Penulis: Merlina Rachmawaty
Semalam hujan turun cukup deras. Meski aku berusaha keras untuk tidur sambil sesekali meringis karena luka bedah cesar yang perihnya cukup aduhai, hasilnya nihil! Mataku tetap saja terbuka lebar. Aku memandang langit-langit kamar rawat inap sambil terus memikirkan Ziyan, menciptakan perasaan gelisah dan super mengantuk pagi ini.
Kemarin, 16 November 2017, aku melahirkan putra keduaku. Adhyasta Ziyan Raditya Kurniawan. Ini pertama kalinya dalam hidupku, masuk ke ruang operasi yang dingin, telentang di atas meja operasi, dan merasakan nyerinya jarum suntik berisikan cairan anestesi yang disuntikkan menuju saraf punggung bagian bawah.
Ah... rasanya aku masih tidak percaya kalau kehamilanku yang kedua ini ternyata telah melewati hari perkiraan lahir. Padahal, selama hamil, aku hampir tidak pernah merasakan kesulitan. Menjaga kehamilanku adalah hal yang utama. Aku mampu beraktivitas seperti biasanya, dari mulai memasak, mencuci, dan melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya. Bahkan, aku tetap bisa mengurus anak pertamaku termasuk mengantar jemput sekolah.
Ziyan lahir pada minggu ke-42. Proses kelahirannya pun juga tidak mudah. Aku tidak merasakan kontraksi sampai melewati dua minggu dari hari perkiraan lahir.
Nak, kau baik-baik saja di dalam, kan?
Dokter kandunganku terperangah ketika mengetahui air ketubanku keruh dan gerak janin semakin berkurang.
“Bu, kita lahirkan sekarang! Pilihannya ada dua, melahirkan secara cesar, ataukah dengan induksi. Semuanya bertujuan sama, menyelamatkan bayi di dalam kandungan Ibu.”
Aku dan suamiku bagai diberondong peluru. Kami dikejar oleh waktu. Nyawa janin dalam kandunganku dipertaruhkan. Setelah berdiskusi kilat dengan suamiku, akhirnya aku memilih melahirkan secara cesar.
Sabar dulu, ya, Sayang. Sebentar lagi kita bertemu.
***
Hari beranjak siang dan kami belum juga bertemu dengan Ziyan. Seorang perawat baru saja masuk untuk mengecek suhu tubuhku. Sebelum pergi, dia menyuruhku untuk mencoba duduk atau berdiri kalau aku bisa. Ya Tuhan, perihnya luka cesar ini membuatku kesulitan untuk bergerak bebas. Selain itu, aku resah sekali siang ini.
“Yah, kapan Ziyan dibawa ke sini?” tanyaku dengan wajah memelas.
Suamiku, Mas Rinta yang sedari tadi duduk disamping tempat tidurku, perlahan mengambil napas panjang sembari beranjak dari tempat duduknya. Lalu dia menuju jendela kamar yang selambunya terbuka, terlihat pemandangan jalan raya Kota Malang yang padat oleh kendaraan.
“Kamu dengar penjelasan dokter semalam, kan, Bun?” ujar Mas Rinta. “Ziyan masih diobservasi. Nanti kalau sudah selesai, dia pasti dibawa kesini.”
“Tapi, kapan? Ini sudah siang. Aku mau ke ruang bayi.”
Mas Rinta mencegahku. “Eh, jangan, dong. Sabar dulu ya, Bun. Kita tunggu saja.”
Ah, perasaanku merindu biru. Sejatinya, aku ingin sekali bertemu Ziyan dan memberikan ASI eksklusif secara langsung padanya. Aku menatap Mas Rinta, bertanya-tanya apakah dia tidak ingin bertemu dengan Ziyan? Tapi, jika memang kata dokter masih perlu observasi, lebih baik aku menurut saja.
Ingatanku masih jelas. Semalam, Mas Rinta memberitahukan keadaan Ziyan padaku.
***
“Dokter anak memberitahuku, ketika dilahirkan, Ziyan tidak menangis. Dia sesak napas, kuku kaki dan tangannya biru. Selain itu, Ziyan juga mengalami mikrotia,” ucap suamiku.
Otakku langsung bekerja keras bagai prosesor komputer setelah mendengarkan penjelasan Mas Rinta. Tidak menangis? Mikrotia? Sesak napas? Biru? Ada apa ini sebenarnya?
“Mikrotia itu apa? Ziyan kenapa, Mas?” tanyaku cepat.
Mas Rinta dapat membaca raut wajahku yang kebingungan. Dia menggenggam tanganku dengan erat dan mulai bicara perlahan bak aktor pria utama di drama romantis Korea yang biasanya aku tonton. Kamar tempatku dirawat mendadak nyaris hening. Hanya suara deru AC yang terdengar, seolah-olah membuat suasana menjadi lebih dramatis.
“Bun, mungkin ini enggak mudah buat kita, tetapi berusahalah untuk tetap kuat dan bersabar, ya,” ujarnya.
Jantungku berdegup kencang. Ada kecemasan, penasaran, dan rasa takut yang berkumpul di dada. Genggaman tangan Mas Rinta yang hangat sangat kontras dengan tanganku yang dingin dan sedikit bergetar.
Aku menarik napas panjang. Aku tidak pernah siap untuk hal ini. Tetapi, mau tidak mau, aku harus mendengarkan dan siap menghadapi sesuatu yang mungkin akan mengubah hidupku. Hidup kami.
Raut wajah Mas Rinta berubah tegang. “Mikrotia itu kondisi di mana telinga bagian luar berukuran lebih kecil dan tidak terbentuk dengan baik, Bun.”
Aku hanya bengong. “Lantas?”
Mas Rinta diam sejenak, ketegangan masih menyelimuti wajahnya yang tampak lelah. Kemudian, Mas Rinta melanjutkan kata-katanya dengan hati-hati.
“Telinga kanan Ziyan sedikit menutup dan ukurannya lebih kecil jika dibandingkan dengan daun telinga sebelah kiri." Mas Rinta mengamati ekspresiku. Aku tidak berkata sepatah kata pun.
“Saat ini, Ziyan masih berada di ruang PICU untuk diobservasi. Kadar oksigen dalam tubuhnya masih belum stabil, hanya 75 ppm. Dia masih sesak napas. Ziyan juga mengalami pneumonia dan asma. Selang oksigen dipasang untuk memudahkan Ziyan bernapas.”
“Ini prank kan, Yah? Nggak lucu, ah!”
Mas Rinta menggeleng. “Enggak, Bun.”
Nalarku dengan tegas menolak ucapan Mas Rinta. Tidak masuk akal. Aku selalu menjaga kehamilanku dengan baik. Asupan gizi berusaha untuk aku penuhi dan vitamin dari dokter kandungan tidak pernah terlambat aku konsumsi. Anggota keluargaku pun semua terlahir normal. Bagaimana bisa? Aku bahkan belum bertemu dengan Ziyan. Jadi, aku tidak bisa memastikan kebenaran perkataan Mas Rinta.
Setelahnya, aku tidak dapat tidur nyenyak. Pikiranku berlari kemana-mana memikirkan banyak hal. Beberapa puluh menit kemudian, lelah menghampiri dan dadaku makin terasa sesak. Malam itu, hujan turun sangat lebat. Tanpa sadar, aku menangis bersama derasnya hujan.
***
Akhirnya hari ini aku bertemu dengan Ziyan. Aku tak dapat menggendongnya. Aku hanya bisa memandang Ziyan tertidur dalam inkubator dengan selang oksigen terpasang di hidungnya dan beberapa kabel yang terhubung dengan monitor pasien.
“Yah, Ziyan mirip siapa, ya?,” tanyaku antusias.
Mas Rinta melongok. “Mmm... kayaknya lebih mirip kamu, deh.”
“Ah, masak, sih? Ziyan lucu, ya, Yah. Tapi....” Aku berpaling sambil menekuk wajah tanpa melanjutkan kalimatku.
Ada perasaan bahagia, sedih, dan takut ketika bertemu Ziyan. Aku bahagia akhirnya bisa melihatnya. Tetapi, aku juga sedih karena Ziyan harus mengalami kondisi seperti ini di usianya yang belum genap satu minggu. Apa aku bisa melewati ini semua? Apakah Ziyan bisa sembuh?
Ya! Harus! Ziyan harus dan akan sembuh.
“Bu, nanti anaknya kita echo, ya,” saran dokter anak yang menangani Ziyan ketika berada di PICU.
Dokter anak menyarankan kepada kami untuk melakukan echo jantung dengan dokter spesialis jantung anak karena curiga ada penyakit jantung bawaan pada Ziyan. Selain itu, beliau juga menyarankan untuk melakukan tes OAE pada Ziyan.
Echo jantung atau ekokardiografi. Lebih dikenal dengan sebutan USG jantung. Tindakan ini menggunakan gelombang suara dengan frekuensi tinggi untuk memeriksa kondisi jantung. Sedangkan tes otoacoustic emission (OAE) dilakukan pada bayi untuk melihat apakah terjadi gangguan ketulian atau tidak pada telinga. Aku dan Mas Rinta mengiakan saja. Kami berdua sepakat untuk berusaha melakukan yang terbaik bagi Ziyan.
“Insyaallah, semua akan baik-baik saja, Bun. Kita lalui ini bersama-sama, ya,” hibur Mas Rinta sambil mengusap kepalaku.
***
Pagi ini, matahari menyapa dengan hangat melalui jendela yang sengaja kubuka lebar-lebar. Aku masih sibuk dengan ponselku, membalas pesan WhatsApp dari teman-temanku serta beberapa kerabat yang mengucapkan selamat atas kelahiran Ziyan. Anak pertamaku, Zola, juga sempat video call denganku dan menanyakan keberadaan Ziyan. Sayangnya, Ziyan berada di ruang PICU karena masih dalam masa observasi oleh dokter.
“Doakan adik, ya, Mas.”
“Iya, Bun. Zola pasti doakan adik supaya lekas sembuh dan bisa cepat pulang ke rumah.”
Mas Rinta mulai mengemas barang-barang ke dalam tas jinjing karena aku sudah diizinkan pulang hari ini, sedangkan Ziyan masih berada di ruang PICU. Aku sedih sekali karena harus meninggalkan Ziyan sementara.
Bunda akan menemuimu setiap hari, Nak.
Aku sudah selesai berganti baju dan Mas Rinta baru saja duduk di kursi sofa berwarna cokelat di pojok ruangan sambil menghela napas panjang. Dia lalu meneguk teh botol rasa buah kesukaannya. Tak berapa lama, dokter spesialis jantung anak masuk ke ruangan ditemani seorang perawat yang tampaknya berusia awal 30-an.
“Selamat pagi menjelang siang, Bu, Pak,” beliau menyapa dengan ramah.
Aku beranjak dengan sigap. "Oh, selamat siang, Dokter."
Entah mengapa detak jantungku mulai tak beraturan ketika beliau masuk. Bukan... bukan karena parasnya yang cantik nan glowing. Tetapi beliau membawa kabar mengenai Ziyan untuk kami berdua.
“Pak, Bu. Hasil echo jantung Ziyan sudah keluar.” Beliau melanjutkan kalimatnya. “Dari hasil echo, ada lubang kecil di serambi kiri. Tetapi, saya nggak terlalu yakin sama hasil ini, soalnya hanya kuku jari tangan dan kaki saja yang biru, dan sebetulnya nggak terlalu biru sekali warnanya. Coba deh, nanti echo ulang saja di rumah sakit umum daerah. Biar lebih jelas diagnosisnya. Nanti di sana, bilang saja sudah janjian sama saya.”
Aku mengangguk sambil menyembunyikan rasa kaget yang luar biasa.
Mas Rinta tampak limbung. Kakinya berusaha menopang tubuhnya yang hendak terkulai lemas. Tak biasanya Mas Rinta seperti ini. Dia tampak tegar sebelum-sebelumnya. Tetapi, kali ini... berbeda. Mas Rinta memang pendiam. Dia pandai menyimpan perasaan. Hidup bersama dengannya selama lebih dari sepuluh tahun membuatku mengerti, sebenarnya dia juga merasakan kecemasan dan kesedihan yang sama denganku.
Sebelumnya, dokter anak juga memberitahukan hasil tes OAE Ziyan. Hasilnya cukup mengagetkan kami berdua bahwa telinga kanan Ziyan mampu mendengar suara, tetapi hanya sedikit suara saja. Dia tidak dapat mendengar sejelas anak-anak normal. Beliau juga menyarankan kami untuk berkonsultasi lebih lanjut ke dokter spesialis THT mengenai mikrotia Ziyan.
Setelah beliau meninggalkan ruangan, kami berdua hanya bisa mematung dengan pandangan yang menerawang jauh sambil mengira-ngira hal apa saja yang harus kami berdua lakukan untuk Ziyan. Kami berdua benar-benar syok dan merasa down.
“Cubit pipiku, Yah. Tolong pastikan tadi itu cuma mimpi.” Tenggorokanku tercekat, menahan tangis.
***
Di hari ketujuh, Ziyan sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya sudah membaik. Saturasinya sudah normal, tidak ada sesak napas, dan kuku jarinya juga tidak membiru. Kami berdua tidak membawa Ziyan pulang ke rumah, melainkan langsung membawa Ziyan menuju rumah sakit umum daerah untuk dilakukan echo jantung ulang sesuai arahan dokter spesialis jantung anak. Tidak memerlukan waktu yang lama untuk mengetahui hasilnya.
“Nah, benar, kan, dugaan saya.” Beliau terlihat puas dengan hasil echo kali ini. “Memang ada lubang di serambi kiri, tapi ukurannya sangat kecil, sedangkan sesaknya ini dikarenakan hipertensi paru. Tekanan pembuluh darah arteri di paru-paru lebih tinggi, yang menyebabkan suplai oksigen ke paru-paru tidak maksimal.”
“Jadi, kira-kira tindakan apa yang harus dilakukan untuk menutup lubang di serambi jantung Ziyan, Dok?” tanya Mas Rinta.
“Nggak ada tindakan khusus, Pak. Kita bisa lakukan terapi obat untuk menutupnya. Setelah konsumsi obat, nanti kita echo jantung lagi. Kita lihat perkembangannya,” jawab dokter spesialis jantung anak dengan sangat jelas.
Ziyan memulai terapi obat pertamanya di usia yang belum genap satu bulan. Terapi obat berlangsung selama tiga bulan. Menginjak bulan ketiga, Ziyan menjalani echo ulang. Hasilnya, lubang di serambi sudah hampir menutup. Dokter kembali meresepkan obat yang harus dikonsumsi tiap tiga hari sekali selama satu bulan.
Satu bulan kemudian, Ziyan melakukan echo ulang. Hasilnya, lubang di jantung Ziyan telah menutup. Aku senang sekali. Masa-masa ini sungguhlah sulit buatku. Terlebih, Ziyan juga bolak-balik rawat inap di rumah sakit karena pneumonia dan asmanya yang sering kambuh.
Oke. Masalah Jantung sudah teratasi. Aku dan Mas Rinta cukup lega. Sekarang, beralih ke masalah lain. Mikrotia.
Aku membawa Ziyan ke rumah sakit, menemui dokter spesialis THT. Dari beliau, aku mengetahui bahwa Ziyan mengalami mikrotia grade tiga, yaitu daun telinga berbentuk seperti kacang. Uji BERA juga dilakukan pada Ziyan untuk mengetahui ambang dengar pada telinga. Dan, hasilnya pun sama. Ziyan tidak dapat mendengar dengan jelas.
Sebagai seorang ibu, tentu aku memiliki banyak kekhawatiran. Tidak menutup kemungkinan, perlakuan yang tak menyenangkan seperti bully serta penghinaan akan di alami Ziyan ketika dia beranjak dewasa karena bentuk telinganya yang berbeda dari teman-temannya yang normal.
“Apakah tidak ada cara untuk memperbaiki telinganya, Dok?” tanyaku.
“Ya... saya mengerti kekhawatiran Ibu. Begini, ya, Bu. Ada kemungkinan Ziyan dapat menjalani operasi rekonstruksi mikrotia di umur tujuh atau sepuluh tahun,” jawabnya.
“Re... rekonstruksi mikrotia? Maksudnya bagaimana, ya, Dok?” tanya Mas Rinta sambil membenahi posisi duduknya.
Dokter THT berdehem. “Pada rekonstruksi akan dilakukan pengambilan tulang rawan iga, lalu dibentuk seperti daun telinga dan ditanam pada media implan sehingga kelak daun telinga Ziyan memiliki tampilan yang baik.”
“Kenapa nggak dilakukan sekarang saja, Dok? Bukankah lebih cepat lebih baik?” tanyaku.
Beliau hanya tersenyum mendengar perkataanku. “Telinga akan berhenti tumbuh ketika masuk usia tujuh atau sepuluh tahun, Bu. Kalau kita lakukan sekarang, nanti telinga Ziyan bisa nggak simetris, dong. Ya, kan?”
Aku dan Mas Rinta manggut-manggut. “Oh... iya, Dok.”
Nak, kamu masih harus menunggu cukup lama untuk perbaikan telingamu. Seandainya bunda bisa menggantikan posisimu, Sayang.
***
Sejak awal kelahiran Ziyan, tepatnya, ketika aku mengetahui kondisi Ziyan yang mengalami mikrotia, ada bagian dari diriku yang menolak kenyataan. Aku tidak benar-benar bisa menerima Ziyan apa adanya dengan segala kekurangannya. Kenapa dia tidak seperti anak-anak normal pada umumnya? Hari-hariku menjadi buruk dan aku benar-benar merasa terpuruk. Aku takut bertemu dengan orang lain. Aku tidak mau mereka melihat kekurangan Ziyan. Mau bilang apa aku kepada mereka?
Keluarga besar kami juga cukup syok, sedih, dan kecewa ketika mengetahui keadaan Ziyan yang memiliki kekurangan. Mereka mendesakku agar segera menyembuhkan Ziyan agar tidak perlu disembunyikan dari para tetangga. Aku dicap tidak becus dalam mengurus dan tidak peduli dengan kekurangan Ziyan. Mereka menganggap aku tidak melakukan usaha apapun untuk membuat Ziyan sembuh.
Aku merasa sendirian bersama perasaan denial ini. Terlebih lagi, keluarga dan lingkungan sekitar yang tidak mendukungku. Hanya suamiku, support system utamaku saat ini. Sedari awal, Mas Rinta memang menerima segala kondisi Ziyan. Dia tidak menyalahkan atau menghakimiku.
Malam-malam sebelumnya, aku banyak menangis. Pagi ini, aku memberanikan diri membawa Ziyan ke halaman untuk mandi sinar matahari. Aku mengambil topi bayi berwarna kuning dengan bordiran kelinci, lalu memakaikannya ke kepala Ziyan, menutupi daun telinganya yang terlipat. Aku pun perlahan melangkahkan kaki sambil celingukan, memastikan tidak ada tetangga yang terlihat.
Beberapa orang tetangga menyapaku dengan ramah. Ada juga yang tampaknya penasaran kenapa Ziyan selalu memakai penutup kepala.
“Lo, bentuk telinganya kok gitu?” tanya salah seorang tetanggaku yang kebetulan lewat sambil setengah terkejut ketika melihat telinga Ziyan. “Pas hamil, sampean atau suaminya pasti pernah menyiksa binatang, ya?”
Aku bengong. “Hah??”
“Hamil itu pantangannya banyak, Mbak. Kalau dilanggar, ya akibatnya kayak gini. Kasihan anaknya.”
Aku menghela napas pendek, menahan dongkol sambil berusaha tetap bersikap sopan kepada tetanggaku yang usianya lima tahun lebih tua dariku itu. Jika usianya lebih muda, mungkin aku akan menghardiknya habis-habisan. Betapa sulitnya menjaga mulut agar tetap berkata baik.
Mandi sinar matahari tidak berlangsung lama. Aku akhirnya menyerah dan buru-buru masuk ke dalam rumah, khawatir kalau ditanya macam-macam tentang Ziyan oleh tetangga yang lewat.
Waktu menunjukkan pukul 21.45 WIB. Ziyan sudah tertidur dengan pulas setelah aku mengganti popoknya. Aku lantas mengambil sekeranjang cucian kering yang belum sempat aku lipat. Belum saja usai dengan kegiatanku, ponselku bergetar dan berbunyi. Aku melihat sebuah pesan WhatsApp masuk ke ponselku, dari Mas Rinta.
Mau sampai kapan Ziyan kamu sembunyikan?
Aku segera menjawab pesannya.
Aku nggak mau tetangga tahu kondisi Ziyan. Mau jawab apa aku?
Mas Rinta: Ya jawab aja apa adanya.
Aku: Aku malas jelasin ke orang-orang. Percuma.
Mas Rinta: Ya nggak usah panjang lebar, lah. Seperlunya aja.
Mas Rinta tak selalu bersamaku. Lokasi kerja yang berada di luar kota membawa kita ke dalam hubungan pernikahan jarak jauh. Menjalani ini semua seperti mencari jalan keluar di tengah hutan sendirian dengan hanya berbekal peta buta dan sekotak korek api. Sebesar apapun dukungan Mas Rinta buatku, bagiku saat ini kehadirannya di sisiku adalah hal yang paling aku inginkan.
Ketika Mas Rinta mendapatkan jatah libur, dia mengambil banyak peran dalam mengasuh Ziyan. Mas Rinta tak segan-segan membantuku mengganti popok, memandikan, menyuapi, bahkan menidurkan Ziyan. Dia memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar tercipta bonding yang kuat dengan Ziyan. Selain itu, dia juga berusaha keras memberikan pengertian mengenai kondisi Ziyan kepada keluarga besar kami. Tidak mudah memang, tapi Mas Rinta tetap gigih melakukannya.
***
Aku menyadari sesuatu...
Ziyan belum dapat berguling di usianya yang menginjak delapan bulan. Tak perlu berpikir lama, dokter tumbuh kembang kali ini menjadi tujuanku berkonsultasi. Dari sana Ziyan mendapat diagnosis baru. Ziyan mengalami global developmental delay (GDD) atau keterlambatan tumbuh kembang dan harus segera dilakukan fisioterapi agar dapat mengejar keterlambatannya.
Oh, apa lagi ini, ya Tuhan. Maafkan bunda, Nak. Bunda lalai dengan perkembanganmu.
Rasanya, aku makin terpuruk. ‘I’m not a good mother’ adalah kalimat yang berkali-kali bergema di pikiranku. Aku dan Mas Rinta akhirnya menjadwalkan fisioterapi untuk Ziyan. Pada umur sekitar satu tahun, Ziyan menjalani fisioterapi pertamanya. Aku juga melatihnya di rumah berbekal ilmu yang disampaikan terapis Ziyan padaku. Kakaknya pun juga dengan senang hati membantu Ziyan berlatih.
Keluarga besar yang awalnya tidak menunjukkan dukungan kepada kami, akhirnya perlahan melunak. Mereka mulai menerima keadaan Ziyan. Pelan-pelan, mereka mencoba untuk mengerti semua diagnosis Ziyan. Mereka juga ikut membantuku merawat Ziyan. Aku bersyukur sekali, akhirnya keluarga besar mendukungku dan Mas Rinta sepenuhnya dalam merawat Ziyan. Hanya aku. Hanya aku saja yang masih sibuk menyangkal kondisi Ziyan.
Ziyan tumbuh menjadi anak yang periang dan selalu bersemangat dalam kegiatan kesehariannya. Ya, meskipun terkadang dia keras kepala dan mudah ngambek ketika keinginannya tidak dituruti. Belakangan, dia hampir tidak pernah rewel. Seharusnya aku senang, tetapi entah kenapa aku merasa bahwa itu belumlah cukup.
Seiring dengan bertambahnya usia, aku dan Mas Rinta mulai merasa kesulitan untuk berkomunikasi dengan Ziyan karena dia belum dapat berbicara secara verbal. Tidak hanya kami, anggota keluarga yang lain juga merasakan hal yang sama. Terkadang, Ziyan marah dan menangis ketika tidak ada yang mengerti apa keinginannya.
“Bu, terapinya kita tambah, ya. Kita jadwalkan untuk ikut terapi wicara dan terapi okupasi,” ujar dokter tumbuh kembang kala aku menceritakan kesulitan yang kami hadapi.
Akhirnya, Ziyan mengikuti terapi wicara dan terapi okupasi yang bertujuan untuk membantunya dalam melakukan aktivitas sehari-hari seperti memakai baju atau memakai sepatu. Selama ini Ziyan cukup kooperatif jika terapi, meskipun sesekali dia menangis karena ingin segera pulang ke rumah.
***
Ah... seperti terjadi peperangan dalam diriku. Dadaku berkecamuk. Kenapa aku tidak bisa melihat banyak hal-hal positif dari Ziyan? Perkembangan Ziyan dalam fisioterapi, terapi wicara, dan terapi okupasi cukup bagus meskipun belum lulus. Tetapi... aku menginginkan lebih.
Hari ini, Mas Rinta mengajakku makan di luar. Bukan makan siang mewah, hanya menikmati makanan kesukaan di tempat favorit kami berdua.
“It's okay, daijobu... gwenchana. Take your time sweetheart. Memang nggak mudah untuk berdamai dengan keadaan dan diri sendiri, Bun.”
Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut Mas Rinta ketika aku mengeluarkan unek-unekku tentang semua perasaan denial-ku terhadap kondisi Ziyan. Dalam hati aku terkekeh. Aku tak menyangka Mas Rinta bisa berkata kalimat semanis itu padaku.
Mas Rinta menghela napas panjang. “Ambillah waktu sebanyak yang kamu butuhkan. Tetapi, Ziyan juga tidak bisa selamanya menunggu kamu. Ziyan membutuhkan sosok ibu yang menerima dia apa adanya agar dia juga dapat tumbuh baik dengan rida kamu sebagai ibunya. Kamu paham apa yang aku maksud, kan?”
Nasihat Mas Rinta melekat kuat di kepalaku. Seharusnya kata-katanya bisa membuatku terbebas dari peperangan dengan diri sendiri. Namun, aku masih terlalu keras kepala untuk menerima ini semua.
“Coba, deh kamu cari-cari support group, Bun. Mungkin bisa membantumu. Aku nggak selalu ada di sisi kamu, jadi belum bisa bantu banyak. Satu lagi. Kamu itu ibu dan istri yang hebat. Kamu selalu melakukan yang terbaik. Bukan hanya untuk anak-anak, tetapi juga untuk aku. You can fight this!” imbuhnya.
***
Perlahan, aku mencoba untuk berdamai dengan diri sendiri dan keadaan meskipun terasa sangat sulit buatku. Aku butuh support dari luar. Mencari teman yang seperjuangan denganku agar aku tak merasa sendirian. Aku pun mulai mencari-cari informasi tentang support group untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Segala upaya aku kerahkan. Berselancar di situs pencari, scrolling media sosial, juga bertanya kepada teman.
Akhirnya...
Aku menemukan Mom of Rare Disease. MORE Community.
Berawal dari mengikuti kuliah WhatsApp yang sering diadakan lalu membaca postingan-postingan di akun Instagramnya yang sangat edukatif, akhirnya aku memberanikan diri untuk bergabung ke dalam komunitasnya yang menaungi para ibu dari anak dengan penyakit langka, serta berkebutuhan khusus yang lainnya.
Aku menemukan keluarga keduaku. Ada banyak teman yang seperjuangan denganku. Di sana, aku mendapatkan ilmu, dukungan, dan banyak vibes positif. Kami sering berbagi cerita baik suka maupun duka. Kepercayaan diriku perlahan kembali. Aku mulai membuka diri dengan orang-orang di sekitarku. Semangatku untuk terus berjuang dan membersamai Ziyan kembali menyala terang.
MORE Community telah mengubah pandanganku terhadap Ziyan dengan segala kekurangannya. Aku pun berdamai dengan keadaan dan diri sendiri, serta menerima Ziyan apa adanya. Baik itu kekurangannya maupun kelebihannya.
Maafkan bunda, Ziyan, sempat menolak kekuranganmu. Bunda sungguh menyesal. Kali ini, bunda akan pegang erat tangan Ziyan. Kita lalui bersama, ya. Jangan takut. Ada Ayah, Bunda, dan Kak Zola. Allah juga akan selalu bersama dengan kita, Nak.
Betapa senang dan bahagianya Mas Rinta dengan aku yang sekarang. Tidak ada lagi istri tersayangnya yang lebih banyak cemberut serta menutup diri dari lingkungan sekitar.
Sekarang, Ziyan berusia lima tahun. Dia sudah pandai merangkak dan sesekali berjalan dengan dititah. Aku sangat bersyukur atas perkembangan apapun mengenai Ziyan baik besar maupun kecil, terlebih melihat dia tumbuh sehat dan bahagia.
***
Hari minggu kali ini, kami berempat pergi ke pantai. Aku menyukainya. Berada di pantai membuatku tenang. Suara deburan ombaknya memberikan kedamaian dan sensasi rileks pada diriku. Warna biru muda di angkasa membuat hari ini terlihat sungguh cerah. Awan yang bergerombol bak kapas berarak perlahan tepat di atas kepala. Serta sayup-sayup terdengar lantunan lagu Kahitna kesukaanku. Ah... aku sangat menikmati momen ini. Melihat Mas Rinta, Zola, dan Ziyan bermain sungguhlah membuatku banyak bersyukur atas apa yang Tuhan berikan kepadaku.
Terimakasih, suamiku. Telah setulus hati mendukungku dan menjadi ayah terbaik untuk anak-anak. Terimakasih, MORE Community. Kalian telah membawaku keluar memenangkan peperangan dengan diriku sendiri. Dan, terimakasih, Ziyan. Telah menunggu dan bersabar terhadap bunda. Kamu memang super, Nak. Bunda harus banyak belajar lagi sama kamu, Super Boy-nya bunda.