arteri pulmonalis melekat pada bilik kanan. Namun, pada bayi dengan DORV, kedua pembuluh tersebut melekat pada bilik kanan. Zayan juga mengalami VSD atau Ventricular Septal Defect, yakni bocor pada dinding sekat antar ventrikel. Karena itu, operasi bedah memang satu-satunya jalan untuk mengoreksi kelainan struktur jantung Zayan.
Hari demi hari aku lalui. Kuminumkan obat dengan rutin pada anakku dan menjaganya untuk tidak berinteraksi dengan orang banyak. Tetapi, di usianya yang belum genap dua bulan, anakku terlihat tidak nyaman. Kupegang kepalanya, terasa lebih hangat dari biasanya. Kuukur suhunya, masih menunjukan 37ᵒ C. Namun, perasaanku sebagai ibu mengatakan anakku sedang tidak baik-baik saja. Karena saat itu hari minggu, aku segera membawanya ke IGD rumah sakit.
Di IGD, dokter mendiagnosis Zayan mengalami sesak karena ada tarikan di dada. Zayan diduga terinfeksi Covid-19. Kami dijemput menggunakan ambulans khusus dengan petugas yang memakai Alat Pelindung Diri (APD) untuk dibawa ke IGD Covid atau yang biasa disebut Pinere.
Di Pinere, seorang petugas melakukan pemeriksaan rontgen pada Zayan. Kami menunggu cukup lama untuk mengetahui hasil rontgen. Akhirnya, dokter jaga mengabarkan hasilnya lewat telepon.
“Halo, Bu, hasil rontgen adik sudah keluar. Memang ada sedikit bercak di paru-parunya, tapi untuk memastikan lagi, tetap harus PCR, ya, Bu. Baru boleh pindah ke HCU,” jelas dokter. PCR atau Polymerase Chain Reaction merupakan metode pemeriksaan untuk memastikan apakah seseorang terinfeksi Covid-19 dengan mendeteksi DNA virus tersebut.
Tak lama, datang seorang perawat yang mempersilakanku dan Zayan untuk pindah ke ruang perawatan. Namun, aku hanya boleh menjaga Zayan sendirian dan tak boleh bergantian. Seketika, aku merasa cemas. Aku adalah seorang ibu baru dan harus merawat bayi yang sakit sendirian. Membayangkannya membuat perasaanku campur aduk tak karuan hingga aku tak bisa menangis. Tapi, aku tak punya pilihan lain.
Selama tiga hari, Zayan hanya bisa tidur jika digendong. Bayangkan, selama tiga hari aku tidur dengan posisi duduk sambil memangku Zayan yang berada dalam gendongan. Seberapa besar rasa lelah itu tak dapat kugambarkan.
Petugas melakukan dua kali tes PCR pada Zayan. Aku bersyukur, dua hasil tes tersebut negatif. Zayan tidak terinfeksi Covid-19. Kami pun dipindahkan ke ruang HCU.
Menurut diagnosis dokter, Zayan mengalami bronkopneumonia. Oleh sebab itu, hasil rontgen Zayan terlihat ada bercak di paru-parunya. Obat demi obat disuntikan melalui infus. Zayan selalu menangis jika disuntikkan obat ke dalam tubuhnya. Awalnya, aku merasa tidak tega, namun lama-lama aku terbiasa melihatnya.
Zayan juga dibatasi untuk minum sehingga ia tidak boleh menyusu langsung padaku. Padahal, Zayan sudah lupa bagaimana cara minum menggunakan botol dot sehingga ia pun harus minum menggunakan Oral Gastric Tube (OGT), selang yang dimasukan lewat mulut menuju lambung.
Hari-hari kulalui dengan perasaan tak sabar ingin pulang. Menginap di rumah sakit rasanya sungguh sangat melelahkan. Bahkan, ASI-ku sempat tidak keluar karena aku kurang beristirahat. Apalagi, aku stres dengan suara-suara monitor dan ventilator.
Suatu siang, dokter anak sub spesialis respirologi datang untuk memeriksa.
“Lo, ini tidurnya memang seperti ini?” tanyanya setelah memperhatikan Zayan yang sedang tidur. Setiap tidur, posisi badan Zayan memang selalu meliuk ke kanan. Posisi pundak kanannya lebih tinggi dari pundak kiri dan kepalanya selalu menoleh ke kanan.
“Iya, Dok. Kalau dibetulkan posisinya, diganjal pun, pasti nanti balik lagi,” jawabku. Aku memang sempat merasa aneh dengan posisi Zayan tidur, tetapi kukira itu hal wajar pada bayi.
“Dok, ini hasil rontgen tulangnya memang miring,” celetuk salah satu dokter PPDS, dokter yang tengah menempuh pendidikan dokter spesialis, sambil menunjukkan hasil rontgen Zayan.
“Oh, ini skoliosis kongenital. Tolong dihubungkan dengan ortopedi,” jawab dokter spesialis respirologi pada dokter-dokter PPDS.
Rasanya, aku hanya ingin menertawakan takdirku. Aku sudah tidak bisa menangis saat mengetahui bahwa Zayan mempunyai diagnosis baru, skoliosis kongenital. Apalagi ini, Ya Allah?
Beberapa saat kemudian, dokter ortopedi pun datang.
“Memang ada beberapa kasus seperti ini, Bu. Apa penyebabnya, kita juga belum tahu,” jelas dokter ortopedi. “Kasus adik ini harus dioperasi, tetapi biasanya di atas usia dua tahun, tergantung derajat keparahan yang dialami. Nanti, adik akan dipasang pen di tulang punggungnya untuk menopang pertumbuhan tulang supaya tetap lurus. Namun, karena adik juga mengalami jantung bocor, harus ada tindakan untuk jantungnya terlebih dahulu,” lanjutnya.
Aku hanya bisa terdiam mendengarnya. Operasi lagi? Berarti anakku akan dibedah di depan dan belakang? Batinku bertanya-tanya.
Dokter juga menjelaskan bahwa paru-paru Zayan tertekan oleh tulang yang melengkung. Akibatnya, terlihat ada tarikan di dadanya saat bernapas, tampak seperti sesak. Untuk jarinya yang berlebih, menurut dokter, selama tidak membatasi pergerakan seperti menyapit dan menggenggam, tidak masalah jika tidak dioperasi.
Beberapa hari berselang, pelan-pelan Zayan boleh lepas oksigen yang juga diikuti pelepasan selang OGT. Zayan juga tampak sudah tidak nyaman dengan selang dan kabel yang ada di tubuhnya. Kondisinya terus membaik hingga akhirnya Zayan diperbolehkan untuk pulang.
Setelah kepulangan, ternyata kami tidak bisa begitu saja lepas dari kunjungan ke rumah sakit karena Zayan harus tetap kontrol ke dokter. Apalagi, Zayan sering sakit dan demam berulang. Walau terkadang demamnya hanya sebentar, tetapi aku masih sering khawatir dengan keadaannya.
Selain itu, aku juga rutin membawa Zayan ke posyandu. Di sana, Zayan dikategorikan sebagai anak dengan berat badan di bawah garis merah (BGM). Akhirnya, aku mulai merasakan salah satu gejala dari anak dengan kelainan jantung bawaan, yakni berat badan yang sulit naik. Di umur empat bulan, berat badan Zayan memang cenderung tidak naik.
Aku konsultasikan hal ini dengan dokter jantung Zayan. Kata dokter, jika Zayan sudah bisa tegak dan kuat kepalanya, maka bisa mulai diberikan Makanan Pendamping ASI (MPASI) atau bisa dicoba untuk tambahan susu formula.
“Udah pernah tes tiroid, belum, Bu?” tanya dokter.
“Sepertinya belum, Dok,” sahutku. Aku memang tidak pernah diberitahu oleh rumah sakit tempat Zayan dilahirkan bila ia pernah melakukan tes tiroid.
Sesampainya di rumah, aku pun mencari tahu apa itu hipotiroid. Lagi-lagi, saat membaca penjelasannya, aku menjadi takut, khawatir, dan bertanya-tanya. Apa iya anakku mengalami hipotiroid?
Aku segera membawa Zayan untuk menjalani tes tiroid. Ketika hasilnya sudah keluar, kuintip kertas dalam amplop itu. Hasilnya normal. Zayan tidak mengalami hipotiroid, alhamdulillah.
Aku kembali fokus pada berat badan Zayan. Aku memutuskan untuk memberikan MPASI sesuai dengan petunjuk dokter. Memang, belum ada kenaikan yang berarti di bulan kelima, tapi Zayan sangat semangat jika waktunya makan. Aku pun semangat untuk menyuapinya.
Tiba saatnya jadwal kontrol. Seperti biasa, perawat menimbang Zayan sebelum diperiksa oleh dokter. Hasilnya membuat dokter terkejut.
“Benar, ini naiknya tujuh ons? Coba timbang lagi! Biasanya nggak naik banyak begini,” kata dokter pada perawat sembari memeriksa catatan rekam medis Zayan. Perawat pun menimbang ulang Zayan, memperhatikan dengan seksama jarum yang ada di timbangan.
“Benar, Dok. Beratnya lima kilo tujuh ons,” jawab perawat tersebut.
Senangnya diriku. Aku optimis Zayan bisa mengejar ketertinggalan berat badannya. Walaupun, pada akhirnya, semua itu hanya tinggal angan-angan. Di bulan-bulan selanjutnya, berat badan Zayan hanya naik dua sampai tiga ons per bulan.
Di usianya yang ketujuh bulan, Zayan masih belum bisa duduk sendiri. Saat kontrol, dokter pun merujuk Zayan ke dokter rehab medik. Oleh dokter rehab medik, Zayan disarankan untuk menjalani fisioterapi.
Aku pun menjadi semakin sering ke rumah sakit karena Zayan harus melakukan fisioterapi. Hari demi hari Zayan melakukan terapi. Ia pun mulai hafal dengan rutinitasnya. Buktinya, ia langsung menangis saat baru saja masuk ruang terapi.
Kurang dari satu bulan Zayan melakukan terapi, perkembangan mulai terlihat. Ia mulai bisa duduk sendiri. Namun, untuk sementara, Zayan harus istirahat dari terapi karena kami harus kembali ke kota asalku, Jakarta. Aku ingin mengajak Zayan berlibur di sana. Sebagian keluargaku di Jakarta belum pernah melihat Zayan secara langsung sehingga mereka pasti ingin bertemu dengannya.
Di Jakarta, aku tidak berniat untuk membawa Zayan ke rumah sakit, mengingat kasus Covid-19 masih tinggi. Kami benar-benar hanya di rumah saja sembari terus memberi stimulasi pada Zayan. Namun, aku masih khawatir karena orang di sekeliling kami masih work from office. Dan, hal yang aku takutkan pun terjadi. Zayan sakit dan menunjukkan gejala Covid-19.
Malam itu, langsung aku larikan Zayan ke IGD. Namun, ternyata IGD sangat penuh. Melihat kondisi Zayan yang stabil, saturasinya normal, dan tidak sesak, dokter pun mengizinkanku membawa pulang Zayan dengan membawa beberapa obat.
Keesokan harinya, aku masih belum tenang. Aku pun memeriksakan Zayan ke dokter jantung anak. Karena sedang demam, Zayan harus menjalani tes antigen dulu. Hasil antigen keluar dengan cepat, ternyata hasilnya positif. Kami pun tidak bisa bertemu langsung dengan dokter, hanya bisa konsultasi melalui panggilan video lewat telepon genggam. Dokter pun meresepkan beberapa obat dan vitamin.
Dua minggu berselang, isolasi mandiri yang kami lakukan selesai. Semua hasil swab negatif. Aku pun memeriksakan Zayan ke dokter anak sub spesialis jantung tersebut.
“Ini harus segera dioperasi, harusnya usia 4 bulan sudah operasi,” ucap dokter setelah melakukan echo pada Zayan.
Aku kaget. Aku memang berniat membawa Zayan operasi, tapi tidak secepat ini. Aku pun segera mempersiapkan berkas-berkas pendukung untuk keperluan Zayan operasi. Tak lupa, aku mengabari suamiku yang berada di Malang.
Sebulan kami menunggu kabar operasi, namun kabar itu tak kunjung datang. Dengan inisiatif sendiri, aku menghubungi rumah sakit. Akhirnya, aku mendapat kabar bahwa Zayan tidak bisa dioperasi di rumah sakit tersebut. Zayan harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar, yakni Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Aku tidak tahu harus bertanya kepada siapa tentang alur pendaftaran pasien baru di RSCM, mengingat ini adalah rumah sakit besar. Dengan modal nekat, aku datang ke sana pagi-pagi dan bertanya pada para petugas keamanan yang kutemui. Alhamdulillah, semuanya dipermudah saat proses pendaftaran maupun pemeriksaan. Aku hanya perlu menunggu telepon dari RSCM bila sudah ada jadwal operasi untuk Zayan.
Di saat aku masih menunggu panggilan cinta dari RSCM, Zayan mengalami sembelit. Kuberikan padanya obat pencahar dari dokter, perlahan ia pun mengeluarkan fesesnya dengan mudah.Tetapi, aku melihat ada yang aneh saat membersihkannya.
Ini benjolan apa, ya? batinku bertanya-tanya sambil meraba benjolan yang muncul di selangkangan Zayan. Aku pun membawanya ke dokter supaya lebih pasti dan tenang.
“Ini hernia, nanti saya rujuk ke bedah anak. Tapi, operasi jantungnya dulu aja,” jelas dokter jantung anak Zayan.
Lalu, aku membawa Zayan ke dokter spesialis bedah anak.
“Oh, iya, ini hernia, Bu. Harus dioperasi juga. Kalau bisa, nanti digabung aja operasinya. Operasi hernia memang bukan operasi besar, tapi kalau jantungnya belum beres, saya takut obat biusnya akan memberatkan kerja jantung Zayan, Bu,” kata dokter bedah anak.
“Kalau tidak dioperasi apakah akan membahayakan? Apakah akan mengganggu kesuburannya, Dok?” tanyaku.
“Memang tidak membahayakan, Bu. Tetapi, jika didiamkan terus terlalu lama, takutnya nanti usus adik terjepit, jadi makin susah untuk tindakannya. Insyaallah, tidak mengganggu kesuburan, kok, Bu,” jelas dokter.
Aku mencoba menghubungi bagian administrasi pengurusan operasi jantung Zayan. Aku sampaikan hal yang disampaikan dokter bedah anak, apakah bisa jika operasi jantung dan hernia dilakukan bersamaan.
“Tidak bisa, Bu, karena harus menghitung ulang biaya operasinya. Nanti lama jadinya. Setelah operasi jantung saja, ya,” jawab petugas administrasi.
Aku hanya bisa pasrah menerimanya. Aku tetap berprasangka baik dengan Allah. Pasti Allah memberi kemudahan untuk kesembuhan Zayan.
Kurang lebih empat bulan Zayan rutin kontrol di RSCM. Hingga akhirnya, hari itu tiba. Hari yang aku nantikan, tapi paling aku takutkan. Aku mendapat telepon dari nomor yang sudah tidak asing lagi. Ya, telepon dari RSCM.
“Halo. Dengan orang tua dari anak Zayan Abdul Mateen? Ini dari PJT RSCM, Bu,” terdengar suara perempuan dari seberang sana. PJT adalah singkatan dari Pelayanan Jantung Terpadu.
Deg.... Rasanya, jantungku berhenti berdetak sejenak.
“Iya, Bu, betul. Ada apa?” sahutku.
“Bu, Zayan sudah dapat jadwal untuk operasi. Jumat ini, Ibu bisa ke PJT untuk ambil pengantar swab. Rencananya, swab dilakukan hari Senin,” jelas petugas rumah sakit.
Rasa senang dan takut bercampur jadi satu saat itu. Aku senang, sebentar lagi anakku akan memiliki jantung yang sehat. Di sisi lain, aku takut jika ternyata ini adalah hari-hari terakhirku bersamanya.
Hari Senin, Zayan melakukan tes swab PCR. Keesokan harinya, aku mendapat telepon dari RSCM bahwa hasil swab Zayan negatif dan dipersilakan untuk langsung menjalani rawat inap. Aku pun panik karena tidak ada persiapan apapun. Aku sangat ingat wajah Zayan saat itu, mukanya seperti kebingungan melihat ibunya yang panik.
Aku menghubungi suamiku yang ada di Malang agar ia segera berangkat ke Jakarta. Kemudian, aku pun menuju rumah sakit bersama Zayan dan ibuku. Proses administrasi berjalan lancar, aku dan Zayan pun dipersilakan untuk masuk ke ruang rawat inap.
Saat malam tiba, tidurku tak tenang. Terkadang aku berpikir, bisa saja ini malam terakhir tidur dengan Zayan. Tetapi, langsung aku alihkan pikiran-pikiran itu. Aku harus optimis bahwa anakku bisa sehat setelah ini.
Akhirnya, waktu yang kutunggu tiba. Zayan dijadwalkan operasi di urutan ke dua, sekitar pukul 10.30. Sejak pukul 6 pagi Zayan sudah harus berhenti minum ASI.
“Nenen.... Nenen...,” rengek Zayan. Aku sungguh tidak tega melihatnya.
“Nanti, ya, Nak. Sekarang, Zayan belum boleh nenen, besok baru boleh. Zayan harus kuat, ya, Nak. Nanti, Zayan harus kuat di ICU biar bisa cepet nenen lagi sama ibu,” ucapku.
Zayan biasanya melihat wajahku saat aku berbicara, tetapi kali ini dia tidak melihatku. Zayan terus melihat ke atap sambil menunjuk-nunjuk. Aku sempat heran melihatnya. Namun, kubuang semua pikiran-pikiran burukku. Akhirnya, Zayan tertidur sendiri di gendonganku. Mungkin, ia tertidur karena lelah.
Sampai pukul 10.00, belum juga ada panggilan untuk Zayan. Aku mulai lelah dengan Zayan yang mulai rewel karena haus dan lapar. Beruntung, suamiku akhirnya datang dari Malang. Aku merasa mendapat suntikan semangat. Aku juga lega, Zayan bisa bertemu dengan ayahnya sebelum memasuki ruang operasi.
Pukul 12.00, kami dijemput perawat untuk diantarkan ke ruangan operasi. Sampai di depan ruang operasi, aku dijelaskan lagi tentang tindakan yang akan dilakukan dan harus menandatangani beberapa berkas. Tak lama, Zayan dijemput beberapa dokter dan perawat berpakaian hijau. Lalu, salah satu dokter yang menggunakan surgical cap dengan tulisan ‘anestesi’ meminta izin padaku untuk melakukan pembiusan pada Zayan di ruang operasi nanti.
Perlahan, kuserahkan Zayan yang sedang tertidur di gendonganku pada salah satu dokter. Zayan terbangun, namun ia tidak menangis. Lalu, para dokter serta perawat membawa Zayan ke dalam ruang operasi. Seketika, air mataku menetes. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi dalam beberapa jam, menit, bahkan detik ke depan. Aku benar-benar merasa tak berdaya.
Zayan masuk ruang operasi sekitar pukul 12.40. Sejak saat itu, aku tidak berhenti melantunkan selawat. Sampai pada selawat ke lima ribu, teleponku berdering. Dengan jantung yang berdegup kencang, aku mengangkatnya. Ternyata, itu adalah telepon dari dokter yang mengatakan bahwa operasi Zayan telah selesai, tepatnya pukul 17.00, sesuai dengan perkiraan dokter. Aku pun diminta untuk segera pergi ke depan ruang ICU.
“Bu, Pak, alhamdulillah, operasinya sudah selesai. Lancar, tidak ada komplikasi saat proses operasi. Sekarang, kondisinya stabil, tapi kita perlu lihat dalam dua atau tiga hari ke depan karena ini adalah masa-masa kritisnya. Berbagai kemungkinan bisa terjadi. Ibu dan Bapak tetap berdoa saja,” jelas dokter bedah.
Aku sangat bersyukur mendengarnya. Allah mengabulkan doa-doaku. Operasi berjalan lancar, sesuai dengan yang kuharapkan. Aku pun tetap berdoa supaya Zayan tetap stabil kondisinya sehingga bisa lekas pindah ke ruang perawatan dan bisa bertemu denganku lagi. Karena pasien ICU tidak boleh dijenguk sama sekali, dokter pun mempersilakanku dan suami untuk beristirahat di rumah. Jika ada kabar penting, dokter akan menelepon kami. Karena itu, kupastikan telepon genggam selalu berada di dekatku, berjaga-jaga bila ada telepon dari ICU.
Pukul 21.30, telepon genggamku berdering. Ya, panggilan itu berasal dari nomor yang selalu membuat jantungku berdegup kencang saat melihatnya. Dengan tangan gemetar, aku mengangkatnya.
“H... halo,” sapaku gugup.
“Halo, Bu, ini saya dari ICU PJT, ingin mengabarkan bahwa kondisi Zayan saat ini drop. Tekanan darahnya menurun terus dan hanya pipis sedikit. Kami akan melakukan tindakan kecil untuk membedah perutnya, lalu memasukkan selang ke dalam perut untuk mengeluarkan urinenya. Ibu bisa ke sini sekarang?” jelas dokter bedah yang bertanggung jawab terhadap Zayan.
“Baik, Dok, saya langsung ke sana sekarang,” jawabku panik.
“Baik, Bu, saya izin melakukan tindakan terlebih dahulu, ya. Ibu tetap ke sini untuk menandatangani beberapa berkas,” lanjut dokter dengan nada tidak tenang.
Aku dan suamiku bergegas ke rumah sakit. Ternyata, saat malam, pintu RSCM yang terbuka hanya ada satu, yakni pintu utama. Aku pun berlari menyusuri lorong dari pintu utama hingga PJT yang jaraknya cukup jauh.
Sesampainya di depan ICU PJT, kulihat pintunya tertutup rapat. Aku sangat cemas menanti kabar dari dokter. Sekitar satu jam, aku menunggu di depan pintu ICU. Akhirnya, dokter pun keluar.
“Bu, kami sudah lakukan tindakan. Tadi, kadar kalium dalam darahnya tinggi. Sekarang, keadaannya sudah lebih baik. Seperti yang sudah saya bilang tadi sore, banyak kemungkinan yang bisa terjadi dalam beberapa jam atau menit ke depan. Ibu dan Bapak tolong terus berdoa,” jelas dokter.
Aku sedikit tenang setelah mendengar penjelasan dokter. Aku dan suamiku memutuskan untuk menetap di rumah sakit saja supaya jika terjadi sesuatu, aku bisa segera menuju ICU. Kami diberikan tempat untuk istirahat oleh seorang laki-laki yang istrinya juga baru selesai operasi jantung.
Aku berusaha memejamkan mata, namun tak bisa. Entah mengapa, perasaanku terus tidak tenang. Setelah salat subuh, aku dan suamiku beranjak untuk mencari sarapan. Namun, dering telepon menghentikan langkah kami.
“Halo, Dok, pasien Zayan henti jantung! Tolong ke sini sekarang!!” Terdengar suara seorang wanita dengan nada panik. Sepertinya, perawat ICU ingin menelepon dokter, namun salah meneleponku.
“Iya, saya ke sana sekarang,” jawabku panik sambil menutup telepon.
Tak lama, teleponku berdering lagi.
“Halo, dengan keluarga anak Zayan? Ibu bisa ke ICU sekarang? Adik sedang kritis, mohon segera ke ICU,” kata seorang wanita dengan nada yang lebih tenang. Kututup telepon itu dan segera berlari kencang menembus keramaian menuju ICU.
Sampai di depan ICU, pintu tertutup dan aku tidak berani langsung masuk. Aku mencoba mengetuk pintu kaca ICU yang buram, lalu ada seorang perawat yang membukakan pintu. Pandanganku langsung tertuju pada Zayan. Betapa kagetnya aku, tempat tidur anakku sudah dikelilingi banyak dokter dan perawat yang bergantian memompa jantungnya. Seketika, kakiku terasa lemas. Aku hanya bisa terus beristigfar.
“Adik tadi tiba-tiba henti jantung, kemungkinan karena kadar kalium dalam darahnya tinggi. Kami sudah memberikan obat hingga dosis tinggi, tapi tidak ada reaksinya. Sekarang, kami sedang berusaha memompa jantung adik. Ibu dan Bapak tolong bantu doa,” jelas dokter. “Maaf, ya, Bu, saya harus sampaikan bahwa kemungkinan terburuknya, adik bisa tidak ada,” lanjutnya.
Seketika, kakiku rasanya tidak menapak di tanah. Pandanganku buram. Pikiranku melayang entah ke mana. Aku berusaha keras menjaga tubuhku agar tak jatuh.
Dokter memintaku untuk menunggu di luar. Dengan lunglai, aku pun melangkah keluar dari ICU. Dalam hati, aku tak henti merapal doa.
Hamba belum ikhlas kalau harus berpisah sekarang, Ya Allah. Tolong kuatkan anak hamba. Jika Engkau ingin menjadikannya ahli surga, maka jadikanlah ia seorang hafiz Quran, ulama, ataupun seorang yang alim. Jangan dengan cara Engkau mengambilnya saat ia belum balig, Ya Allah.
Aku menunggu sekitar satu jam. Akhirnya, aku pun sudah tidak kuat. Aku sadar, mungkin inilah saatnya Zayan kembali ke pangkuan-Nya. Ya Allah, hamba ikhlas jika memang Engkau mengambil Zayan.
Tidak berselang lama, seorang perawat mempersilakan kami untuk masuk ke dalam ICU. Beberapa dokter mendekat kepadaku.
“Bu, mohon maaf, mungkin ini adalah saat-saat terakhir Ibu bersama adik. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi takdir berkata lain. Ibu boleh mendekat sekarang,” jelas salah satu dokter.
Aku memandang Zayan, seorang perawat masih berusaha memompa jantungnya. Aku tidak tega melihat anak sekecil itu harus ditekan-tekan dadanya.
“Astagfirullahalazim... astagfirullahalazim... astagfirullahalazim.... Zayan... ibu di sini, Nak.... Tolong sadar, Nak....” Hanya itu yang bisa kuucapkan.
“Ibu... ikhlas, ya, Bu.... Adik sudah tidak ada...,” ucap seorang dokter dengan hati-hati.
“Insyaallah, saya ikhlas,” jawabku lirih, meskipun sebenarnya, masih ada perasaan belum ikhlas di dalam hati.
Perawat yang sedang memompa jantung Zayan pun akhirnya menghentikan tindakannya. Aku dan suamiku dipersilakan untuk mendekat ke samping Zayan.
“Innalillahi wa inna ilaihi raajiun.... Ya Allah, Za... kenapa cepat banget kamu ninggalin ibu dan baa,” bisikku pada Zayan dengan linangan air mata tak tertahankan.
Aku merasa ini hanya mimpi, mimpi yang sangat buruk. Aku ingin segera terbangun dari mimpi ini. Aku tidak ingin melihat anakku terbujur kaku dengan kulit yang dingin dan detak jantung yang sudah tak terasa lagi. Aku hanya bisa menangis di samping Zayan sembari menciuminya.
Aku tahu, Zayan dan anak-anak lain hanya titipan Allah. Aku tahu, semua yang di dunia pasti akan berpulang, entah bagaimanapun caranya. Aku sudah mempersiapkan diri jika Allah meminta Zayan untuk pulang, tetapi harus kuakui, rasanya sangatlah berat di awal. Aku tahu, perpisahan ini hanya sementara. Aku yakin, suatu saat nanti akan bertemu dan berkumpul kembali dengan anakku, Zayan Abdul Mateen Ansor.
Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, maka Allah bertanya kepada malaikat, ‘Apakah kalian mencabut nyawa anak hamba-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Ya’. Allah bertanya lagi, ‘Apakah kalian mencabut nyawa buah hatinya?’ Mereka menjawab, ‘Ya’. Allah bertanya lagi, ‘Apa yang diucapkan hamba-Ku?’ Malaikat menjawab, ‘Dia memuji-Mu dan mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raajiun’. Kemudian Allah berfirman, ‘Bangunkan untuk hamba-Ku satu rumah di surga. Beri nama rumah itu dengan Baitul Hamdi (rumah pujian). – Hadis Nabi Muhammad SAW.
Inilah kisah sempurna anakku, Zayan Abdul Mateen Ansor. Walaupun akhir ceritanya tidak terlihat indah, tapi aku yakin, inilah yang terindah dari Allah untuk keluarga kami.
Aku berharap, setiap orang yang membaca kisah Zayan, terutama yang dianugerahi anak-anak dengan kondisi istimewa, tetap berjuang untuk kesehatan anaknya. Lelah boleh, istirahatlah sejenak. Lalu, bangkitlah, terima segala risiko yang ada yang dengan berani.
Semua takdir hidup sudah tertuliskan. Namun, bukan berarti kita tak punya pilihan. Kita selalu bisa memilih untuk terus berusaha menjaga titipan-Nya dengan baik atau membiarkannya begitu saja tanpa ada usaha. Aku juga yakin bahwa setiap anak pasti ingin diperjuangkan oleh orang tuanya. Lagi pula, bukankah manusia harus tetap berusaha dan berdoa? Apapun hasilnya, kita harus ikhlas menerima karena itu adalah ketentuan dari Allah SWT.