Penulis: Lili Heryanti
Ada pesona yang menyinari seluruh isinya
Ada pesona yang memancarkan di setiap halamannya
Ada pesona yang menggetarkan di setiap kalimatnya
Ada pesona yang memukau di setiap katannya
Pesona itu ialah energi yang mengubah hidupmu
Pesona itulah yang menuntunmu untuk menghargai diri
Pesona itulah yang memuliakan hidupmu
Pesona itulah yang membedakanmu dengan lainnya
Pesona itulah yang membuatmu begitu mulia
Pesona itulah yang membuatmu begitu memesona
Duhai anakku
Sebutlah dengan nama Tuhanmu
Tarik napasmu dalam zikir
Sebutlah asma-Nya
Lalu embuskan perlahan
Bersyukurlah karena dirimu luar biasa hebat
Abidzar Ihsan Alghifari memiliki arti seorang penyebar kebaikan yang memiliki sifat pemaaf serta lembut hatinya. Abidzar adalah anak kedua. Dia lahir tepat pada tanggal 2 September 2018 secara normal dengan berat 3.700 gram dan panjang 56 cm. Aku dan suami sangat besyukur karena telah dikaruniai sepasang anak. Kakak Abidzar perempuan. Aisyah namanya. Usianya sekarang 4 tahun. Aku melahirkan di rumah sakit yang jaraknya hanya 10 menit dari rumah. Kami menginap semalam karena kondisiku dan Abidzar Alhamdulillah baik jadi dokter memperbolehkan kami pulang.
Setelah beberapa hari di rumah, aku menyadari ada yang aneh dengan Abidzar. Napasnya begitu cepat dan untuk menyusu pun dia tampak kesusahan.
“Mak, kok Abidzar kayak sesak, ya?” tanyaku pada ibu.
“Itu biasa terjadi pada anak yang baru lahir. Nanti juga sembuh sendiri.”
Aku mengangguk atas jawaban ibu. Namun, hatiku sama sekali tidak tenang. Aku mencoba mencari jawaban lain dengan mengeluhkannya pada suami.
“Yah, kok, adik kayak sesak dan mimiknya ngos-ngosan?”
“Nanti kita periksakan ke dokter.”
Berbagai kekhawatiran dan dugaan-dugaan aneh pun kutepis. Meski merasa bahwa napas Abidzar tidak biasa, aku terus meyakini bahwa anakku baik-baik saja.
Pada satu minggu usia Abidzar, sesuai dengan jadwal kontrol, kami menemui Dokter Spesialis Anak (DSA) di rumah sakit tempatku melahirkan. Perasaanku berkecamuk, antara penasaran dengan napas Abidzar yang tidak biasa, juga keyakinan bahwa dia baik-baik saja.
Dengan menggunakan stetoskop, dokter memeriksa Abidzar dengan teliti. Kerutan di dahinya membuat perasaanku semakin tidak keruan.
“Bu, ini jantung adik ada seperti bunyi bising. Murmur.” Dokter menjeda kalimatnya, membuatku semakin waswas menunggu kelanjutannya. “Seperti ada kebocoran di jantungnya.”
Langit seakan runtuh. Badanku lemas seketika. Ada kebocoran di jantung Abidzar? Ya Allah….
*
Aku tidak percaya bahwa jantung Abidzar bocor. Anakku baik-baik saja. Atau… kalau pun sakit, dia tidak mungkin sampai mengalami kebocoran jantung. Aku benar-benar tidak percaya pada apa yang dikatakan dokter itu.
Dua minggu kemudian, saat orang tua dan mertua telah kembali pulang ke kampung halaman, aku dan suami kemudian membawa Abidzar ke DSA yang lain hanya ingin meyakinkan bahwa Anakku baik-baik saja. Aku ingin meyakinkan bahwa apa yang dikatakan dokter saat itu tidaklah benar.
Namun, apa yang aku yakini ternyata salah. Second opinion yang kucari dari DSA lain ternyata pun memberikan diagnosis yang sama. Abidzar mengalami kebocoran jantung, bahkan harus segera dirujuk ke Surabaya atau Malang. Di daerah tempatku tinggal, Pasuruan, tidak ada DSA Subspesialis Kardiologi. Tidak ada Dokter Jantung Anak di sini. Maka, kami pun memilih untuk ke Malang. Demi Abidzar.
“Saya akan siapkan surat rujukannya.”
Tidak perlu menunggu terlalu lama karena pada saat itu suhu badan Abidzar tiba-tiba meningkat. Napasnya pun menjadi semakin ngos-ngosan. Kami segera berangkat menuju Kota Malang, menuju rumah sakit rujukan.
“Sudah berapa lama anaknya demam? Napasnya berat. Rawat inap, ya.”
Tanpa menunggu aku mengangguk mengiakan, dokter itu kemudian melanjutkan instruksinya kepada suster. “ Untuk cek darah, urin, foto toraks. Saya curiga pneumonia. Jantungnya juga bising.”
“Tolong lakukan yang terbaik untuk kesembuhan anak kami.”
Malam itu juga, Abidzar melakukan tes darah, urine, dan foto toraks agar memastikan kondisinnya, infeksi apa yang menyebkan dia demam. Setelah menunggu kurang lebih satu jam, hasil foto toraks keluar. Benar adanya, paru-paru Abidzar telah tertutup kabut putih. Itu berarti paru-parunya terinfeksi.
Aku tak sanggup berbicara lagi. Air mataku menetes deras, tanpa henti. Ini semua salahku. Ya Allah… begitu besarnya dosaku hingga Engkau menghukum anakku seperti ini. Kenapa dia yang Engkau hukum, ya Allah? Kenapa bukan aku saja?
Ibu mana yang tidak bersedih melihat anaknya terbaring tidak berdaya. Tangannya diinfus dan di mulutnya terpasang orogastric tube (OGT). Sebuah selang yang dimasukkan dari mulut hingga lambungnya. Melalui selang itu, Abidzar menyusu. Setiap dua jam, aku harus memasukkan ASI perah melalui selang itu.
“Yah, ASI-ku berkurang. Tolong belikan aku obat pelancar ASI,” ucapku di sela putus asa.
Sebentar lagi waktuku untuk memasukkan ASI pada selang OGT Abidzar. Sementara hingga kini, hasil perahanku hanya 10 ml saja. Jelas ini tidak cukup. Bagaimana jika ASI ini tidak kunjung keluar? Sementara dokter memintaku untuk memberikan ASI setidaknya hingga Abidzar berusia enam bulan.
“Bun, jangan stres. Semua sudah takdir. Kita tidak bisa melawan. Sekarang kita obatin adik sampai sembuh. Yakin sama Allah, ya.”
Aku menyeka air mata mendengar penuturan suamiku. Ya, ini adalah takdir Allah yang harus kami jalani. Kutarik napas panjang, lalu melepaskan perlahan. Kutenangkan diri dan menghalau seluruh pikiran buruk yang menggangguku. Aku tidak boleh stres.
Kembali kulanjutkan aktivitasku memerah ASI. Harus bisa! ASI ini harus cukup untuk Abidzar.
*
Setelah 12 hari dalam perawatan, dokter akhirnya mengizinkan Abidzar pulang. Dengan catatan, setiap bulan harus kontrol untuk melihat perkembangannya. Sebelum pulang, Abidzar melakukan pemeriksaan Echocardiogrphy (echo) untuk memastikan kebocoran jantungnya. Ternyata benar, ada kebocoran jantung pada anakku.
“Pak, Bu, ada kebocoran di bilik kanan sekitar 9-10 mm. Ini kita sebut Ventricular Septal Defect (VSD).”
Meski aku belum paham dengan penjelasan dokter, aku telah bertekat kuat bahwa Abidzar harus sembuh. “Selanjutnya bagaimana, Dokter?”
“Kita observasi dulu ya, Bu, sambil lihat perkembangan adik. Enam bulan lagi kita echo ulang.”
Mengikuti saran dokter, kami pun rutin membawa Abidzar kontrol. Setiap 6 bulan sekali, Abidzar melakukan pemeriksaan echo. Hasilnnya sama. VSD 9-10 mm. Defek Septum Ventrikel atau (VSD) merupakan kelainan jantung yang ditandai dengan adanya celah atau lubang di antara kedua bilik jantung. Pada kondisi normal, seharusnya tidak ada lubang atau celah di sana. VSD adalah salah satu jenis penyakit jantung bawaan. Kondisi ini dapat terjadi mulai usia kehamilan 8 minggu, yaitu ketika pembentukan jantung janin berlangsung di dalam kandungan.
Hari berganti hari kami lalui. Abidzar anak yang riang. Dia selalu tertawa saat bermain bersama kakaknya. Alhamdulillah pertumbuhan dan perkembangan Abidzar bagus. Tidak ada keterlambatan dalam hal apapun. Dia sama seperti anak pada umumnya. Dia melalui proses merangkak, berjalan, berlari, dan berbicara dengan baik. Tidak seorang pun akan menyangka bahwa anakku sakit. Kata dokter, jenis VSD Abidzar memang tidak membuat badannya biru.
*
Pada usia 17 bulan, saat Abidzar melakukan echo ulang, hasilnya sama. Tidak ada yang berubah. VSD 10 cm.
“Harus operasi ini, Bu. Kebocornya terbilang besar. Posisi yang bocor juga sangat sulit dijangkau. Rujuk, ya. Surabaya atau Jakarta.”
Air mataku luruh seketika. Badanku serasa lemas tidak berdaya. Kupeluk dan kucium anakku, berharap apa yang kudengar hanyalah mimpi belaka.
Ya Allah…. Aku nggak mau ini terjadi!
Pada akhirnya, tidak ada pilihan lain buatku selain harus tegar. Aku mulai menggali informasi dengan sesama orang tua yang mengalami hal serupa. Aku bergabung dengan komunitas kelainan jantung bawaan. Hingga kemudian, aku memutuskan untuk mencari dokter lain.
Berbekal informasi dari teman-teman dalam komunitas itu, aku kemudian menemui Dokter Dyahris, Dokter jantung Anak. Beliau adalah sosok yang ramah dan sangat baik. Dengan telaten, beliau menjelaskan kondisi Abidzar kepadaku.
“Ini harus segera dioperasi ya, Bu. Takutnya nanti ada komplikasi lain. Kasihan adik kalau terlalu lama ditunda.”
Berbeda dari sebelumnya, kini aku sudah bisa menerima kenyataan bahwa Abidzar memang harus operasi. Entah mungkin karena sikap Dokter Dyahris yang hangat, aku menjadi lebih ringan dalam membersamai Abidzar.
“Operasinya di sini atau rujuk, Dok?”
“Rujuk.”
“Baiknya ke mana ya, Dok? Jakarta apa Surabaya?”
“Kalau mau cepat, ke Jakarta saja, Bu. Karena di Surabaya antrenya lumayan panjang. Apalagi sekarang pandemi. Tambah panjang lagi.”
“Baik, Dok, kami memilih ke Jakarta.”
Segalanya pun dipersiapkan. Selain mengurus rujukan, hal yang harus kami lakukan adalah menemui dokter gigi dan THT untuk memastikan semuanya aman.
*
Pagi hari pada 3 Januari 2021, aku dihubungi oleh PIC RS Hermina Depok yang menyampaikan bahwa tindakan operasi bedah jantung untuk Abidzar dapat segera dilakukan. Antara rasa Bahagia dan cemas, bercampur menjadi satu. Aku Bahagia karena setelah ini anakku akan sehat. Namun, aku sekaligus juga cemas, membayangkan pembedahan yang akan dilakukan pada anakku.
Kami kemudian menghubungi keluarga besar di Palembang untuk memberi kabar sekaligus memohon doanya. Mereka kaget, tentu saja. Kami sama sekali tidak pernah bercerita kondisi Abidzar yang sebenarnya. Mereka tidak pernah tahu bahwa Abidzar mengalami kebocoran jantung.
Keberangkatan kami ke Depok direncanakan pagi hari tanggal 13 Januari 2021. Sehari sebelumnya, aku dan suami telah melakukan tes swab antigen. Alhamdulilah hasilnya negatif. Segala keperluan di depok sudah aku persiapkan. Menurut teman-teman di komunitas, biasanya kami akan menginap sekitar 2 – 3 minggu di Depok, lalu kemudian dipulangkan dan melanjutkan rawat jalan di Malang. Jadi, kami hanya membawa baju seperlunya dan barang-barang secukupnya saja.
Tepat pukul 06.00 pada 13 Januari 2021, dengan sangat terpaksa, aku menitipkan Aisyah, anak pertamaku pada tetangga depan rumah. Sebagai seorang perantau, kami memang tidak memiliki saudara di sini. Tetangga itulah yang sangat dekat dengan kami.
Detik-detik menjelang keberangkatan, aku berusaha tidak menanggis. Aku harus tetap tegar, meski sebelumnya tidak pernah berpisah dengan anakku.
“Kak, Ayah Bunda mau bawa adik berobat dulu. Insyaalah nggak lama. Kakak bantu doa ya, Nak.”
“Tapi cuma sebentar kan, Bun?”
“Iya, Kak. Nggak akan lama. Kakak yang pandai ya, tinggal sama tante.”
Serta merta aku menahan diri agar tidak meneteskan air mata. Kupandangi Aisyah yang berdiri di depan pintu pagar depan rumah menatap keberangkatan kami.
Sekitar pukul 15.00 pada hari itu juga, kami telah tiba di RS Hermina Depok. Alhamdulillah perjalanan lancar. Kami disambut oleh PIC, mengurus berkas, dan memberitahu letak rumah singgah yang jaraknya sangat dekat dengan rumah sakit. Tidak hanya berdua dengan suami, aku juga didampingi oleh ibu mertua yang datang langsung dari Palembang.
Keesokan harinya, Abidzar mulai melakukan serangkai tes. Mulai tes darah, urine, foto toraks, serta swab. Pada tanggal 15 Januari 2021, hari Jumat ketika itu, Abidzar masuk rawat inap.
“Bu, sebentar lagi ada dokter anestesi yang akan visite, buat menjelaskan prosedur operasi besok.”
“Baik, Sus.” jawabku.
Di dalam ruangan, Abidzar tampak ceria bermain dan bercanda terus. Sama sekali tidak ada keresahan di dalam dirinya, berbeda denganku.
“Mau tluk kontenel,” serunya riang. Abidzar ingin truk kontainer rupanya.
“Iya, Nak. Nanti Ayah belikan, ya.”
Bukan sebuah janji belaka. Saat itu juga, suamiku ke luar untuk membelikannya. Beruntung, ada penjual mainan di depan rumah sakit. Begitu senang dan bahagianya anakku ketika melihat ayahnya datang dengan membawa mainan yang dia kehendaki.
“Bun, tatak di ana? Adik mau pulang mau ketemu kakak.”
“Iya, sebentar lagi adik ketemu kakak. Adik berobat dulu biar nanti cepat sembuh, ya.”
Aku dan suami bergantian mengendongnya agar dia tidak merengek minta pulang. Sore sekitar pukul 17.00 dokter anestesi datang menemui kami untuk menjelaskan prosedur dan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.
“Dok, biasanya berapa jam operasinya berlangsung?” tanya suamiku.
“Sekitar 3 – 6 jam. Tergantung kasus. Kami tidak bisa memastikan.”
Keesokan harinya, pada pukul 07.00, Abidzar sudah mandi sekaligus dibilas dengan menggunakan cairan steril yang disiapkan oleh suster. Dia kemudian memakai baju serba putih. Suster mengantar kami menuju ruangan Dokter Jantung Anak. Di sana, Abidzar melakukan echo ulang guna memastikan jantungnya.
“Bu, ini adik bocor jantung tipe VSD 11 mm, ya.”
“Iya, Dok. Echo terakhir 10 mm.”
Sekitar pukul 08.00, suster memanggil kami agar menuju ruang operasi. Dokter anestesi yang kami temui kemarin sudah ada di sana. Dokter Rindu. Hanya aku yang boleh masuk untuk menemani Abidzar sebelum dibius.
“Bu, saya suntikkan dulu obat biusnya. Silakan anaknya dipeluk dan dicium sebelum saya bawa menuju ruangan operasi.”
Tanpa membuang waktu terlalu lama, maka kucium dan kupeluk anakku sambil berbisik ditelinganya, “Kuat ya, Nak. Ayah, Bunda, dan nenek, menunggumu di depan. Kami nggak akan pernah meninggalkan adik. Adik harus kuat dan sehat lagi, ya. Nanti kita bisa bertemu Kakak Aisyah lagi, main lagi.”
Tidak lama kemudian, efek bius pun bereaksi. Sebelum benar-benar tertidur, Abidzar memanggilku, “Bunda….” Dia lantas digendong masuk ruangan operasi. Kami menunggu di depan ruangan selama 3 jam lamanya.
“Pak, Bu, operasi Abidzar berjalan lancar. Bapak Ibu langsung menuju ruangan ICU.”
Kami pun segera bergegas mengikuti instruksi tersebut. Suster mempersilakan kami masuk dan melihat kondisi Abidzar. Begitu banyak alat yang terpasang di badan mungil Abidzar. Di dadanya, ada dua selang berukuran besar dan kecil. Alat-alat yang terpasang telah tersambung pada monitor yang diletakkan di sampingnya. Pada mulutnya, kini telah terpasang selang ventilator dan pada tangan mungilnya terdapat jarum infus. Kupandangi anakku yang terlihat sangat tidak berdaya.
Malam hari, sekitar pukul 20.00 Abidzar panas tinggi. Heart rate mencapai 220.
“Pak, Bu, kami harus melakukan tindakan kejut jantung untuk Abidzar.”
“Baik, Dok. Tolong lakukan yang terbaik. Kami menyerahkan semuanya kepada dokter dan tim medis.”
*
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa kami harus melalui ketetapan ini. Abidzar harus menjalani kejut jantung karena jantungnya berdetak lebih cepat dari seharusnya, sekitar 180-210 bpm.
Hingga seminggu berlalu, kondisi Abidzar belum juga membaik. Dalam seminggu ini, dia telah dua kali mendapatkan kejut jantung. Abidzar masih berada di ruang ICU dengan kondisi tidak sadar. Sungguh, aku tidak pernah membayangkan ini semua akan terjadi. Dalam harapku, setalah Abidzar menjalani operasi, maka dia akan sembuh dan sehat. Bukan justru seperti ini.
“Bun, apa ayah pulang dulu aja, ya? Kasihan Aisyah. Dia sudah terlalu lama kita tinggal.”
Sudah dua minggu kami berada di Depok. Sudah selama itu pula suamiku meninggalkan pekerjaannya. Kondisi Abidzar belum ada perubahan. Dia masih membutuhkan ventilator untuk membantunya bernapas.
“Iya, Yah. Nggak apa kalau mau pulang. Biar aku yang urus adik di sini.”
Terus terang, kami lelah. Hari demi hari yang kami saksikan hanyalah Abidzar yang terbujur tidak berdaya. Tidak ada lagi celoteh yang biasa kami dengar sebelumnya. Tidak ada lagi tawa yang berderai dari mulut mungilnya.
“Sekarang aku sudah ikhlas kalau memang adik mau duluan diambil Allah. Kasian dia harus lama menahan rasa sakit.” Kalimat itu terucap dari bibir suamiku. Meski ada sesuatu yang sakit dalam hatiku, namun aku pun telah merasakan kerelaan yang sama.
“Aku juga sudah ikhlas kalau memang itu takdir Allah dan itu yang terbaik buat adik,” ucapku sembari menyeka air mata.
Aku benar-benar tidak kuasa melihatnya terbaring koma hingga sebulan lamanya. Aku ingin melepaskan rasa sakitnya, aku ingin dia mendapatkan kesehatannya.
*
Suamiku pulang ke Pandaan, Pasuruan. Tinggalah aku dan ibu mertua yang tinggal di Depok.
Sore hari, ketika jam besuk tiba, kubisikan di telingga anakku. ”Nak, nggak apa-apa kalau adik mau pergi duluan. Bunda sama Ayah sudah ikhlas, Nak. Bunda sama Ayah tetap bangga sama adik. Adik anak hebat, adik anak kuat.”
Begitulah….
Pasca operasi, kondisi Abidzar bukannya semakin membaik, Tapi malah semakin memburuk. Abidzar mengalami sepsis, sebuah komplikasi berbahaya akibat infeksi. Dia juga mengalami gagal organ. Ginjalnya tidak berfungsi, Dimana cairan yang masuk tidak sebanding dengan cairan yang keluar. Badan Abidzar bengkak penuh cairan. Kini, paru-parunya sering kolaps atau tidak mengembang dengan sempurna karena terlalu banyak udara sehinga ia harus melakukan water sealed drainage (WSD) yaitu tindakan medis bertujuan mengeluarkan cairan atau udara dari rongga dada melalui selang.
Ya Allah…. Bertubi-tubi diagnosis datang yang aku sendiri tidak mengerti bahasa medisnya. Aku tidak lagi mampu mempelajari segala hal yang beruntun terjadi secara tiba-tiba pada anakku. Yang aku tahu, dia kini sedang terbujur tidak berdaya.
Abidzar menjadi sering kejang. Entah sudah berapa kali dia mengalaminya. Dokter pun mencurigai otaknya kini juga bermasalah. CT-Scan pun dilakukan dan benar adanya. Otaknya bengkak sehingga berpengaruh ke saraf-saraf lain. Dia di vonis tidak bias melihat, Telinganya gak bias mendengar.
Hatiku semakin hancur. Ya Allah….
Nak, begitu besar cobaanmu. Kenapa kamu yang masih kecil sudah harus merasakan sakit begitu banyaknya?
*
Hari demi hari kulalui dengan berserah. Memasrahkan terhadap Sang Kuasa atas semua yang telah terjadi. Hari berganti minggu, minggu pun berganti bulan. Ya, sudah lebih dari satu bulan anakku terbaring di ruang ICU.
“Bu, Abidzar saturasinya turun. Kami meminta persetujuan untuk melakukan inkubasi lagi. Ibu tidak perlu datang ke rumah sakit. Nanti kami kabari jika sudah selesai.”
Telepon pada jam dua belas tengah malam itu membuatku tidak lagi bisa melanjutkan tidur dengan tenang. Berulang kali aku berusaha memejamkan mata, tapi gagal. Aku ingin melihat Abidzar saat itu juga! Aku ingin melihat langsung kondisinya. Namun, apalah daya. Aku harus menunggu hingga keesokan paginya.
Sekitar jam 8 pagi, aku lantas menuju ke ruang ICU. Namun, aku baru diizinkan masuk saat jam besuk tiba. Sekali lagi aku harus menunggu.
Setelah tiba waktu besuk, aku pun diizinkan masuk. Kupandangi anakku dalam diam. Kulihat monitor disebelahnya yang menunjukkan saturasi di angka 100. Alhamdulillah.
“Ibu harus kuat. Semangat terus. Yakin, Bu, mukjizat itu ada. Buktinya, Abidzar bisa bertahan. Kalau Ibu down, nanti Abidzar tambah sedih. Ikatan batin itu kuat, Bu.”
“Iya, Sus. Saya harus kuat. Saya harus bisa melewati semua ini. Pasti akan ada pelangi setelah badai, kan, Sus?”
Suster itu tersenyum seraya menepuk pundakku. Sebuah penguatan dikala ketidakberdayaanku saat itu.
Berhari-hari kemudian, pelan-pelan kondisi Abidzar membaik. Bukan, dia bukan lantas bisa duduk seperti sedia kala. Abidzar masih berbaring, juga masih memakai ventilator di mulutnya. Hanya saja, dia sudah diperbolehkan minum susu melalui Naso Gastric Tube (NGT). Sebuah selang yang dimasukkan melalui hidung hingga menuju lambung. Berati Abidzar Ketika itu 9 kg.
Setelah dua bulan lamanya berada di ICU, pihak rumah sakit menghubungiku bahwa limit BPJS sudah habis. Namun, beruntungnya pihak rumah sakit bekerja sama dengan kitabisa.com. Kami lantas membuka donasi untuk biaya pengobatan Abidzar selanjutnya. Semua telah diurus oleh tim kitabiasa.com yang datang langsung kerumah sakit.
Berikutnya, dokter mencoba melepas ventilator sebagai alat bantu napas Abidzar. Namun, sayangnya dia ternyata kolaps hingga harus diinkubasi lagi dan memakai ventilator lagi.
“Bu, pemakaian ventilator yang terlalu lama akan berakibat buruk pada Abidzar. Jadi, jalan satu-satunya yang harus kita lakukan adalah trakeostomi.”
“Trakeostomi dok?”
“Ya, trakeostomi adalah tindakan pembedahan untuk membuat lubang di trakea atau batang tenggorokan agar dapat dipasang tabung pernapasan. Tujuan utama prosedur ini adalah memudahkan masuknya oksigen ke paru-paru, sehingga memudahkan pasien untuk bernapas dan paru-parunya tidak sering kolaps.”
Aku tercengang sesaat. Entah berapa kali badanmu harus dibedah, Nak. Sekali lagi, hatiku hancur berkeping-keping. Aku lantas meminta waktu pada dokter untuk membicarakannya dulu dengan suami. Aku tidak mungkin memutuskan ini sendiri.
“Yah, adik harus melakukan tindakan trakeostomi untuk jalur napasnya. Kata dokter semakin cepat semakin baik.”
Hening sesaat. Aku menarik napas panjang. Mencoba tegar.
“Sekarang ayah sudah ikhlas, Bun, adik mau diapain semua sudah takdir Allah, Insyaallah hari Sabtu nanti ayah datang bersama Aisyah dan Bapak kesana.”
*
Sesuai yang direncanakan, pada Sabtu pagi, suamiku tiba di rumah sakit. Kami menemui Dokter Noufik, dokter ICU Anak. Beliau menjelaskan sekali lagi apa yang dialami Abidzar. Tindakan trakeostominya akan dilakukan bersama dokter THT. Kami tidak punya pilihan lain, selain menyetujui tindakan trakeostomi untuk Abidzar. Itulah satu-satunya jalan untuk membuat anakku lebih baik. Kami percayakan sepenuhnya kepada tim dokter.
“Pak, Bu, ini bisa dibilang tindakan berbahaya karena berhubungan dengan napas. Pendarahan dan gagal napas bisa saja terjadi. Kita harus siap dengan resiko terburuk itu.”
Aku menghela napas. “Kami sudah ikhlas, Dok.”
*
Minggu sore, suami, Aisyah, dan bapak pulang ke Pandaan. Tinggalah aku dan ibu buat mengurus keperluan abidzar di rumah sakit. Pembedahan Abidzar dilakukan di ruang ICU karena tidak memungkinkan untuk dibawa ke ruang operasi karena terlalu banyak alat-alat yang menempel di badan dan melihat kondisinnya tidak memungkinkan. Sekitar 1 jam Dokter THT melakukan tidakan pembedahan trakeostomi di Rumah Sakit Hermina depok.
“Semua berjalan lancar. Kemungkinan terburuk pasti ada. Nanti kita ovservasi lagi. Jujur, Abidzar adalah pasien anak pertama kami yang menggunakan trakeostomi.”
“Bagaimana suara Abidzar nanti, Dok? Apakah bisa normal lagi? Apakah bisa makan dan minum lewat oral, Dok?”
“Nanti kita cek lagi, tapi pita suaranya mengalami kelumpuhan dimana dia tidak bias bicara lagi. Itu biasa terjadi karena terlalu lama menggunakan ventilator, Bu. Sabar, ya. Pasti ada keajaiban. Saya yakin Ibu kuat.”
Aku menarik Dokter Indah ke dalam pelukanku seraya menagis tersedu-sedu.
*
Dua minggu setelah menggunakan trakesotomi, Abidzar mulai menunjukan kemajuan. Dia sudah bisa disapih dari ventilator ke oksigen biasa. Tubuhnya mulai aktif bergerak walau masih berbaring. Setiap hari, aku dilatih oleh suster tentang cara merawat trakeostomi, suction, ganti tali, kasa, serta membersihkan area leher. Sementara itu, terapis mengajariku bagaimana caranya agar dahak tidak menumpuk di paru-paru Abidzar.
Alahamdulillah, setalah hampir 3 bulan rawat inap, Dokter Noufik mengizinkan Abidzar pulang. Namun, sebelum itu, Abidzar akan pindah rawat dulu dari RS Hermina Depok ke RSSA malang. Tim dokter memutuskan mengunakan jalur udara pada proses pindah rawat itu.
Tibalah hari yang dinanti. Kami pulang dengan rasa haru. Aku berpamitan pada semua perawat ICU, para dokter, serta staf rumah sakit yang selama ini membantu dalam segala hal. Kami diantar oleh tim medis profesional hingga sampai di RSSA malang.
Semua telah disiapkan dengan baik. Abidzar diterima oleh RSSA dan Ditempatkan di ruang HCU. Dua minggu kemudian, setelah Abidzar bisa stabil tanpa bantuan tabung oksigen, barulah kami diizinkan pulang ke rumah. Abidzar masih menggunakan NGT sebenarnya. Tidak mengapa. Itu tidak mematahkan semangatku untuk segera bisa pulang ke rumah.
Apa yang aku pelajari selama di rumah sakit, bisa aku terapkan dengan baik di rumah. Aku mengerti cara uap, suction, ganti kasa, juga ganti tali di lehernya agar kanul tidak terlepas. Aku merawat Abidzar dengan telaten, berharap ia lekas sembuh dan pulih seperti dulu lagi.
Alhamdulillah, setelah 2 bulan berlalu, pada akhirnya Abidzar bisa lepas NGT. Dia bisa makan bubur saring dan minum susu pakai sendok. Awalnya memang berat badannya turun sebanyak 2 kg. Namun, aku pantang menyerah. Selalu kukatakan padanya, “Anak baik, anak pintar, makan nasinya dikunyah dan ditelan, ya. Minum susunya pakai sedotan, Nak. Kayak dulu lagi.”
Sebulan kemudian, Abidzar telah bisa makan nasi dan minum susu dengan sedotan. Pelan-pelan, berat badanya mulai naik.
Kami rutin melakukan fisioterapi. Pelan-pelan, Abidzar kemudia bisa duduk sendiri. Kontrol rutin dengan dokter masih terus kami lakukan karena Abidzar ada epilepsi. Setiap 6 bulan sekali, Abidzar di echo. Kami rutin menganti alat tarkeostominya (kanul) dimana itu dilakukan diruangan operasi dan diteropong untuk cek saluran napasnya, apakah sudah bisa dilepas atau belum.
Bulan November 2021 abidzar kembali melakukan Ct-scan di RSSA buat melihat saluran nafasnya dan yang lebih mengejutkan dia mendapat diagnosa baru Microcephaly, Brain atrophy dan adanya jaringan keloid yang menutup jalur nafas.
Sayangnya, lagi-lagi kami harus menambah stok sabar. Ada jaringan (keloid) yang tumbuh di bawah pita suara Abidzar. “Itu harus diambil dan dipasang alat lain yang namanya T-tobe sebagai penahan agar jaringan tidak tumbuh lagi. Itu dipasang sekitar 1,5 tahun karena umur segitu jaringannya sudah matang dan kemungkinan tidak tumbuh lagi.”
*
Menggunakan trakeostomi ternyata menghambat perkembangan bicara Abidzar karena udara yang masuk langsung keparu-paru tanpa melewati pita suara. Untuk saat ini, Abidzar telah mampu berucap, ‘Aaa, mama, ayah, mau.’ Bagiku, itu sudah lebih dari cukup. Aku yakin, setelah trakeostomi dilepas, Abidzar pasti akan lancar berbicara.
Fisioterapi masih lanjut hingga sekarang. Kini, Abidzar sudah bisa ngesot. Kalau menginkan sesuatu, dia menunjuk ke arah yang dia mau. Abidzar sebenarnya sudah bisa berdiri sendiri. Tapi, hemiplegia—tubuh sisi kirinya lemah—mengakibatkan mudah terjatuh. Terapis menyarankan Abidzar menggunakan sepatu khusus. AFO namanya.
Keluarga besar nun jauh di sana selalu mendoakan dan terus memberi semangat agar kami bisa melewati semua ini. Alhamdulillah, kami hidup di lingkungan yang menerima dan mendukung kondisi kami sekarang. Mereka akan sigap membantu di saat kami membutuhkan uluran tangan.
Aku percaya, akan ada hikmah dalam cerita. Aku percaya bahwa setiap masalah akan selalu bersanding dengan solusi. Kita hanya perlu bersabar menunggu waktu itu tiba. Abidzar telah mengubah kami untuk menjadi lebih baik, menjadi lebih sabar, menjadi lebih ikhlas, dan lebih dekat dengan Sang Pencipta.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, tapi kita harus berusaha semampunya. Apapun yang akan terjadi kelak, jangan pernah menentang takdir. Jalan ini masih sangat panjang yang aku pun tidak tahu ujungnya di mana. Apapun yang terjadi, aku tetap bersyukur, kami sudah diberi kesempatan untuk menjaga dan merawat Abidzar.
Hari ini, aku bercerita tentang Abidzar kepada dunia. Aku bercerita betapa tangguhnya dia menghadapi rasa sakit dan berjuang untuk hidup. Itu bukan langkah mudah yang mungkin tidak semua mendapatkan kesempatan untuk hidup kembali Kami pasti bisa melalui semua ini.
Ucapan terima kasih kami yang tak terhingga kepada tim dokter serta staf di RS Hermina Depok dan RSSA malang yang telah menyertai kesembuhan Abidzar. Terima kasih pula untuk saudara, teman-teman, serta tim kitabisa.com yang telah memberikan support moril maupun materil. Terima kasih juga untukmu yang membaca kisah ini. Doakan Abidzar agar selalu sehat dan sembuh seperti sedia kala. Aamiin.